Kiara mengemas baju yang akan ia bawa ke Jakarta. Dia merasa riang gembira sebab mendapatkan kesempatan besar untuk berkarir di Jakarta. Selain itu, ini kali pertamanya dapat duit banyak jadi tentu saja dia pantas untuk bahagia.
Tapi aku masih merasa kalau Doni terlalu cepat menggantikan korban tumbalnya dari Kiara ke aku. Walaupun itu hal wajar tapi perasaanku nggak enak soal ini tapi nggak bisa kujelaskan dengan kata-kata.
“Apa nggak bisa ditunda besok berangkatnya?” tanyaku sebab Kiara memilih penerbangan malam hari.
Aku merasa kalau ia mending berangkat pagi atau siang daripada malam seperti ini.
“Aku ada briefing jam tujuh pagi. Bagaimana bisa berangkat besok pagi? Kamu ini mengada-ada,” ujarnya masih sambil menata pakaian ke dalam kopernya.
Sepertinya Kiara nggak bakal mendenga