Bu Mei kembali ke Semarang setelah mempunyai waktu cukup beristirahat dan menemui putri di rumah baru. Erika mengantar bersama Jo, membawa barang yang telah dipastikan agar tidak ada buku tertinggal di antara makanan yang dititipkan keluarga.
Perempuan itu memeluk putri sebelum berangkat, menanyakan apakah mereka dapat memberi kabar ketika sempat. Tidak ada permintaan agar setiap hari dimulai dengan laporan rumah tangga.
"Kami akan pulang lagi, Bu," ujar Erika.
"Ibu tahu. Sekarang jaga pekerjaan dan rumah kalian juga."
Jo memberi salam, menerima pesan sederhana agar tetap makan meskipun pekerjaan banyak. Lelaki tersebut tersenyum, berjanji memberi kabar setelah pulang. Setelah perjalanan Ibu dimulai, mereka berdiri beberapa saat sebelum kembali.
Erika tampak lebih diam. Jo tidak segera mengajak melakukan hal lain untuk membuat sedih hilang.
"Aku sudah terbiasa jauh," kata gadis itu. "Tapi melepas Ibu tetap begini."
Lelaki tersebut menggenggam tangannya. Mereka berjalan perlahan, membiarkan rasa itu ikut pulang tanpa menjadi alasan bahwa keputusan menikah membuat putri meninggalkan keluarga.
Hari-hari berikutnya kembali mempunyai pekerjaan. Jo masuk kantor setelah waktu istirahat berakhir. Erika menerima jadwal yang sanggup dijalani, menyediakan waktu menulis, dan mulai mengenal bunyi rumah ketika sendiri pada siang.
Ada malam ketika keduanya makan lebih cepat, ada ketika perlu menunggu sebentar setelah salah satu memberi kabar. Mereka tidak selalu melakukannya dengan tepat. Sekali Jo lupa menyebut urusan yang memanjang, membuat Erika menunggu dengan makanan yang hampir dingin.
Pembicaraan tidak menyenangkan, tetapi berlangsung pada hal yang terjadi. Lelaki tersebut meminta maaf, membetulkan kebiasaan memberi kabar, dan tidak menjadikan kecewa istrinya sebagai bukti bahwa perempuan itu terlalu menuntut.
Pada hari lain Erika terlalu lama menulis sampai lupa waktu yang telah disepakati untuk pergi. Jo mengatakan dirinya kesal. Gadis tersebut menerima, menutup pekerjaan setelah memberi tanda, lalu mencari cara agar janji berikutnya tidak hanya bergantung pada ingatan ketika sedang masuk adegan.
Pernikahan tidak mengubah keduanya menjadi orang yang langsung benar. Ia memberi tempat untuk mengetahui kesalahan dengan lebih dekat, termasuk kesempatan memperbaiki sebelum menjadi kebiasaan yang membuat satu pihak terus diam.
Di rumah Jack, Ammar serta Iccha menjalani perubahan dengan cara mereka sendiri. Perempuan itu masih bekerja, lelaki tersebut masih kadang membawa nada kantor pada percakapan yang seharusnya lebih pribadi. Iccha menegur ketika itu terjadi, tidak lagi menunggu sampai kesal terlalu banyak.
Mereka telah membicarakan menikah sebelum acara Jo. Namun, Ammar tidak memilih hari adik untuk menyelipkan rencananya sendiri. Setelah beberapa minggu yang cukup memberi ruang, dia meminta waktu pada sore yang benar-benar dapat digunakan berdua.
Iccha datang dengan wajah sedikit curiga karena lelaki itu menjelaskan tujuan lebih hati-hati daripada biasanya.
"Kalau ini rapat tambahan, gue akan marah," ujarnya.
Ammar tertawa. "Bukan rapat."
Mereka makan pada tempat yang sudah pernah didatangi, bukan tempat asing yang membuat perempuan tersebut harus menilai semua sekaligus. Percakapan dimulai dari pekerjaan, lalu Ammar menutup bagian itu setelah menyadari dirinya hampir kembali mengatur jadwal.
"Aku ingin bicara tentang kita," katanya.
Iccha meletakkan gelas. Wajahnya perlahan lebih tenang, tetapi tangannya tetap memegang ujung tas di pangkuan.
Lelaki tersebut mengatakan ingin menikah, membangun rumah tangga dengan perempuan yang selama ini terlalu sering dibicarakan melalui orang lain atau ditunggu supaya menebak sendiri.
"Aku tidak ingin meminta kamu percaya dari hal yang sengaja kubuat untuk memancing," ujarnya. "Aku ingin mengatakan langsung."
Iccha menatapnya. Ada masa ketika kalimat itu mungkin membuat dirinya segera mengingat semua tahun yang terasa terbuang. Hari itu, dia dapat merasakan sedih pada yang lalu tanpa menjadikannya alasan menolak sesuatu yang juga diinginkan sekarang.
"Gue ingin menikah sama lo," jawabnya. "Tapi kita tetap perlu bicara banyak. Jangan kira karena kenal dari kecil, semua sudah pasti tahu."
Ammar mengangguk dengan senyum yang tidak dapat disembunyikan. "Aku tahu. Kita sudah mulai, dan akan terus bicara."
Kotak kecil akhirnya dibuka. Iccha tertawa pelan, mengusap mata dengan gerakan yang membuat lelaki di depan sedikit gugup.
"Gue tidak menangis karena tidak suka," ujarnya, menangkap wajah itu.
Ammar ikut tertawa. Dia menerima tangan setelah perempuan tersebut mengulurkan, memasang cincin dengan hati-hati, lalu membiarkan beberapa detik berlalu tanpa pidato.
Kabar diberikan kepada keluarga setelah mereka berbicara mengenai langkah berikutnya. Jo menerima melalui telepon, tertawa bahagia, lalu mengatakan dirinya ingin mendengar bersama Erika ketika semua mempunyai waktu.
Daddy memeluk anak, menyambut Iccha dengan kehangatan yang telah lama ada tetapi kini mempunyai maksud lebih jelas. Ammar menatap Daddy setelah pelukan dilepaskan. Lelaki yang lebih tua mengatakan dirinya senang mendengar niat datang langsung, bukan melalui dugaan dari orang yang melihat anak terlalu lama diam.
Iccha mendengar, tersenyum dengan mata masih basah. Dia mengaku ada waktu ketika dirinya juga terlalu sering berharap Ammar mengerti tanpa benar-benar mendengar kalimatnya.
Daddy mengangguk, tidak mengubah pengakuan itu menjadi pelajaran panjang. Dia meminta keduanya duduk, menanyakan kabar hari, lalu mengambil gelas tambahan untuk perempuan yang kini tidak hanya datang sebagai orang yang bekerja di rumah dan perusahaan.
Ammar membantu setelah melihat, menaruh sesuai arahan. Percakapan berlanjut pada waktu yang akan dipilih, dengan ruang cukup agar Iccha dapat mengatakan keinginannya sendiri. Jo datang beberapa menit kemudian, menerima kesempatan memberi selamat tanpa harus bertanya ulang di depan semua orang bagaimana kalimat lamaran diucapkan.
Lina mengucapkan selamat. Kiki melihat cincin, lalu menanyakan apakah akhirnya pasangan tersebut dapat membicarakan sesuatu tanpa membuat seluruh rumah menebak.
Iccha tertawa, mengatakan mereka sedang berusaha. Tidak ada yang menyebut tanggal sebelum dipilih sendiri. Persiapan akan dilakukan pada waktunya, bukan sebagai kelanjutan acara Jo yang harus cepat disalin.
Erika menemui teman pada hari berikutnya. Mereka berpelukan, tertawa, lalu duduk untuk mendengar cerita yang kali ini benar-benar milik Iccha.
Gadis itu tidak memberikan daftar yang harus diikuti. Dia hanya menawarkan membantu bagian yang memang diminta, seperti Iccha dahulu membantu dirinya tanpa mengambil seluruh keputusan.
Di sisi kehidupan yang lain, Aldin juga mulai memperoleh hari yang lebih teratur. Pekerjaan baru datang setelah beberapa percakapan dan pemeriksaan, bukan melalui perintah Jo atau permintaan kepada Daddy. Tugasnya menggunakan pengalaman yang memang dimiliki, dengan orang-orang yang tidak perlu menerima dirinya atas nama hubungan keluarga.
Dia harus belajar mengikuti kebiasaan tempat baru. Ada pagi ketika perjalanan terlalu lama, ada pekerjaan yang perlu diperbaiki, dan waktu yang tidak dapat lagi dipakai sesuka hati. Aldin menerima tanpa menjadikan kehilangan posisi lama alasan orang lain harus lebih sabar.
Caca membantu mengatur kehidupan sehari-hari, sekaligus mencari kegiatan yang dapat menjadi tanggung jawabnya sendiri. Mereka masih pernah berbeda pendapat, terutama ketika salah satu ingin menghindari pembicaraan yang melelahkan. Kali ini perbedaan tidak disimpan sampai menjadi rencana yang hanya diketahui satu pihak.
Pada satu sore, Aldin pulang dengan wajah lebih lelah daripada biasa. Ada pekerjaan yang harus diperbaiki karena dirinya terlalu cepat mengira cara lama juga berlaku di tempat baru. Dia duduk, meletakkan tas, dan sempat menjawab pertanyaan Caca dengan nada yang terlalu pendek.
Perempuan itu berhenti, menatap tanpa menaikkan suara.
"Aku bertanya karena ingin tahu kabarmu. Kalau belum ingin bicara, bilang. Jangan membuatku menebak salahku apa."
Aldin mengusap wajah, menarik napas. Dia meminta maaf, mengatakan perlu beberapa menit, lalu benar-benar kembali setelah cukup tenang. Tidak ada janji bahwa semua akan selesai besok, hanya cerita mengenai kesalahan yang perlu diperbaiki.
Caca mendengar, menanyakan yang memang ingin diketahui. Dia tidak menawarkan menelepon orang lama untuk membuat pekerjaan lebih mudah. Pengalaman Aldin berguna, tetapi tidak membuat dirinya bebas dari belajar ulang.
Pada hari lain, perempuan itu sendiri harus mengatakan rencana belum berjalan seperti yang diinginkan. Ada jawaban yang tidak sesuai harapan, ada kegiatan yang perlu disesuaikan dengan keadaan sehari-hari. Dia hampir menyimpan karena takut terlihat kembali tidak tahu pilihan.
Aldin mendengar ketika akhirnya diceritakan, menerima bahwa memilih hidup bersama tidak berarti setiap langkah berikutnya akan langsung benar. Mereka membagi pekerjaan rumah, menulis kebutuhan yang harus dipenuhi, dan menunda yang hanya terasa mendesak karena ingin terlihat telah berhasil.
Caca berdiri untuk mengambil buku pada rak. Buku hadiah Jo masih ada, disimpan dengan baik. Dia memindahkan sedikit agar tidak tertekan benda lain, lalu mengambil buku yang memang hendak dibaca.
Aldin melihat tanpa meminta yang lama dibuang. Kehidupan mereka sekarang tidak akan lebih jujur jika semua bukti pernah menyakiti dihilangkan. Ia hanya dapat lebih baik melalui hal yang sedang dikerjakan.
Mereka makan setelah itu, membicarakan waktu menemui keluarga dengan lebih jelas. Caca akan mengatakan maksud sendiri kepada ayahnya. Aldin akan berbicara langsung kepada Ibu, tidak melalui Erika dan tidak setelah seluruh keputusan sudah dibuat.
Ada rasa takut ditolak, terutama ketika masing-masing mengingat pertemuan yang pernah berat. Namun, rasa itu tidak lagi menjadi alasan memberi cerita berbeda kepada setiap orang agar hari terasa tenang sementara.
Sesudah meja rapi, keduanya duduk dengan catatan yang cukup sederhana. Pekerjaan, waktu keluarga, dan kebutuhan bulan berikutnya. Tidak ada nama orang lain yang harus ditulis sebagai tempat meminta jalan keluar.
Frans bertemu mereka pada waktu yang disepakati. Wajahnya tidak langsung hangat. Dia masih marah pada cara pilihan dibuat dan pada banyak orang yang telah disakiti. Namun, dia bersedia mendengar mengenai pekerjaan Aldin serta rencana yang tidak lagi menggunakan keluarga Jack sebagai jalan keluar.
Caca berbicara langsung, tidak meminta Aldin menjawab seluruhnya. Perempuan itu mengatakan ingin menikah dengan lelaki tersebut pada waktu yang sungguh-sungguh mereka persiapkan, setelah urusan sebelumnya selesai dan kehidupan cukup jelas untuk dijalani.
Frans mendengar, menanyakan beberapa hal praktis. Dia tidak memberikan pesta besar untuk membuat cerita terdahulu tampak lebih pantas. Pada akhir pertemuan, lelaki itu mengatakan akan tetap menjadi ayah yang ingin mengetahui kabar, tetapi tidak akan menyebut semua yang terjadi benar.
Caca mengangguk. Jawaban itu dapat diterima tanpa memaksa pengampunan menjadi hadiah sebelum mereka melakukan apa pun.
Bu Mei mendengar rencana dari Aldin sendiri. Perempuan itu menanyakan yang perlu, mengatakan waktu serta bentuk pertemuan berikutnya akan dibicarakan ketika memang jelas. Dia tidak menggunakan kebahagiaan Erika untuk memberi persetujuan cepat kepada putra yang masih harus menunjukkan perubahan melalui hari-hari biasa.
Aldin menerima. Hubungan keluarga mempunyai jalan yang terbuka secukupnya, dengan tanggung jawab untuk tidak memaksa orang lain berjalan lebih cepat.
Jo mendengar kabar pekerjaan melalui Erika pada percakapan yang singkat. Gadis itu tidak meminta suami memberi tanggapan hangat atau menghubungi kakak. Dia hanya berbagi kabar keluarga yang kini tidak lagi datang sebagai permintaan diselesaikan.
Lelaki tersebut mengangguk, mengatakan semoga pekerjaan dijalani dengan baik. Setelah itu mereka kembali membicarakan hari masing-masing. Nama Aldin dapat muncul tanpa harus menguasai seluruh meja makan.
Pada satu akhir minggu, keluarga berkumpul di rumah Jack. Ammar serta Iccha datang dengan rencana yang sedang disusun. Jo dan Erika membawa kabar pekerjaan. Lina menunjukkan halaman yang baru selesai, sementara Kiki membawa dua salinan foto Mama untuk memastikan salah satunya tidak kembali berada terlalu dekat jendela.
Daddy melihat putri-putrinya membicarakan tempat bingkai, tersenyum dengan cara yang tidak langsung memberi komentar. Hubungan mereka belum kehilangan semua gesekan, tetapi Kiki kini dapat meminta sesuatu tanpa menyebut Lina sebagai penyebab luka lama.
Ketika adiknya menolak satu pilihan karena tidak nyaman, perempuan itu kesal sebentar, lalu mendengar alasan. Percakapan selesai tanpa orang lain harus berdiri memisahkan. Perubahan itu terlihat kecil bagi tamu, tetapi cukup besar bagi keluarga yang mengenal bertahun-tahun sebelumnya.
Sesudah makan, Daddy bercerita tentang Maira ketika diminta Lina. Kiki duduk ikut mendengar. Ammar serta Jo menambahkan yang memang diingat, mengatakan tidak yakin pada bagian yang samar.
Erika berada di sisi suami, menerima kesempatan mendengar tanpa menganggap dirinya harus mengubah cerita tersebut menjadi naskah. Ada kehidupan keluarga yang cukup disimpan sebagai percakapan.
Malam berakhir dengan beberapa orang membawa makanan pulang. Iccha mengeluh bahwa dirinya sudah kenyang tetapi tetap diberi satu wadah. Erika tertawa, mengatakan ia telah mengenali kebiasaan yang sama sejak belum menikah.
Dalam perjalanan kembali, Jo menanyakan apakah istrinya merasa terlalu lelah. Gadis itu menggeleng, menyandarkan kepala, lalu mengatakan senang semua orang mempunyai kabar yang tidak hanya mengenai satu kejadian lama.
Lelaki tersebut mengangguk. Dia tidak merasa semua kehilangan telah diganti. Persahabatan dengan Aldin tetap tidak kembali, pernikahan pertamanya tetap menjadi bagian yang pernah dijalani, dan beberapa ingatan masih dapat datang pada waktu tidak diminta.
Namun, hidup sekarang tidak lagi harus dibangun dengan meminta masa lalu memberi jawaban berbeda.
Erika meraih tangannya ketika mereka berhenti. Cincin pada jari terasa lebih akrab, hangat di antara genggaman yang tidak lagi hanya diberikan pada acara penting.
"Besok aku ingin menulis pagi," ujarnya.
"Aku ingin membaca sebelum kerja."
Gadis itu tersenyum. Mereka mempunyai rencana yang sederhana untuk hari berikutnya, dan untuk malam itu kesederhanaan tersebut sudah terasa seperti kehidupan yang benar-benar ingin diteruskan bersama.