Aku dan Steve bersandar pada puncak sofa di luar ruangan. Pemandangan sore hari yang ditemani secangkir kopi memang selalu menjadi momen terbaik yang bisa kunikmati dalam masa-masa sulit ini.
Ah, maksudku bukan berarti kehidupan dan pekerjaanku yang selalu berkaitan dengan hantu ini rumit. Hanya saja susah sekali bisa punya waktu sendiri tanpa melihat sesuatu yang nggak seharusnya kulihat.
Di ujung pandanganku, ada sesosok hantu berambut panjang yang kita semua tahu, dia memang tinggal di pohon itu. Matanya yang merah memandangi kami, tetapi aku memilih untuk berpura-pura nggak melihatnya.
“Hon, kok kamu belum minum kopinya? Nanti keburu dingin, lho,” kata Steve, sembari meminum kopi miliknya sendiri.
Ia mendesah puas dan tersenyum ke arahku. “Suasana sore ini bagus ya? Kebetulan, ng