Alya menghampiri Kalina yang berada di kamar. Masih seperti biasa, wanita paruh baya yang ia panggil dengan panggilan Mama itu seolah tak suka saja jika hari-harinya ia habiskan di dalam kamar. Keluar pun juga dilarang. Jadi, ia harus melakukan apa?
Memilih diam, karena tak ingin memulai pembicaraan. Setelah memastikan kalau yang masuk adalah mamanya. Ia kembali fokus pada buku yang ia baca.
Menyodorkan sebuah map dan amplop di meja Kalina, membuat fokus gadis itu yang awalnya menatap buku, kini beralih.
“Mama sudah mengurus semua kepindahan kamu. Termasuk sekolah.”
Sontak, Kalina memasang wajah kaget mendengar itu. Ia memang menyetujui untuk pindah, tapi kenapa harus secepat ini. Setidaknya ia juga harus mengurus urusan pribadinya di sini.
“Mama kenapa nggak bilang dulu, sih, sam