Benar saja yang Anam khwatirkan. Alasan apa yang membuat Rofi menghujaninya dengan puluhan telepon jika bukan karena Naya. Ada apa dengannya?
“Iya, Naya kenapa?”
“Tadi waktu jamaah, dia keluar. Sampai sekarang belum kembali.”
Jawaban itu sontak membuat Anam bangkit. Buru-buru ia membungkus ponselnya dengan kantung anti air. Tak butuh waktu lama baginya keluar dari sana. Sesampai di pelataran, dia mulai celingukan. Hujan lebat mengaburkan pandangan matanya.
“Naya nggak bilang mau ke mana? Kamu sudah cari ke seluruh penjuru masjid?” cecar Anam pada Rofi. Sedikit menyalahkan karena Rofi membiarkan kekasihnya itu pergi sendirian. Namun, jelas gadis itu menyangkal dan mengatakan sedang dalam posisi salat saat kejadian itu berlangsung.
Dengan rasa dongkol, Anam memutus panggilan itu sepihak. Beralih menghubungi nomor yang sengaja ia sematkan. Berkali-kali nada panggilan itu terdengar, tetapi Naya tak kunjung menjawab telepon itu.
Lekas langkahnya kemudian menuju mobil. Mengeluarkan payung dari bagasi. Sempat ia mengumpat karena menemukan ponsel Naya tertinggal di sana.
Satu per satu ruko dan stan-stan penjaja aneka oleh-oleh itu Anam singgahi. Menanyakan apakah salah satu di antara mereka pernah melihat gadis yang ditunjukkannya dalam ponsel. Puluhan gelengan membuat pikirannya semakin kacau. Tidak dapat menebak ke mana kiranya gadis itu pergi. Merasa putus asa, di salah satu stan penjual minuman, Anam berhenti.
“Es capuccino satu, Mbak.”
Sambil meracik, perempuan itu menatap aneh pada Anam. Memperhatikan dadanya yang kembang kempis, napasnya yang terengah-engah. Di tengah lebat hujan begini, lelaki itu juga justru memesan minuman dingin.
Dilihatnya lagi, wajah menawan itu memang tampak berkeringat di sana-sini. Tubuhnya yang tinggi besar terduduk lesu di salah satu kursi tak jauh dari tempatnya stand by selama bekerja.
“Kenapa, Mas?” tanyanya memberanikan diri masih sambil menuang sesuatu pada gelas.
“Saya kehilangan jejak seseorang,” jawab Anam singkat masih dengan berusaha melancarkan pernapasannya. Sebagai pemilik perusahaan besar, tentu saja Anam tidak pernah melakukan hal ini sebelumnya. Ada beberapa asisten dan ribuan karyawan yang siap sedia kapan pun ia membutuhkan. Namun, kali ini keadaannya berbeda. Justru akan membutuhkan waktu lama jika dirinya harus memanggil orang-orangnya untuk kemari.
“Pernah lihat perempuan ini?” sambungnya lagi ketika pelayan itu menyodorkan gelas ke meja. Raut muka itu kemudian berubah. Dahi mengernyit, bola mata berputar-putar. Seolah-olah sedang berusaha mengingat sesuatu.
“Perasaan pernah lihat. Tapi kapan, ya? Oh tadi, iya barusan. Dia tanya apa di sini ada ruang untuk salat?”
“Sekarang dia di mana?” sahut Anam cepat. Binar-binar lekas muncul. Sedikit titik terang. Mungkin dari sana dirinya akan menemukan Naya. Semoga saja.
“Tadi dia datang dari stan aksesori itu. Sempat singgah di sini sebentar, tetapi sepertinya dia tidak nyaman, gelisah. Lalu pergi ke ruko pakaian sana.”
Bergegas Anam menenggak habis minuman dalam gelas. Kemudian bangkit sembari membayar. Tak lupa mengucapkan terima kasih. Meninggalkan gadis penjaga kafe yang tampak masih terpukau meski dengan penampilan Anam yang sudah acak-acakan. Buru-buru Anam menyambar payung dan berlari menuju ruko yang dimaksud tadi.
“Maaf, Buk, mau tanya. Pernah lihat perempuan ini?”
Sambil membenarkan posisi kacamata, sang pemilik ruko lantas mengamati foto pada wallpaper ponsel Anam.
“Oh, iya, iya. Tadi dia kehujanan. Sempat Ibu suruh berteduh dulu di sini. Tapi baru beberapa menit lalu dia pamit. Mau ke masjid katanya.”
Lagi, Anam menghelas napas panjang dan mengacak-acak rambutnya kesal. Kalau saja dia tidak berhenti memasan minum tadi, Naya pasti masih ada di sini.
Sambil merutuk, Anam membuka aplikasi perepesanannya lagi. Menggeser layar dan menelepon Rofi kembali. Jika perempuan itu masih di sana, pastinya dia sudah bertemu Naya.
“Naya sudah di masjid. Cepat cari!”
“Maaf, Nam. Aku sekarang di jalan. Bapakku menelepon, katanya Ibu masuk rumah sakit. Aku sudah mengirim pesan tapi kamu belum membacanya. Jadi kupikir biar aku pulang sendirian saja.”
Lagi, Anam menutup telepon itu sepihak. Benar-benar tidak berguna. Secepatnya dia berusaha mencapai masjid. Namun, begitu sampai di batas suci, langkahnya terhenti. Apa dia bisa masuk area perempuan?
Tidak ada pilihan lain. Anam lekas berputar-putar di pelataran. Meneliti satu per satu sandal para jamaah. Jika sandal Naya ditemukan, dirinya tetap akan nekat masuk.
“Sial! Tidak ada juga. Pasti Naya kebingungan tidak menemukan Rofi ataupun aku, kemudian pergi,” umpatnya kesal. Tidak tahu lagi ke mana harus mencari kekasihnya itu.
Dengan pikiran buntu, Anam berjalan gontai menuju mobil. Memutuskan untuk menunggu. Meski entah kapan, tetapi Naya pasti kembali juga ke sana, begitu pikirnya.
Keras Anam merebahkan punggung pada jok pengemudi. Membuka lebar kaca mobil sambil menyapukan tatap sejauh mata memandang.
Rintik hujan yang masih terhitung deras membuat beberapa aktivitas terganggu. Namun, kondisi itu justru menguntungkan bagi penjaja aneka makanan mulai pedagang kaki lima, warung-warung pinggir jalan, terutama kafe-kafe yang gemerlap dengan cahaya lampu. Kursi-kursi yang disediakan bahkan hampir penuh dengan pengunjung. Meski mayoritas pasti hanya bermaksud untuk berteduh.
Sangat berbanding terbalik dengan ruko-ruko pakaian dan stan-stan aksesori di sekelilingnya. Sang empu memutuskan untuk tutup lebih awal. Tak sadar berjam-jam kemudian kesibukan-kesibukan yang tak pernah sempat dilihat itu menyita perhatian Anam. Hingga akhirnya dering ponsel membuatnya terhenyak.
“Halo, Nam. Aku sudah di rumah. Bagaimana Naya sudah ketemu?”
Lelaki itu membeliak. Kedua manik matanya lantas meneliti jarum jam yang menempel di pergelangan tangannya. Sudah hampir tiga jam, tetapi Naya tak juga kembali. Buru-buru dia memutus sambungan telepon itu dan lekas bangkit.
Terpaksa, Anam kembali membentangkan payungnya dan berjalan keluar. Menyisir jalanan yang tergenang air sembari mengawasi kanan-kiri. Berharap dia dapat segera menemukan Naya.
Hampir lima belas menit dia berkeliling. Menyisir setiap ruko, warung, kafe, juga tempat-tempat yang mungkin bisa digunakan untuk berteduh. Namun, pencariannya di tengah ramainya jamaah seolah sama dengan mencari jarum dalam tumpukan jerami. Teramat sulit.
Beberapa langkah kemudian, dari kejauhan tampak beberapa orang berkerumun. Tidak tahu sedang meributkan apa. Entah mengapa juga Anam tertarik mendekat. Menghalau desakan orang yang sibuk berkomentar.
“Naya?” seru Anam begitu matanya yang membola menatap gadis yang tergolek lemah di sana. Tanpa basa-basi lagi lekas disambarnya tubuh lemas yang sudah dipangku oleh seorang ibu-ibu. Tepukan berulang kali pada pipi tidak berhasil membuat gadis yang tampak membiru itu sadar. Kasak-kusuk kerumunan tadi semakin ramai. Sedang ibu-ibu di hadapannya hanya tertegun memperhatikan.
“Dia siapa … dia siapa …,” tanya lamat-lamat entah berapa puluh orang yang masih bertahan dalam kerumunan.
“Istrinya ya, Nak?”
Hanya pertanyaan itu yang seketika membuat Anam mendongak. Menatap lekat sang penanya yang mengertukan alis sambil menatap penuh selidik. Sebentar Anam hanya diam salah tingkah. Bingung juga harus menjawab apa.
“I-iya, Buk.”
“Itu sepertinya cuma masuk angin saja. Lihat bibirnya sudah membiru, bajunya basah kuyup. Sebaiknya cepat bawa pulang.”
Anam hanya mengangguk-angguk mengerti. Sebelum pergi, seorang pemilik ruko lantas menyerahkan satu bungkus kresek yang entah apa isinya.
“Ini ada gamis buat ganti nanti.”
Anam lantas menghatur terima kasih dan bergegas membopong tubuh basah kuyup Naya menuju mobil. Tak peduli puluhan pasang mata menyorot mereka. Termasuk penjagai kafe di mana tadi dirinya sempat mampir membeli minum.
Dari parkiran mobil kawasan Sunan Kudus, Anam lantas menancap gas dan melajukan kencang mobilnya. Beruntunglah jalanan sepi akibat hujan. Namun, butir-butir deras itu cukup mengganggu penglihatannya untuk menyetir.
Di perempatan lampu merah, Anam memperhatikan Naya lekat. Tampak jelas gadis itu sudah sangat kedinginan. Tidak mungkin dia akan membawanya langsung pulang. Butuh waktu lebih dari tiga jam kalau mau pulang ke kabupaten tempat mereka tinggal. Ke mana dia harus membawa Naya sekarang?
“Halo, Ma,” panggil Anam begitu seseorang di seberang mengangkat telepon. Dia tidak tahu lagi harus menghubungi siapa.
“Iya kenapa, Nak? Kamu jadi ke Dieng?”
“Batal, Ma. Aku di Kudus. Kita punya villa di daerah sini, ‘kan?”