Gunawan Abisatya genap delapan puluh tahun di tahun ketujuh Arka — dan pestanya, sesuai permintaannya yang tertulis dan diancam akan dimasukkan ke surat wasiat, digelar 'sederhana, hangat, dan tanpa pidato yang lebih dari tiga menit, kecuali pidato Bapak sendiri yang bisa sepanjang yang Bapak mau'.
Taman rumah besar itu malam ini penuh — lebih penuh dari semua pesta yang pernah digelar di sana. Ada keluarga inti: Danu, Mitha, dan Arka yang sudah tujuh tahun (dengan satu adik kecil berusia tiga tahun — Kirana, putri kedua Danu dan Mitha, yang lahir di tahun ketiga dan menjadi pusat gravitasi baru keluarga itu). Ada Bisma, Dara, dan Lara yang sudah lima tahun. Ada Bram dan istrinya, Saraswati, dan Ratna yang sudah sembilan puluh... tidak — delapan puluh dua tahun dan masih terbang Melbourne–Jakarta dengan disiplin seorang marinir. Ada Anya dan Rangga dengan dua anak kembar mereka. Ada Om Aji dan Pa Handi. Ada Bu Ratih yang sudah pensiun. Ada tim lantai 19 yang sudah berlipat ganda jumlahnya. Dan ada — lewat sambungan video dari Bandung, di layar besar yang disiapkan khusus — Hendra Kusuma, delapan puluh sembilan tahun, yang dokternya akhirnya melarangnya terbang untuk alasan apa pun, dan yang menyampaikan ucapan selamatnya dengan suara yang masih keras seperti dulu: 'Delapan puluh tahun, Gunawan! Kamu resmi lebih tua dari seluruh arsip Suara Metropolitan! Dan masih kalah catur dari saya dalam pertandingan terakhir kita!'
'Aku mengalah demi kesehatanmu!' seru Gunawan balik, dan satu taman tertawa.
'Mengalah!' Hendra tertawa sampai batuk dari layar. 'Dengar itu, semuanya! Delapan puluh tahun dan masih tidak bisa mengaku kalah! Baik, Gunawan, baik — tapi dengarkan orang tua yang lebih tua darimu: kita sudah melewati semua yang bisa dilalui manusia. Yang tersisa sekarang cuma menonton anak cucu dan berdebat soal catur. Jadi jangan mati dulu sebelum aku — aku tidak mau repot-repot mencari lawan baru di usia segini.'
'Itu permintaan paling egois yang pernah kudengar,' jawab Gunawan, dan suaranya lembut di akhir. 'Tapi diterima. Jangan mati dulu sebelum aku juga, Hendra. Kita punya perjanjian.'
Malam itu, tamu-tamu datang silih berganti ke kursi lelaki tua itu dengan cerita-cerita mereka masing-masing. Rangga memperkenalkan si kembar — dua anak berusia empat tahun yang langsung menjarah meja kue dengan koordinasi yang membuat Anya bersumpah mereka berkomunikasi telepati. Bu Ratih datang membawa satu foto berbingkai: foto tim penyidiknya di hari penutupan kasus, dengan satu baris tulisan tangannya: *'Untuk Pak Gunawan — dari orang yang pekerjaannya dibuat mudah oleh keluarga yang benar.'* Dan Om Aji, yang duduk di sebelah sahabatnya hampir sepanjang malam, hanya berkomentar sekali di sela keramaian: 'Empat puluh tujuh tahun kita kenal, Pak. Dan ini malam terbaiknya.' 'Malam-malam sebelumnya tidak buruk juga, Ji.' 'Tidak. Tapi malam ini lengkap — semua orang yang kita perjuangkan ada di sini, dan tidak ada satu pun yang kita takuti.'
Pidatonya sendiri — yang sesuai janjinya melewati tiga menit dengan seenaknya — disampaikannya berdiri, dengan tongkat yang lebih sering digenggamnya untuk gaya daripada untuk bertahan, di hadapan semua orang yang hadir:
'Delapan puluh tahun. Bapak sudah melihat segalanya: perusahaan dari satu mesin cetak jadi tiga puluh dua, negeri ini berubah berkali-kali, dan keluarga ini melewati badai yang seharusnya menghancurkannya dua kali. Orang selalu bertanya apa rahasianya. Dan malam ini, karena ini ulang tahun Bapak dan Bapak boleh bicara sepanjang yang Bapak mau, Bapak jawab dengan benar untuk sekali ini.'
Ia menatap satu per satu wajah di hadapannya.
'Rahasianya bukan uang. Uang tidak menyelamatkan apa pun dalam badai kita — kalian semua menyaksikannya. Rahasianya bukan nama besar. Nama besar justru yang mengundang badai. Rahasianya adalah ini, dan hafalkan baik-baik karena Bapak tidak akan mengulanginya di ulang tahun berikutnya—' jeda, tawa tamu, '—rahasianya adalah orang-orang yang menolak pergi. Aji, yang empat puluh tahun menolak pergi dari samping Bapak. Danu, yang menolak pergi dari perusahaan ini saat London jauh lebih nyaman. Mitha, yang menolak pergi dari kebenaran mamanya bahkan ketika seluruh negeri membacanya salah. Bram, yang menolak pergi dari pintu gencatan yang dibukakan untuknya. Dan kalian semua — setiap orang di taman ini — yang di satu titik dalam cerita ini memilih untuk tidak pergi, ketika pergi adalah pilihan yang paling masuk akal.'
Suara lelaki tua itu bergetar di akhir kalimatnya, dan tidak ada satu pun orang di taman itu yang menertawakannya.
'Badai tidak pernah menentukan nasib sebuah keluarga. Yang menentukan adalah: siapa yang masih berdiri di berandanya ketika badai itu lewat. Lihat sekeliling kalian malam ini. Inilah yang tersisa setelah semua badai — dan kalau ini yang tersisa, maka semua badai itu layak.'
Ia mengangkat gelasnya — tangan yang sudah keriput itu terangkat tinggi, dan seratus lebih gelas lain terangkat mengikutinya di seluruh penjuru taman.
'Untuk orang-orang yang menolak pergi. Dan untuk Arka, Kirana, dan Lara — generasi yang tidak akan pernah tahu harga dari beranda tempat mereka berdiri, karena generasi kami sudah membayarnya lunas.'
Malam itu berakhir dengan tarian-tarian kecil di taman, dengan anak-anak yang tertidur di pangkuan orang tua masing-masing satu per satu, dan dengan Gunawan Abisatya duduk di kursi goyangnya di penghujung malam — dikelilingi sisa-sisa pesta, menyaksikan keluarganya membereskan taman sambil tertawa-tawa, dengan Arka yang sudah tujuh tahun membantunya menghitung sisa kue dengan kesungguhan seorang bendahara.
'Kek,' kata Arka tiba-tiba, 'ceritakan lagi tentang Nek Larasati. Yang waktu nulis berita sampai musuhnya jatuh.'
'Kamu sudah dengar cerita itu seratus kali.'
'Seratus satu kalau sekarang.'
Gunawan tertawa, menarik cucunya ke pangkuannya, dan mulai bercerita — untuk keseratus satu kalinya, dengan semangat seperti pertama kali. Karena begitulah cerita-cerita besar tetap hidup: diceritakan ulang, dari kakek ke cucu, sampai kata-katanya menjadi bagian dari darah keluarga itu sendiri.