Zean yang tadinya berniat tidur, setelah mendapatkan telepon dari Ken langsung panik. Seperti yang sudah-sudah, pasti sobatnya itu sekarang lagi sakit. Terdengar suara dia yang menahan sakit saat menelepon.
“Benar-benar lo, Ken ... nggak bisa bikin gue istirahat agak sebentar,” gumamnya gregetan.
Padahal baru berniat memejamkan mata, loh ... agar otaknya sedikit fresh untuk berpikir. Hanya saja waktu dan keadaan tak membiarkan itu terjadi. Dan sekarang, Ken lah yang berulah.
Menyambar kunci mobil dan bergegas pergi. Tujuannya kali ini tak bisa dipastikan kemana. Tapi yang jelas, pasti Ken berada di jalan menuju bandara. Karena tadi dia pamit ke sana untuk bertemu Kalina.
Mengemudi dengan kecepatan tinggi, berharap cepat sampai di posisi Kenzie. Sembari celingak-celinguk selama dalam pe