"Keluar!"
Suara itu serak, berat, tapi memiliki daya tekan yang membuat Dokter Tirta dan juga dua perawat muda lain di sampingnya langsung mematung. Cizar Mahawira sudah sepenuhnya sadar kembali, hanya dua belas jam sesudah jantungnya sempat berhenti berdetak. Selang oksigen dan monitor EKG masih terpasang di tubuhnya, tetapi pria itu menolak terlihat lemah.
"Tapi Tuan Cizar, kondisi Anda belum sepenuhnya stabil—"
"Aku bilang, keluar," potong Cizar. Sepasang mata elangnya melirik ke arah pintu. Dua pengawal berbadan tegap langsung melangkah masuk, membuat Dokter Tirta terpaksa mengangguk pasrah dan memberi isyarat kepada bawahannya untuk mundur.
Tamara hendak ikut melangkah keluar di barisan paling belakang ketika sebuah suara dingin kembali menginterupsi.
"Kecuali kau, Perawat Tamara Amelia."
Langkah Tamara terhenti. Dia berbalik perlahan, menjumpai tatapan Cizar yang terkunci lurus pada papan nama yang tersemat di d**a seragam putihnya. Pintu ICU tertutup rapat, menyisakan mereka berdua di dalam ruangan yang mendadak terasa menyempit.
Tamara menarik napas dalam-dalam, berusaha menjaga profesionalismenya. "Ada keluhan yang Anda rasakan, Tuan Mahawira? Nyeri d**a mungkin? Atau pusing?"
Cizar tidak menjawab. Dia justru melepaskan denyut nadi tiruan di jarinya dengan sentakan kasar hingga mesin monitor berbunyi nyaring sebelum Tamara dengan cepat mematikan alarmnya.
"Kau tahu apa yang terjadi padaku semalam," ucap Cizar, bukan sebuah pertanyaan, melainkan sebuah pernyataan. "Dan kau tahu kalau itu bukan serangan jantung."
Tamara terdiam sejenak. Jari-jarinya bertautan di depan tubuh. "Tugas saya hanya memastikan pasien saya tetap bernapas dan kembali pulih, Tuan."
"Jangan berlagak sok bodoh," desis Cizar. Pria itu sedikit menggeser duduknya, menahan ringkih di dadanya akibat bekas kompresi semalam. "Dokter jaga itu terlalu naif untuk menyadarinya. Tapi kamu... kamu lihat kantung infus yang dibawa dari ambulans semalam, kan? Kamu juga yang menolak memberikan pengencer darah."
Tamara menatap lurus ke dalam manik mata hitam pria di depannya. Tidak ada rasa takut di wajah perawat muda itu, hanya ada ketegasan yang matang. "Ada sisa senyawa kimia fungsional yang tidak seharusnya ada di dalam tabung infus Anda. Jika saya mengikuti prosedur standar serangan jantung, Anda sudah mati karena pendarahan otak sekarang."
Mendengar itu, sudut bibir Cizar terangkat tipis, membentuk seringai dingin yang tanpa ekspresi. "Seseorang di dalam lingkaran keluargaku ingin aku mati sebelum rapat pemegang saham minggu depan. Dan mereka hampir berhasil jika saja kamu gak mencampuri urusan ajalku."
"Saya hanya melakukan sumpah medis saya."
"Jadi kamu harus selesain sampai akhir," sahut Cizar dengan cepat. Dia merogoh meja di samping brankar, mengambil sebuah map berlogo emas yang entah kapan disiapkan oleh sekretaris pribadinya. Pria itu melemparkannya ke atas selimut. "Mulai besok, kamu mengundurkan diri dari rumah sakit ini."
Tamara mengernyitkan alis. "Maaf?"
"Kau akan bekerja sebagai perawat pribadiku. Dua puluh empat jam," ujar Cizar tanpa memberi ruang untuk negosiasi. "Di depan publik dan media, statusmu adalah asisten pribadi baruku di kantor pusat Mahawira Pharma Group. Kau yang memegang, memeriksa, dan memastikan semua makanan, minuman, serta suplemen yang masuk ke tubuhku bersih dari 'tangan-tangan kreatif' keluargaku."
Tamara menggeleng tegas. "Saya seorang perawat ICU, Tuan Mahawira. Bukan bodyguard, bukan mata-mata, dan jelas bukan asisten kantoran."
"Aku akan membayarmu sepuluh kali lipat dari gaji tahunanmu di rumah sakit ini. Setiap bulannya," potong Cizar dengan nada datar, seolah uang senilai ratusan juta adalah hal yang remeh. "Lagipula, kamu tidak punya pilihan lain, Tamara."
Cizar mencondongkan tubuhnya ke depan, aura intimidasinya mengunci pergerakan dari Tamara. "Kau sudah tahu terlalu banyak. Begitu orang yang meracuniku tahu bahwa kaulah alasan aku masih hidup hari ini, menurutmu berapa lama kau bisa bertahan hidup di luar sana tanpa perlindunganku?"
Kata-kata dari Cizar menghantam Tamara laksana gada tak kasat mata. Sisi logis di otaknya membenarkan ucapan pria itu. Di dunia orang-orang kaya yang sanggup membeli nyawa, seorang perawat biasa seperti dirinya bisa dilenyapkan kapan saja hanya untuk menutup celah rahasia.
Tamara menatap map di atas ranjang, lalu beralih pada Cizar yang menunggu jawabannya dengan kesabaran yang mulai menipis.
"Hanya medis," ujar Tamara akhirnya, suaranya bergetar namun penuh penekanan. "Saya tidak akan ikut campur dalam urusan bisnis atau perebutan harta keluarga Anda."
"Sepakat," sahut Cizar, menyandarkan kembali punggungnya dengan tatapan puas yang dingin. "Selamat datang di neraka, Tamara."