“Kau ingin tahu kenapa aku meneleponmu tengah malam begini? Kau ingin tau kenapa aku mendesakmu menerobos badai itu? Kau ingin tau kenapa aku menamparmu tadi? Kau ingin tau kenapa aku sekasar ini? Kau ingin tahu alasan kemurkaanku ini, ‘kan, Mas? Lihat! Lihat dosa yang telah kau perbuat padaku, Mas!”
Tangis Naya kembali pecah. Beriringan dengan tubuhnya yang meluruh. Terkulai lemas menyandar pada kaki sofa seberang. Tangannya mengacak-acak jilbab yang semakin berantakan kemudian mengusap kasar muka. Menangisi harga diri yang sudah runtuh. Meratapi hati yang sudah begitu hancur. Remuk tak berbentuk.
Sedang Anam masih tercengang. Begitu juga Rofi selepas merebut test pack itu dari tangannya. Tanda tanya mereka terjawab sudah. Tidak salah jika Naya meraung-raung sepanjang sore. Namun, ini sungguh berita mengejutkan. Bahkan sama sekali tidak pernah terlintas di pikiran Rofi ini akan terjadi. Mengingat Naya, sahabatnya itu adalah gadis baik-baik. Keluarganya pun dipandang sebagai tokoh agama yang memiliki nama besar. Akal sehat mana pun akan menyangka ini mustahil.
Namun, jika dipikir-pikir benar juga perkataan seorang dai di radio yang didengarnya beberapa waktu lalu. Bahwa tidak satu pun yang tidak mungkin. Apa pun bisa terjadi di dunia ini. Kalimat itu beberapa hari terakhir memang membingungkan otak awam Rofi. Semakin memusingkan ketika dirinya mencoba mencerna apa yang ustaz radio itu katakan. Jika tidak ada yang tidak mungkin, apakah ikan juga tidak mustahil akan bisa terbang? Sebegitu dangkalnya ia berpikir kala itu. Hari ini teka-teki itu terjawab sudah.
Ganti Rofi menatap penuh selidik pada Anam yang telah beringsut menghampiri Naya. Dia mengerti sekarang. Apa daya seekor ikan di hadapan terkaman kucing. Apalagi jika ikan itu sedang mabuk di daratan. Tidak salah lagi, pasti Anam yang melakukannya. Namun, kapan? Bagaimana kronologinya? Bagaimana itu bisa terjadi?
“Katakan, Mas! Apa salahku? Apa dosaku? Apa yang kau pikirkan sampai tega melakukan hal menjijikkan ini?”
“Nay … Naya …,” ujar Anam mulai buka suara. Tangannya berusaha membuka tangkupan tangan Naya dan menyeka bulir-bulir bening yang sudah membanjir tak keruan.
“Jangan sentuh aku, Mas!” teriak Naya lagi sembari menepis tangan Anam yang berusaha merengkuh. Merasa jijik terbayang tangan yang telah merenggut kesuciannya itu. Rofi kemudian menepi. Membiarkan pertikaian dua kekasih itu berlangsung. Hanya dengan begitu duduk perkara akan semakin jelas.
Sanggahan yang tak kunjung terlontar dari mulut Anam semakin mempertegas bahwa kesalahan ada padanya. Rasa ingin tahu Rofi sebenarnya sudah menjadi-jadi. Sudah melampaui ambang batas. Namun, biarlah dulu dirinya melihat apa yang akan terjadi selanjutnya. Biarlah perdebatan itu mengalir alami tanpa campur tangannya.
“Maafkan aku, Nay. Aku-“
“Aku apa? Bukankah sudah kukatakan dari awal. Jangan dekati aku. Setelah patah hatiku yang lalu, aku sudah tidak ingin membuka hati untuk siapa pun. Apalagi jika kau hanya menggunakanku sebagai pemuas nafsumu. Aku tak sudi. Jangan samakan aku dengan p*****r di luar sana yang bisa kau beli dengan uang, Mas.”
“Kumohon maafkan aku, Nay. Aku tidak bermaksud-“
“Tidak bermaksud katamu? Tidak semua luka bisa sembuh hanya dengan kata maaf. Harusnya kau berpikir dulu sebelum melakukan itu. Apa gunanya penyesalanmu hari ini? Sama sekali tidak merubah apa pun, Mas.”
“Lalu apa yang harus kulakukan, Nay? Bunuh saja aku jika kau mau.”
Naya kembali tergugu. Kali ini dengan meraba tubuhnya. Seolah ingin menggosok kotoran yang enggan luruh dari sana. Matanya memejam rapat dan bibirnya mendesis lirih. Seperti bergumam yang tidak jelas apa.
“Kapan itu terjadi? Mengapa aku tidak mengingat apa pun? Mengapa aku tidak menghentikannya? Jawab aku, Mas!”
Cukup lama lelaki itu terdiam. Membiarkan Naya meronta-ronta hingga memukul tubuhnya di beberapa bagian. Kemarahan Naya sama sekali tidak dapat disalahkan. Justru kali ini dirinya yang hanya bisa bungkam. Antara menyesal, tidak siap dan malu hendak membeberkan nafsu b***t yang malam itu telah m*****i kesucian gadis yang teramat dicintainya itu.
Satu ide kemudian terlintas. Sebagai jawaban, Anam lantas merogoh saku. Mengeluarkan benda berbahan besi yang besarnya tidak lebih dari uang keping. Telapak tangannya kemudian menyodor ke arah Naya.
“Kamu ingat ini, Nay?”
Sejenak gadis itu berhenti mengisak. Dihapusnya air mata yang menggenang agar pandangannya kembali jernih. Jemari lentiknya lantas memungut bros berbentuk daun dengan manik-manik berwarna biru dari Anam. Memori demi memori kebersamaan beberapa bulan terakhir terputar. Terlebih hari di mana terakhir kalinya Naya melihat benda itu.
Kurang lebih empat bulan lalu mereka sempat pergi bersama. Anam sengaja mengambil cuti beberapa hari selepas kunjungan tim ke anak cabang perusahaan di luar kota. Terbesitlah keinginan untuk mengajak Naya berlibur.
Tidak seperti gadis kota pada umumnya, selama ini Naya lebih sering menghabiskan waktu di pesantren. Ketika duduk di bangku perguruan tinggi pun, dia hanya sibuk dengan tugas-tugas yang katanya semakin dikerjakan semakin menumpuk. Libur di akhir pekan pun, Naya sengaja mengosongkan aktivitas agar bisa berlama-lama merebahkan punggung pada kasur.
“Ayolah, Sayang …,” rayu Anam di telepon kala itu. Rasa jenuhnya sudah terlanjur membuatnya izin untuk beberapa hari. Sedang rindu di dadanya semakin penuh sesak setiap harinya usai pertemuan singkat mereka sebulan lalu. Rencananya, Anam akan mengajak gadis itu menikmati pesona dataran tinggi Dieng. Pikirnya, waktu tempuh yang memakan lebih dari satu hari setidaknya bisa membuat mereka bersama lebih lama dari sebelum-sebelumnya.
Meski awalnya enggan, ribuan bujukan Anam pada akhirnya berhasil. Naya bersedia pergi dengan syarat Rofi harus ikut serta. Dengan berat hati, Anam kemudian mengiyakan. Sedikit kecewa karena dirinya tak bisa leluasa menikmati waktu berdua dengan gadis yang memenuhi pikiran dan hatinya itu. Pupus sudah angan-angannya berjalan bersisian disaksikan langit, di bawah gemerlap bintang. Padahal Rofi pun sebenarnya menyatakan ketidaksediannya untuk ikut. Namun, demi Naya keduanya akhirnya sepakat satu kata iya.
“Mampir dulu ke Kudus, ya, Mas,” pinta Naya kala itu.
“Loh, mau apa ke Kudus?”
“Ya ziarah, Mas. Masak mau manen tembakaunya orang.”
Ketiganya lantas tergelak. Tak luput Anam yang semula suasana hatinya tidak begitu baik akibat adanya Rofi. Tiba di sana, matahari sudah tenggelam. Azan telah berkumandang. Bersahut-sahutan. Bahkan iqamah-iqamah dari musala tetangga sudah beberapa kali terdengar, pertanda salat akan segera didirikan. Langkah ketiganya bergegas. Anam dan kedua gadis itu lantas berpisah di pelataran masjid.
“Allahu Akbar.”
Dari tempat wudu, Naya bergegas menuju saf perempuan paling belakang. Di sebelahnya, Rofi tampak sudah menyedekapkan tangan dan ikut mengamini bacaan imam seperti jamaah lain. Sedang semenjak tadi Naya masih berkutat dengan mukenanya yang kebesaran. Dia lupa membawa jarum pentul. Dibenarkan berkali-kali pun, anak rambutnya tetap terus mencuat ke sana kemari.
Akhirnya dengan bersungut-sungut, Naya melepas kembali mukena yang menempel di tubuh. Mengenakan jilbab instan sekenanya sambil berlarian keluar. Hendak membeli barang remeh temeh itu di salah satu pedagang sekitar masjid.
Sepuluh menit berputar-putar dari satu toko ke toko lain, dari satu stan ke stan lain akhirnya membuat Naya jengah. Tidak ditemukan satu pun pedagang yang menjual benda kecil menggemaskan yang memang rawan hilang itu. Di tengah langkah gontai yang hendak kembali ke masjid itu, manik matanya menangkap penjual aksesoris yang baru saja menggelar lapaknya. Lekas Naya mendekat. Mengamati gelang-gelang, tasbih, hingga akhirnya menemukan aneka bros-bros cantik. Dari sekian banyak warna, ukuran, dan model, Naya sengaja memilih yang paling kecil. Bros berbentuk daun dengan manik-manik permata mainan berwarna biru mengkilap. Seperti asli.
Baru saja usai membayar dan hendak kembali ke masjid, hujan turun dengan begitu lebat. Gegas Naya beralih dari sana. Menghindar dari amukan hujan. Berteduh di salah satu emperan ruko.
“Masak iya aku harus begini terus?” gumam Naya pelan setelah hampir sepuluh menit berlalu. Namun, sepertinya tidak ada tanda-tanda hujan akan reda. Dilema kemudian menyeruak. Jika tetap bertahan di sana, dirinya akan kehabisan waktu magrib. Namun, jika memaksa kembali, pakaiannya akan basah kuyup ketika mencapai masjid. Sama saja, dia juga tidak akan bisa salat dengan keadaan begitu. Percuma bukan?
Menunggu yang membosankan membuat Naya kemudian menyapukan pandang. Melihat-lihat keramaian yang terjeda oleh tangis langit. Dari arah masjid, sebagian besar jamaah yang merupakan pelancong itu berbondong-bondong keluar. Nekat menerobos hujan yang diprediksi akan bertahan untuk beberapa jam kemudian. Langkah-langkah itu melipir menuju mobil, warung-warung pinggir jalan atau kafe-kafe terdekat.
Sedangkan Anam sendiri memilih tetap tinggal. Berleha-leha di serambi lantas mengaktifkan ponsel. Layar kemudian menyala. Menampilkan tujuh belas panggilan tidak terjawab dari Rofi. Ada apa?
“Halo, Rof?” panggil Anam buru-buru begitu gadis di seberang menjawab panggilannya. Pikiran-pikiran buruk tiba-tiba saja melintas membayang. Menghantui benaknya yang mulai resah.
“Naya, Nam.”
“Naya kenapa?”