Jo membuka pintu setelah memastikan kunci yang dipegang benar. Erika menunggu di samping, masih membawa beberapa barang kecil yang tidak ingin dititipkan pada kotak besar.
Ketika lampu menyala, ruangan yang telah beberapa kali mereka lihat terasa berbeda. Tidak ada orang yang mendampingi untuk menjelaskan penataan. Tidak ada daftar yang harus segera ditandai. Rumah itu kini tempat pulang.
Erika melangkah masuk, berhenti sebentar di dekat rak. Buku Ayah berada pada tempat yang telah dipilih bersama Ibu. Salinan Anggrek berdiri tidak jauh, dengan pembatas yang masih terselip di dalam.
Jo meletakkan barang, lalu menatap istrinya yang masih diam.
"Ada yang tertinggal?"
Gadis itu menggeleng, tersenyum kecil. "Aku sedang membiasakan pulang ke sini."
Lelaki tersebut mendekat. Dia memandang wajah yang telah lebih lelah daripada saat pagi, tetapi senyumnya tetap membuat dada hangat dengan cara yang tidak perlu dijelaskan kepada siapa pun.
"Selamat datang di rumah, Ka."
Erika tertawa pelan, meraih tangannya. Mereka berdiri beberapa saat, membiarkan bunyi dari luar menjadi lebih jauh setelah pintu ditutup.
Perhatian pertama ternyata bukan kalimat romantis. Gadis tersebut perlu meletakkan tas, merapikan pakaian, dan mencari minum. Jo juga harus mengganti yang sudah dipakai sepanjang acara. Keduanya tertawa ketika hampir membuka kotak yang salah, lalu menemukan barang penting pada tempat yang memang sudah disiapkan.
Erika mengirim kabar kepada Ibu bahwa mereka telah tiba. Jo mengabari Daddy serta Ammar, lalu menyimpan ponsel setelah memastikan tidak ada urusan yang masih perlu dijawab malam itu.
Mereka duduk dengan pakaian yang lebih nyaman. Ruang utama belum mempunyai semua hiasan yang pernah dibayangkan, tetapi gelas sudah berada pada meja dan ada tempat untuk menyandarkan punggung tanpa harus menjaga posisi di depan kamera.
"Aku lapar lagi," ujar Erika malu.
Jo menoleh, kemudian tertawa. "Aku juga."
Makanan yang telah disiapkan dapat diambil tanpa membuat malam berubah menjadi pekerjaan baru. Mereka membagi, duduk berdampingan, lalu menghabiskan dengan percakapan kecil mengenai kejadian acara.
Erika mengingat Kiki yang terus menyuruh bernapas. Jo mengaku Ammar telah menanyakan hal yang hampir sama ketika dirinya berdiri terlalu tegak. Mereka tertawa, saling memperlihatkan bagaimana wajah tadi mungkin terlihat bagi orang lain.
Sesudah makan, gadis tersebut membantu merapikan, tetapi Jo meminta tidak membuka semua kotak hanya karena kini mereka sudah sampai. Barang yang benar-benar diperlukan cukup. Sisanya mempunyai pagi.
Erika mengangguk, lalu berjalan ke ruang kerja. Dia ingin memastikan buku catatan ada pada tempat yang mudah ditemukan. Jo mengikuti sampai pintu, melihat istrinya menyentuh meja dengan senyum yang pelan.
"Penulisnya mau bekerja?"
"Tidak. Penulisnya sedang memastikan tidak kehilangan pena pada hari menikah."
Lelaki itu tertawa. Erika menemukan, mengangkat sebagai bukti, lalu menyimpan. Tidak ada halaman yang harus dibuat malam itu agar kebahagiaan mempunyai bentuk tertulis.
Erika berhenti pada rak, menemukan satu pembatas yang terselip lebih jauh daripada yang diingat. Dia mengambil, melihat ujung yang sudah sedikit aus, lalu meletakkan di dalam buku Ayah agar tidak tersesat di antara barang baru.
Jo menunggu di pintu, memperhatikan tanpa membuat gadis tersebut harus menjelaskan setiap benda. Setelah beberapa saat, Erika menoleh dengan senyum kecil.
"Aku dulu mengira rumah bersama harus langsung terasa seperti rumah."
"Sekarang?"
"Sekarang ternyata perlu tahu letak gelas dahulu."
Lelaki itu tertawa. Dia berjalan mendekat, berdiri di samping meja yang mulai mempunyai jejak pemakaian. Ada satu buku, pena, dan lampu yang dipilih bersama. Benda-benda itu tampak sederhana, tetapi Jo mengetahui betapa banyak percakapan diperlukan agar letaknya tidak hanya mengikuti keinginannya.
Erika menggeser kursi agar pintu tetap mudah dilalui. Tangannya berhenti ketika melihat cincin pernikahan, lalu dia tertawa malu karena menyadari Jo memperhatikan.
"Aku masih melihat terus."
"Aku juga."
Lelaki tersebut mengangkat tangan, memperlihatkan cincin miliknya. Gadis itu menyentuh sebentar, merasakan permukaan yang kini menjadi bagian dari tangan yang telah berkali-kali digenggam.
Mereka saling memandang dalam cahaya lampu meja. Pakaian yang lebih sederhana membuat keduanya tampak berbeda dari pagi, tetapi suara tawa tetap sama. Erika tidak perlu menjaga senyum bagi kamera, Jo tidak perlu berdiri tegak menunggu tamu berikutnya.
Gadis itu mengangkat tangan untuk merapikan ujung rambut suami yang belum kembali rapi sesudah berganti. Gerakan tersebut membuat lelaki itu tertawa pelan.
"Sejak tadi ingin melakukan itu?"
"Sejak Mas mengatakan semuanya sudah benar."
"Berarti belum."
"Sekarang cukup."
Jo membiarkan tangannya tetap dekat, menerima sentuhan yang tidak dibuat sebagai bagian acara. Erika tersenyum, kemudian mendekat untuk berpelukan sebentar, merasa tubuhnya akhirnya dapat melepaskan beberapa ketegangan yang sejak pagi tidak disadari.
Di luar ruang kerja, rumah terdengar tenang. Ada satu lampu yang masih menyala, gelas yang belum semua dicuci, dan kotak yang memang dibiarkan untuk besok. Hal-hal tersebut tidak mengurangi kebahagiaan. Justru membuat malam terasa dapat dijalani oleh dua orang biasa yang lelah setelah hari penting.
Erika melepaskan pelukan, mematikan lampu meja setelah memastikan buku aman. Jo memberi ruang agar dia dapat berjalan lebih dahulu. Mereka keluar bersama, meninggalkan pekerjaan pada tempat yang akan dibuka lagi ketika pagi datang.
Ketika kembali, Jo menahan tangannya. Gadis tersebut berhenti, mengangkat wajah, lalu menerima ciuman yang kali ini tidak harus segera diputus karena seseorang memanggil dari ruangan lain.
Mereka berpelukan, cukup dekat untuk mendengar napas yang perlahan tenang. Erika menyandarkan kepala, merasakan kehangatan yang tidak lagi disertai pertanyaan apakah dirinya boleh tetap berada di sana.
"Aku senang kamu pulang bersamaku," ujar Jo pelan.
Gadis itu tersenyum di dekat bahunya. "Aku juga senang pulang sama Mas."
Malam diteruskan dengan kelembutan yang tidak perlu diketahui orang lain. Pakaian acara diletakkan, lampu diredupkan, dan keduanya mempunyai waktu untuk saling mendekat tanpa menuntut hari yang panjang memberi lebih dari yang masih sanggup dilakukan tubuh.
Ketika akhirnya tertidur, tangan Erika berada dekat Jo. Rumah tetap belum sepenuhnya rapi, tetapi tidak ada sesuatu yang harus dibereskan agar mereka boleh beristirahat bersama.
Pagi datang melalui celah tirai. Gadis tersebut bangun lebih dahulu, memerlukan beberapa detik untuk mengingat letak kamar. Jo masih tidur dengan wajah yang jauh lebih tenang daripada saat memegang cincin.
Erika memandang sebentar, tersenyum, lalu berusaha turun tanpa membuat terlalu banyak bunyi. Tangannya hampir mencari gelas pada sisi yang biasa di kamar lama sebelum ingat tempat baru.
Dia mengambil air, berjalan ke dapur, dan melihat benda-benda yang selama penataan tampak cukup mudah. Kini ketika benar-benar harus digunakan, ada beberapa letak yang belum masuk ke ingatan.
Jo muncul saat gadis tersebut sedang mencari wadah. Rambutnya belum rapi, membuat Erika tertawa sebelum lelaki itu sempat bertanya.
"Apa?"
"Mas terlihat berbeda."
"Lebih buruk?"
"Lebih seperti orang yang baru bangun."
Dia tertawa, mendekat, lalu menerima gelas yang diberikan. Erika menanyakan apakah ingin sarapan sederhana atau mencari dari luar. Jo memilih yang dapat dilakukan bersama, lalu hampir mengambil benda yang tidak dimaksud.
Gadis itu menunjuk tempat yang benar. Mereka bekerja dengan lebih banyak pertanyaan daripada keahlian, membuat sarapan menjadi sedikit lebih lama tetapi tetap dapat dimakan.
Ada satu bagian yang terlalu matang. Jo memandang dengan wajah serius, membuat Erika menahan tawa.
"Mas tidak perlu melihat seperti sedang memeriksa laporan."
"Aku sedang menilai kesalahan."
"Yang itu aku juga ikut membuat. Kita makan yang masih enak."
Lelaki tersebut tertawa, mengiyakan. Mereka duduk pada meja yang kini benar-benar digunakan untuk pagi pertama, dengan gelas yang tidak sama letak seperti saat menata.
Erika menatap sekeliling. Tidak ada Bi Ani yang langsung mengetahui apa perlu diambil, tidak ada Iccha yang mengenali kebiasaan tanpa ditanya. Namun, gadis tersebut tidak merasa ditinggalkan. Dia serta Jo sedang mempelajari rumah yang dipilih sendiri.
Ibu menelepon setelah sarapan. Bu Mei menanyakan kabar, tertawa mendengar cerita makanan yang hampir tidak jadi, lalu mengatakan dirinya ingin beristirahat dahulu sebelum datang pada waktu yang sudah dibicarakan.
Erika menerima, tidak memaksa agar pagi segera lengkap dengan kunjungan keluarga. Dia ingin Ibu pulang nanti dengan tubuh cukup tenang, bukan hanya membawa foto acara dan rasa lelah.
Jo juga berbicara singkat dengan Daddy. Lelaki yang lebih tua menanyakan apakah semuanya baik, kemudian mengingatkan bahwa beberapa barang yang tertinggal dapat diambil kapan waktu sesuai. Rumah lama tidak ditutup hanya karena anak telah pindah.
Hari pertama dipakai perlahan. Mereka merapikan bagian yang diperlukan, membuka kotak buku bersama, dan berhenti ketika salah satu merasa cukup. Erika menemukan satu kertas pertanyaan wawancara yang dahulu disimpan di dalam buku sendiri.
Gadis itu menunjukkan kepada Jo. Lelaki tersebut membaca, tersenyum pada pertanyaan yang terlalu panjang, lalu mengingat betapa dirinya semula hanya mencari orang yang dapat menuliskan kisah sebagai hadiah.
"Aku waktu itu tidak tahu akan sampai di rumah ini," ujar Erika.
"Aku juga."
Mereka menyimpan kertas kembali, bukan sebagai bahan pekerjaan yang belum selesai. Ia sudah menjadi kenangan yang dapat dibaca tanpa harus mengulang keputusan orang lain.
Beberapa hari berikutnya memberi kesempatan beristirahat sebelum pekerjaan kembali lebih penuh. Mereka tidak melakukan perjalanan panjang yang membuat tubuh langsung lelah lagi. Ada waktu makan, berjalan sebentar, membaca, dan sesekali duduk tanpa kegiatan yang perlu menghasilkan sesuatu.
Pada satu sore, Erika membuka laptop karena ingin menuliskan adegan yang sejak pagi terus datang. Jo duduk dengan buku pada sisi lain, lalu mengangkat wajah ketika mendengar istrinya tertawa sendiri.
"Tokohnya melakukan apa?"
"Sesuatu yang sangat dia yakini benar. Padahal salah."
"Aku boleh membaca?"
"Kalau bagian ini selesai."
Lelaki tersebut mengiyakan, kembali pada buku. Gadis itu menulis beberapa paragraf, membaca ulang, lalu memanggil setelah cukup siap. Jo mendekat, melihat bagian yang diperlihatkan, dan tertawa pada kalimat yang memang ingin dibuat lucu.
Tidak ada kewajiban menanggapi sebagai suami dengan selalu memuji. Dia menanyakan satu bagian yang belum dipahami, membuat Erika mengangguk dan memberi tanda untuk diperiksa.
Pada satu pagi, Erika memindahkan buku dari meja karena cahaya membuat sampul terlalu dekat dengan gelas. Jo mengambil yang hendak dibacanya, lalu bertanya apakah boleh menyimpan pada sisi ruang utama.
Gadis itu mengiyakan. Beberapa jam kemudian dia hampir mencari pada rak sebelum mengingat pertanyaan tadi. Jo melihat, tertawa, lalu memperlihatkan tempat yang masih sama.
"Aku sudah bilang."
"Aku tahu. Ingatanku yang belum sampai."
Mereka tertawa, dan Erika mengambil buku setelah menemukan. Tidak setiap perubahan letak harus menjadi alasan menilai siapa kurang memperhatikan. Sebagian hanya kebiasaan yang masih dipelajari.
Sesudahnya mereka menyiapkan satu tempat untuk buku yang sedang dibaca, agar tidak terus berpindah tanpa diketahui. Rak tetap rapi seperlunya, meja masih dapat digunakan, dan ruang utama mulai memperlihatkan jejak kedua orang yang benar-benar tinggal di sana.
Pada hari lain, Jo perlu menjawab urusan yang benar-benar penting. Lelaki itu mengatakan akan menggunakan waktu singkat, lalu kembali setelah selesai. Erika tidak menganggap setiap panggilan berarti dirinya kalah dari perusahaan. Dia juga tidak ingin semua hari tetap menjadi ruang kerja, sehingga mereka membicarakan yang perlu sebelum kebiasaan kembali memimpin.
Bu Mei datang bersama Daddy pada waktu yang cukup santai. Ammar membantu perjalanan, Iccha ikut setelah pekerjaannya selesai. Lina serta Kiki menyusul dengan satu buku yang memang hendak dikembalikan, membuat kunjungan terasa lebih seperti keluarga daripada pemeriksaan rumah pengantin.
Ibu melihat dapur, tertawa ketika Erika menunjukkan bagian yang sempat membuat mereka mencari. Daddy duduk pada ruang utama, mendengar Jo bercerita mengenai pagi tanpa memotong untuk menyebut cara yang paling benar.
Mereka makan, bercakap, dan beristirahat. Kiki mengomentari rak yang mulai penuh, Lina meminta melihat buku Ayah setelah Erika memberi izin. Iccha duduk dekat meja kerja, mengatakan tempat itu cocok untuk penulis yang akan mengeluh satu halaman belum selesai.
Erika tertawa. Rumah mulai mempunyai suara orang lain, tetapi tidak membuat dirinya merasa pilihan telah diambil kembali oleh keluarga. Ketika tamu pulang, letak beberapa gelas berubah dan ada makanan tersisa yang perlu disimpan.
Jo membantu, menanyakan tempat ketika belum tahu. Gadis tersebut menjawab, lalu membiarkan satu pekerjaan dilakukan dengan cara berbeda selama hasilnya tetap baik.
Malam itu mereka duduk sesudah semuanya cukup rapi. Erika menyandarkan kepala pada bahu suami, menatap halaman yang belum terlalu banyak tanaman.
"Aku bisa membayangkan Ibu datang lagi," ujarnya.
"Aku juga. Daddy tadi sudah memilih kursi yang disukai."
Gadis tersebut tertawa. Mereka merencanakan beberapa hal kecil yang masih ingin diubah, bukan karena rumah kurang layak, melainkan karena kini kehidupan sungguh-sungguh berjalan di dalam.
Sebelum tidur, Erika meletakkan laptop pada meja, mematikan lampu ruang kerja, lalu menemukan Jo menunggu di pintu. Lelaki tersebut mengulurkan tangan dengan senyum yang tidak lagi terlalu gugup.
"Sudah selesai, Anggrek?"
"Untuk malam ini."
Dia menerima genggaman, berjalan bersama menuju kamar. Hari-hari berikutnya mungkin tidak akan selalu mudah, tetapi pagi pertama telah mengajarkan sesuatu yang cukup sederhana: rumah mereka tidak perlu sempurna untuk mulai menjadi tempat yang ingin dituju berdua.