Malam harinya, kami kembali ke vila tepat waktu. Dito mengantarku sampai ke depan pintu kamar bahkan sampai Wulan keluar menyambut kepulangan kami berdua.
“Makasih ya Pak Dito, jalan-jalannya.” Aku tersipu malu menerima beberapa barang pemberian darinya.
“Boleh minta balasannya, nggak?” Dia menurunkan tubuhnya sambil mendongak menatap wajahku.
Wulan menggeram sekedar memberi kode bahwa dia ada di sana, seperti seorang mata-mata atau lebih tepatnya disebut ratu ular yang jahat, kejam dan menyebalkan.
“Sorry, ini sebentar aja kok,” ucap Dito mengacungkan telunjuk ke arah Wulan.
“Apa?” tanyaku.
“Jangan panggil Pak Dito bisa, nggak?” Ah, dia.Aku hampir saja tersedak saliva sendiri, namun cepat-cepat kualihkan pandangan ke arah lainnya. Entah apapun yang ada dalam benak Dito tapi rasanya aku mulai terbawa perasaan kalau begini.Setengah mati aku menahan agar bibir ini tidak tertawa meski rasanya wajahku seperti dihinggapi sekumpulan kupu-kupu lucu.
“I try,” jawabku sambil mengulum senyum.
Dito membentuk tangannya seperti pistol dan mengarahkannya pada Wulan, “Dor!” Wulan menarik bibirnya keluar membentuk huruf O kemudian menarikku masuk ke dalam kamar. Dia langsung menyodorkan cairan pembersih make up, segelas jus seledri, handuk dan pakaian ganti untukku.
Dia juga memeriksa ponselku untuk mengecek apa saja yang kami lakukan dan didokumentasikan, untung saja tidak ada. Aku tahu dia akan merazia semua barang pribadi milikku agar tidak meninggalkan jejak digital. Jika salah sedikit saja, pers akan bergolak dan aku akan kehilangan banyak kontrak, membuat otak matrealistis Wulan memberontak.
“Lima belas menit lagi Arjuna telpon ya, dia mau video call. Tadi gue bilang, lo lagi wawancara sama wartawan jadi ntar kalau dia tanya lo tau mesti jawab apa.”
“Gue ngantuk, Lan. Capek.” Aku melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan mengganti pakaian. Sengaja kuhabiskan lebih lama waktu di sana untuk menghindari bicara dengan Arjuna tapi dasar Nenek Lampir akalnya ada-ada saja, dia bilang papa menelponku. Memang benar, tapi bukan urusan penting sebenarnya yang sampai-sampai aku harus mempercepat urusan di kamar mandi.
“Juragan Darmono telpon, nyariin anaknya.” Wulan menyerahkan ponsel dan merentangkan kelima jarinya, menandakan waktuku berbicara hanya lima menit.
“Hallo, anak cantik papa. Bagaimana kabarmu, Nduk?” Suara papa menggema seperti biasa, membuatku kadang berjingkat karena terkejut.
“I’m fine, Pa. Mama mana?”Aku duduk di tepi ranjang, sementara Wulan langsung cekatan menyisir rambutku. Menarik ujung rambutku sekuat tenaga seakan ingin membuat kulit kepalaku terlepas dari batoknya. Wulan benar-benar seperti punya dendam pribadi kepadaku malam ini.
“Mama kamu zumba, mau ikut kompetisi katanya.” “Jadi Papa sendirian aja nih, sudah makan belum?”
“Pakai gel, Lan. Ya ampun kenapa dah ni orang,” bisikku saat kepala ini sampai menengadah ke atas gara-gara Wulan memaksakan menyisir ujung rambutku yang kusut.Papa terkekeh, sejurus kemudian kudengar adikku, Logan, berpamitan dan meminta sejumlah uang untuk berkencan dengan pacarnya.
Logan adalah satu-satunya saudara laki-laki yang kumiliki. Mama hampir kehilangan nyawa saat melahirkan dia, ditambah lagi saat kecil, Logan yang memiliki nama asli Dewa Kaisar Darmono Soetikno sering sakit-sakitan dan hampir meninggal.Setelah dihitung-hitung dan dicermati dengan seksama, konon katanya Logan keberatan nama, sehingga namanya diganti menjadi Aditya Darmono Soetikno dan menjadi Logan gara-gara dia sangat menyukai tokoh Wolverine.
“Sudah dulu, ya, Sarah. Adikmu lagi kumat.” Papa mematikan begitu saja sambungan telponnya sesaat setelah berdebat dengan Logan gara-gara uang sepuluh juta yang dihabiskan dalam waktu dua hari.
Wulan terdiam menatapku, “Arjuna ….”
Aku mengernyit saat Wulan memaksaku menerima panggilan video dari Arjuna, yang malam itu terlihat sangat tampan dengan tubuh shirtless berkeringat sehabis olah raga. Mungkin dia ingin menunjukkan bantalan-bantalan di perut six-packnya yang semakin kentara setelah mengikuti program pembentukan body di salah satu tempat kebugaran.
“Juna,” sapaku memaksakan senyum.“Hun, kamu lagi bicara sama siapa?” Arjuna mencebik sedih setiap kali aku memanggil namanya.
Dia selalu berkata bahwa hanya orang asing yang memanggil satu sama lain dengan menyebutkan nama, sedangkan kami berdua adalah sepasang kekasih, dia pasti akan protes sampai aku menganulir ucapanku.
“Sorry, Baby. Aku capek banget seharian pemotretan, kamu lagi ngapain sih?”
“Tadi ngegym, sekarang lagi ngelihat masa depan, ngobrol sama bidadari.”Kumat.
Aku berjalan menuju ke jendela, mengarahkan kamera ke luar agar Arjuna bisa melihat pemandangan di sana. Kolam renang yang luas berhiaskan lampu-lampu taman nan elok. Suasana yang benar-benar romantis malam itu.
“Tempatnya asik kayaknya, Hun. Mau liburan ke sana nggak, kapan-kapan.” Arjuna menyangga dagu dengan telapak tangan. Wajahnya sengaja didekatkan ke layar sehingga aku bisa dengan jelas melihat butiran-butiran keringat mengalir turun di lehernya. Begitu seksi dan menggemaskan pacarku malam itu.
“Kapan? Kalau udah nikah!” sergahku.
“Kan bisa di cicil dikit-dikit,” sahutnya.
“Apanya yang dicicil dikit-dikit? Nih ada-ada aja deh.
”Arjuna terkekeh mendengar jawabanku sambil menepuk wajahnya. Dia memang sering memancingku melakukan hal yang aneh-aneh dan kalah setiap kutembak dia untuk segera mengajakku untuk menikah.
Papa memberi syarat yang lumayan berat untuk bisa dipenuhi oleh Arjuna, di antaranya meminta laki-laki yang hendak meminangku untuk tinggal di salah satu pesantren untuk memperdalam ilmu agama selama enam bulan.
Meskipun Papa bukan orang yang taat, namun dia selalu berkata, bahwa ingin memperoleh menantu soleh dan bisa membimbing anak serta cucunya kelak. Papa selalu berkata bahwa masa depanku adalah tanggung jawabnya sehingga penting untuk mencari sosok pria yang benar-benar tepat untukku.
“Aku kangen kamu, Sayang. Kangen banget. Rasanya pengen terbang ke sana sekarang. Apa enaknya weekend ini aku nyusul ke Jakarta, ya?” Arjuna mengusap layar ponselnya, seakan ingin meluapkan kerinduannya kepadaku.
“Nggak usah, Baby. Kalau semua selesai, aku pasti akan cepet pulang ke Balikpapan, kok. Aku juga rindu.”
“Tapi bo’ong,” batinku.Obrolan kami berdua berakhir sekitar lima belas menit kemudian.
Wulan yang sudah terkantuk-kantuk langsung menyingkap selimut untukku. Hanya dalam hitungan menit, wanita itu mendengkur keras sekali seperti kelelahan sehabis menguras air laut.Sedangkan kedua mataku tak juga bisa terpejam, kemudian aku meraih ponsel Wulan untuk bermain game buah-buahan, namun mataku tertuju pada percakapan wasap antara wanita jahat ini dan Dito.
[Jadi, Sarah sudah menikah?] Pesan dari Dito yang kulihat tanggalkan tepat pada saat pertemuan kami yang pertama waktu itu.
[Hum, udah. Suaminya pengusaha tambang emas, galak dan brewokan.]Duh, apaan sih ini Wulan. Rasanya ingin kubekap wajahnya dengan bantal mumpung sedang terlelap. Bisa-bisanya dia, ah!
[Yah … gue telat dong ya]
[Hum, karena telat harus dihukum. Kencan sama managernya]
What the ….Aku langsung menyibak selimut dan memakai cardigan, pantas saja Dito begitu menjaga jarak denganku. Dia juga tidak merayuku secara terang-terangan apalagi berusaha mengajakku berkencan.
Wulan sialan!Langkahku terburu-buru menuju ke kolam renang sambil menelpon Dito dan mengajaknya bertemu saat itu juga. Dito sedikit heran tapi aku memaksa.
“Ada apa, Sarah?” Dito setengah berlari menuruni tangga menuju ke tempatku berada.
“Dito, kita harus meluruskan kesalah pahaman ini.”
“Oke, silahkan.”
“Kamu dan Wulan …. Kalian!” Wajah Dito berubah jadi tegang menatap wajahku, “Kayaknya kamu yang salah paham.”Aku dan Dito saling berpandangan, sepertinya kami berdua sama-sama salah paham.
Bersambung ....