Buku itu terbit delapan bulan setelah vonis — dan peluncurannya digelar di aula besar kantor Abisatya Besari, di hadapan lima ratus undangan dan kamera-kamera dari seluruh negeri.
Sampulnya sederhana: dua nisan sejajar di bawah pohon rindang, dengan judul putih bersih — **'Tiga Puluh Satu Tahun: Sebuah Cerita tentang Kebenaran'** — dan nama penulis di bawahnya yang membuat banyak orang membaca dua kali: *Paramitha Arjanti, Bramantyo Wirawan, Gunawan Abisatya, dan suara-suara dari kedua keluarga.*
Acara itu dibuka bukan oleh sambutan pejabat, melainkan oleh Mitha sendiri — berdiri di panggung yang sama tempat ia dulu diumumkan sebagai pemenang kompetisi, dengan satu buku di tangannya dan satu keluarga besar duduk di barisan depan.
'Buku ini lahir dari satu kebiasaan lama keluarga kami,' katanya memulai. 'Kebiasaan yang diturunkan almarhumah ibu saya: membaca cerita sampai habis sebelum menilai. Tiga puluh satu tahun, negeri ini membaca cerita kami dalam potongan-potongan — satu serial di tahun sembilan puluhan, satu artikel viral di tahun kemarin, satu persidangan di televisi. Tidak ada yang pernah membacanya utuh. Buku ini adalah cerita yang utuh. Dengan semua sisinya: pahlawannya, orang-orang bersalahnya, orang-orang pengecutnya — dan orang-orang yang berubah di tengah jalan, yang menurut saya adalah karakter paling penting dari semuanya.'
Ia menatap barisan depan — ke Bram, yang duduk di antara Saraswati dan Ratna. 'Salah satu penulis buku ini pernah menjadi orang yang paling saya takuti di dunia. Hari ini dia duduk di barisan keluarga saya. Kalau buku ini hanya mengajarkan satu hal, biarlah ini: tidak ada cerita manusia yang selesai di bab tengahnya. Selalu ada halaman berikutnya — selama ada orang yang berani terus membalik halamannya.'
Peluncuran itu ditutup dengan pembacaan satu bab oleh Hendra Kusuma — lelaki delapan puluh dua tahun itu berdiri di podium dengan tongkatnya dan membacakan bab tentang Larasati di redaksi dengan suara yang sesekali bergetar, di depan lima ratus orang yang tidak satu pun bergerak. Dan saat ia menutup bukunya, ia tidak mengucapkan terima kasih — ia mengucapkan satu kalimat yang kemudian dicetak ulang di semua berita:
'Empat puluh tahun saya jadi redaktur. Saya pernah menolak naskah besar, saya pernah menerbitkan berita yang mengguncang negara. Tapi hari ini adalah hari paling membanggakan dalam karier saya: hari ketika sebuah cerita akhirnya selesai ditulis — dengan benar, oleh orang-orang yang benar.'
Pekan-pekan setelahnya berjalan seperti mimpi yang tidak berani dipercaya siapa pun. Buku itu habis cetakan pertamanya dalam sembilan hari dan naik ke peringkat satu daftar buku terlaris nasional — dan bertahan di sana berbulan-bulan, sampai penerbitnya berhenti menghitung cetak ulang dan mulai menghitungnya dalam satuan puluhan ribu. Surat-surat pembaca mengalir ke lantai 19 dalam jumlah yang membuat Rangga harus menambah satu staf khusus: surat dari jurnalis-jurnalis muda yang memutuskan bertahan di profesinya karena Larasati, surat dari anak-anak yang orang tuanya terlibat kasus lama dan merasa akhirnya ada yang menuliskan pengalaman mereka, surat dari seorang guru di kota kecil yang membacakannya bersambung untuk murid-muridnya tiap Jumat. Tiga kampus menjadikannya bacaan wajib mata kuliah etika media. Dan satu surat — yang dibaca Bram di kamarnya sampai tiga kali dan tidak diceritakannya ke siapa pun selama seminggu — datang dari seorang remaja tujuh belas tahun: *'Kak Bram, ayahku dipenjara tahun lalu dan semua orang membenciku karenanya. Aku membaca bab tentangmu di lobi itu. Terima kasih sudah menunjukkan bahwa anak seperti kami bukan kelanjutan dari kesalahan orang tua kami. Aku memutuskan tidak akan membenci siapa pun. Susah, tapi aku coba.'* Bram membalas surat itu dengan tangan — dua halaman penuh — dan mengakhiri balasannya dengan kalimat yang dulu tidak pernah diucapkan siapa pun kepadanya: *'Kalau suatu hari kamu butuh orang yang turun ke lobi, hubungi aku. Aku akan datang.'*
***
Tiga minggu setelah peluncuran, satu paket tiba di rumah besar dari alamat yang tidak disangka: lembaga pemasyarakatan.
Isinya surat — satu halaman, tulisan tangan yang rapi dan tua, ditujukan kepada 'Keluarga Abisatya dan Keluarga Wirawan'. Darmadi Sutanto.
*'Buku kalian sampai ke sel saya minggu lalu — lewat jalur resmi, jangan khawatir, ada sanak saudara penjaga yang membaca cerita kalian dan merasa saya berhak membacanya juga. Saya membacanya tiga kali. Tidak ada yang bisa saya bantah, dan ada banyak yang baru saya ketahui — termasuk bagian-bagian tentang dua anak yang tumbuh membawa nama keluarga masing-masing dengan cara yang jauh lebih baik dari yang pernah saya bayangkan.*
*Saya tidak menulis untuk minta maaf — kalimat itu sudah saya ucapkan di persidangan, dan permintaan maaf yang diulang-ulang hanya mengurangi nilainya. Saya menulis untuk satu hal saja: terima kasih telah menulis saya sebagai manusia, bukan sebagai monster. Kalian bisa saja menulis sebaliknya — dan tidak ada yang akan menyalahkan kalian. Tapi kalian menulis bahkan saya dengan adil. Itu pelajaran terakhir yang saya terima dari keluarga kalian: bahwa kebenaran yang paling sulit bukanlah kebenaran tentang musuh kita, melainkan kebenaran yang tetap adil kepadanya.*
*Bingkai tulisan Larasati itu sekarang ada di dinding sel saya — atas izin khusus, satu-satunya barang pribadi yang saya pertahankan. Setiap pagi saya membacanya: yang bisa menghancurkanmu hanyalah yang lebih baik darimu. Butuh waktu seumur hidup bagi saya untuk benar-benar memahaminya. — D.S.'*
Surat itu dibacakan Gunawan di makan malam keluarga, dan tidak ada yang berkomentar lama — sampai Arka, yang sudah mulai bisa berkomentar dengan bahasa bayinya sendiri, mengoceh panjang dari kursi makannya seolah ikut memberi pendapat, dan satu meja tertawa.
'Dia juga pembaca buku itu,' kata Gunawan, melipat suratnya. 'Dan sepertinya, dari semua pembacanya, dialah yang paling membutuhkannya.'
Surat itu kemudian disimpan Mitha di kotak kayu mamanya — di lapisan yang berbeda dari surat-surat lain. Bukan karena isinya paling penting, tapi karena ia adalah bukti dari satu hal yang selalu dipercaya keluarga ini: bahwa bahkan orang yang paling jauh tersesat pun, kalau diberi kebenaran yang utuh dan keadilan yang jujur, masih bisa menemukan jalan pulang ke halaman terakhirnya sendiri. Dan buku itu — buku yang mereka tulis bersama dengan semua luka dan semua keberanian — ternyata sudah melakukan tugasnya yang paling dalam: bukan menghukum orang yang salah, tapi menyelamatkan satu pembaca yang tersisa dari kebenciannya sendiri.