Di sore yang tenang di akhir pekan itu — sore yang tidak istimewa, yang dipilih justru karena tidak ada acara apa-apa — Danu mengajak Mitha naik ke rooftop kantor yang lama.
Gedung itu sudah banyak berubah. Lantai 19 kini dipenuhi dua divisi, kalimat kuningan finalis 117 masih terpampang di dindingnya, dan lift privat lantai 21 sudah direnovasi dua kali. Tapi rooftop itu tidak pernah berubah: angin yang sama, pemandangan kota yang sama, dan langit yang sore itu mulai berubah ke warna yang selalu menjadi warna mereka berdua.
Mereka berdiri berdampingan di pagar pembatas — tempat yang sama, bertahun-tahun setelah seorang CEO muda yang gugup bertanya pada seorang Head of Planning: *Can we kiss again? Is it possible?*
Angin sore bertiup pelan di antara mereka, membawa bau kota yang beranjak malam — dan untuk beberapa saat keduanya tidak bicara apa-apa, karena ada tempat-tempat yang tidak membutuhkan kata-kata: tempat ini salah satunya, dan selalu begitu sejak sore pertama mereka di sini.
'Kamu ingat apa yang kupikirkan saat pertama kali melihatmu di sini?' tanya Danu.
'Kamu bilang: "Mitha, there you are. What a lovely afternoon." Aku menghafalnya karena itu kalimat paling aneh yang pernah kudengar dari orang asing.'
'Itu bukan kalimat aneh. Itu kalimat seorang lelaki yang baru menemukan seluruh hidupnya berdiri di rooftop sambil minum kopi.'
Mitha tertawa — tawa yang sama yang dulu membuat Danu jatuh cinta untuk kedua kalinya di telepon. Gelang mamanya berkilau di pergelangan tangannya, tertimpa cahaya jingga; di jarinya, cincin ibu mertuanya yang tidak pernah dilepasnya sejak hari lamaran itu.
'Dua puluh tujuh bulan kita kenal sebelum menikah,' kata Mitha pelan. 'Dan rasanya seperti tiga kehidupan. Kehidupan lorong gelap. Kehidupan perang. Dan kehidupan ini — yang paling kusukai dari semuanya.'
'Ada satu hal yang tidak pernah kuberitahukan padamu,' kata Danu. 'Tentang hari pertama aku melihatmu. Bukan di rooftop — jauh sebelum itu. Hari ketika kamu menolak masuk rapat demi menemani nenek yang linglung di lobi.'
'Aku ingat. Kamu bilang kamu melihatnya.'
'Yang tidak pernah kukatakan adalah apa yang kupikirkan hari itu.' Danu menatap kota di bawah mereka. 'Hari itu aku baru beberapa minggu di negeri ini, dipaksa pulang dari hidup yang kubangun sendiri, menunggu ayahku antara hidup dan mati, dan diam-diam bertanya pada diriku sendiri apa gunanya semua ini — kerajaan, nama besar, semuanya. Lalu aku melihat seorang perempuan berhenti di tengah lobi yang sibuk, memapah nenek orang asing, dan menolak masuk rapat demi menemaninya. Dan untuk pertama kalinya sejak kembali, aku berhenti bertanya apa gunanya. Karena kalau di gedung ini ada orang seperti itu, maka gedung ini layak diperjuangkan. Negeri ini layak. Pulang layak.' Ia menatap Mitha. 'Kamu menyelamatkanku jauh sebelum kamu mengenalku, Mitha. Sebelum scarf, sebelum gelang, sebelum lorong itu. Kamu menyelamatkanku di lobi, dengan sebuah kebaikan yang bahkan tidak kamu ingat.'
Mitha diam lama — lalu bersandar ke bahu suaminya, dengan langit jingga membentang di depan mereka seperti lukisan yang tidak pernah bosan mereka pandangi.
'Kamu tahu apa yang akan dikatakan mama kalau dia bisa melihat semua ini?' katanya akhirnya.
'Apa?'
'Dia akan bilang: "Sudah kuduga. Perempuan yang berhenti untuk orang yang tidak bisa memberinya apa-apa tidak akan pernah salah jalan."' Mitha tersenyum. 'Itu kalimat favoritnya. Aku baru mengerti sekarang bahwa beliau tidak sedang memberiku nasihat. Beliau sedang memberiku peta.'
Di bawah mereka, kota mulai menyalakan lampu-lampunya satu per satu — kota tempat dua keluarga pernah berperang tiga puluh satu tahun dan berdamai di satu meja, kota tempat seorang jurnalis menulis kebenaran dan seorang auditor mati untuknya, kota tempat seorang CEO jatuh cinta di lorong gelap dan seorang kakek menggendong cucunya di bawah pohon rindang tempat dua nisan berdiri sejajar.
Di rumah besar di sudut kota itu, malam ini juga, Gunawan Abisatya sedang bermain catur dengan Arka di beranda — dan untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun, tidak mengalah sama sekali, karena cucunya kini mulai bisa mengalahkannya dengan jujur. Kirana tertidur di pangkuan Dara. Lara sedang berdebat sengit dengan Bisma soal aturan main yang dibuatnya sendiri. Dan di dapur, Pa Handi yang sudah delapan puluh tahun menolak pensiun untuk ketiga kalinya tahun ini, dengan alasan yang sama seperti selalu: 'Rumah ini belum selesai saya jaga.'
Dan di rooftop itu, dua orang yang memulai semuanya berdiri berdampingan sampai langit jingga berubah gelap — tidak buru-buru, karena tidak ada lagi yang perlu dikejar, tidak ada lagi yang perlu dimenangkan.
'Kamu cantik,' kata Danu akhirnya, dengan kalimat yang sama yang diucapkannya bertahun-tahun lalu di lorong gelap itu — kalimat pertama yang mengubah segalanya.
Mitha menatapnya, tersenyum, dan untuk pertama kalinya dalam sejarah kalimat itu, ia tidak lari.
'Aku tahu,' jawabnya. 'Kamu sudah memberitahuku setiap hari selama bertahun-tahun. Dan aku akan terus mendengarnya — setiap hari, sampai kita setua Gunawan dan Om Aji, di beranda yang sama, dengan catur yang sama, dengan cerita yang sama yang kita ceritakan ke cucu-cucu kita nanti.'
Dan mereka pulang berpegangan tangan, turun dari rooftop tempat semuanya dimulai, menuju rumah yang menunggu dengan lampunya yang hangat — sementara di atas kota, langit jingga perlahan menjadi malam, dan bintang pertama muncul tepat di atas dua nisan sejajar di bawah pohon rindang, tempat Larasati dan Raka akhirnya beristirahat, berdampingan, selamanya.
TAMAT