Surat itu datang di pagi yang biasa — amplop putih bersih, tulisan tangan yang langsung dikenali Mitha sebelum ia membukanya, perangko dari kota lain.
Mitha membawanya ke beranda dengan perasaan yang sulit dinamai. Setahun lebih tanpa kabar telah mengubah nama Indra dari luka menjadi babak yang sudah selesai — dan surat ini, entah kenapa, terasa seperti catatan kaki dari babak itu: tidak mengganggu, hanya melengkapi. Ia menyeduh tehnya dulu sebelum membukanya — kebiasaan yang dipelajarinya dari semua badai yang sudah lewat: kabar apa pun lebih baik dibaca dengan tangan yang hangat.
Sudah lebih dari setahun sejak Indra menyerahkan ponsel lamanya di lantai 21 dan berbalik pergi tanpa menunggu jawaban. Sejak itu tidak ada kabar — dan Mitha tidak mencarinya, karena beberapa pintu memang sebaiknya tetap tertutup setelah ditutup dengan benar. Tapi surat ini datang, dan setelah ragu sebentar, Mitha membacanya di beranda dengan teh paginya.
*'Mitha. Maaf kalau surat ini mengganggu — ini yang terakhir, janji. Aku menulis bukan untuk membuka apa-apa, hanya untuk menutup satu halaman terakhir dengan benar, dari pihakku.*
*Setahun terakhir aku menjalani terapi. Psikologku — dan aku masih merasa aneh mengatakannya, tapi sudah kubiasakan — bilang aku menghabiskan hidupku mengumpulkan orang dan barang untuk menutupi satu lubang yang tidak pernah kuberi nama. Lubang itu punya nama sekarang, berkat kerja setahun: aku tidak pernah merasa cukup untuk siapa pun, jadi aku memastikan tidak ada satu pun orang yang cukup berarti untuk meninggalkanku duluan. Kamu pergi bukan karena ada lelaki lain, Mit. Kamu pergi karena aku tidak pernah benar-benar hadir. Butuh setahun dan satu orang profesional untuk membuatku mengakui apa yang kamu katakan dalam satu kalimat di malam itu: aku belum selesai dengan diriku sendiri.*
*Aku membaca buku kalian. Tiga kali — dan aku tidak menyangka akan menulis itu tentang buku yang di dalamnya aku hanya jadi figuran yang tidak menyenangkan. Tapi justru itu yang kuhargai: kalian menulis bahkan orang sepertiku dengan adil. Dan satu hal yang kupelajari dari cerita Bram — lelaki yang dulu kukira sekutu — adalah bahwa luka yang tidak dirawat akan mencari korbannya sendiri. Aku merawat lukaku sekarang. Terlambat, tapi kata psikologku, tidak pernah ada kata terlambat untuk halaman berikutnya. Kupikir kamu akan senang mendengarnya, mengingat itu kalimatmu di peluncuran buku.*
*Kabar lain: perusahaanku baik-baik saja. Aku menyerahkan operasional harian ke timku dan mengambil peran yang lebih kecil — ternyata hidup tidak runtuh kalau aku tidak memegang semuanya. Siapa sangka.*
*Kabar terakhir, dan ini yang paling ingin kuceritakan: aku mulai belajar menjadi orang yang hadir. Untuk diriku sendiri dulu. Mungkin suatu hari untuk orang lain — tapi tidak buru-buru. Ada seseorang yang kukenal di komunitas terapiku, dan untuk pertama kalinya aku tidak sedang mengumpulkan apa-apa. Aku sedang belajar. Pelan-pelan.*
*Doakan Arka tumbuh jadi orang yang berani seperti kedua kakek-neneknya. Dan terima kasih, Mit — untuk sembilan bulan yang baik di antara yang buruk, dan untuk pelajaran yang harganya mahal tapi tidak akan pernah kusesali: cinta yang benar tidak pernah perlu membuktikan dirinya dengan kepemilikan.*
*Jangan balas kalau tidak perlu. Aku sudah berdamai. — Indra.'*
Mitha membaca surat itu dua kali, lalu melipatnya pelan dan menatap taman sebentar. Ada banyak hal yang pernah dirasakannya pada nama Indra — kecewa, marah, luka — dan semuanya sudah lama selesai. Yang tersisa ternyata hanya satu: lega. Bukan lega karena pintunya tertutup, tapi lega karena orang di seberang pintu itu akhirnya menemukan jalannya sendiri.
Dan sore itu, ia melakukan satu hal yang tidak pernah dibayangkannya akan dilakukannya: membalas. Pendek, tulus, tanpa membuka apa-apa:
*'Indra. Terima kasih sudah menulis. Aku senang — sungguh-sungguh — mendengar kamu menemukan namanya untuk lubang itu. Itu bagian tersulitnya; sisanya tinggal kesabaran. Doakan juga untuk dirimu sendiri: orang yang sedang belajar hadir tidak perlu doa banyak-banyak, hanya perlu terus datang ke halaman berikutnya. Kami baik di sini. Arka tumbuh dengan keras kepala seperti semua lelaki dalam cerita ini. Jaga dirimu, Indra. Sampai jumpa di kehidupan yang lebih baik untuk kita berdua — di jalur masing-masing. — Mitha.'*
Surat itu dikirim sore itu juga, dan tidak pernah ada surat berikutnya — karena dua orang yang benar-benar selesai tidak perlu terus saling menulis. Tapi Mitha menyimpan surat Indra itu di kotak kayu mamanya, di antara surat empat halaman dan foto dua orang tuanya — bukan karena cinta yang lama, tapi karena kotak itu adalah kotak untuk semua halaman penting hidupnya, dan halaman Indra, dengan segala sakitnya, adalah halaman yang mengantarkannya ke semua halaman setelahnya.
Malam itu ia bercerita ke Danu — karena di rumah ini tidak ada lagi yang disimpan sendiri — dan Danu mendengarkannya sampai habis, lalu berkata: 'Bagus. Aku selalu berharap lelaki itu menemukan jalannya. Bukan karena aku menyukainya — tapi karena orang yang menemukan jalannya tidak akan pernah lagi tersesat ke arah orang lain.'
'Bijak sekali, CEO-ku.'
'Aku belajar dari istriku. Dia ahli menemukan jalan untuk orang-orang tersesat. Tanyakan Bram.'
Mitha tertawa, lalu bersandar ke bahu suaminya di beranda malam itu. 'Aku tidak menemukan jalan untuk mereka, Danu. Aku cuma tidak menutup pintu. Ada bedanya — orang yang menemukan jalannya sendiri akan terus berjalan; orang yang ditunjukkan jalannya akan terus bertanya arah. Indra, Bram, bahkan Darmadi... mereka semua berjalan sendiri pada akhirnya. Kita cuma memastikan pintunya tidak dikunci dari dalam.'
'Itu,' kata Danu, mengecup puncak kepalanya, 'adalah kalimat paling bijak yang pernah keluar di beranda ini. Dan beranda ini sudah mendengar banyak kalimat bijak dari Gunawan Abisatya, jadi itu bukan pujian sembarangan.'
'Akan kuteruskan ke ayah mertuaku. Dengan bangga.'
'Jangan. Dia akan mengklaimnya sebagai kutipannya sendiri di makan malam besok. Aku mengenal ayahku.'
Dan mereka tertawa berdua di beranda itu, dengan surat dari masa lalu yang sudah terlipat rapi di atas meja — bukti bahwa bahkan halaman-halaman yang paling sulit pun, pada akhirnya, bisa ditutup dengan tulisan tangan yang tenang.