Napasku seperti terhenti saat bertatapan dengan Dito. Aliran darahku seketika membeku. Kedua kaki ini mendadak sulit digerakkan meski kedua sudut bibir langsung mengarah ke atas bersamaan.
Demi apapun, malam itu Dito terlihat begitu mempesona dengan rambut yang masih basah dan menguarkan aroma shampo mint begitu maskulin.
"Sarah!"
"Dito!"
Kami sama-sama menoleh ke arah lain. Dito mengawang ke langit gelap yang terbungkus kabut tebal, sedangkan aku menatap pasrah pada rerimbunan pepohonan di sekitar tempat itu.
"Lo dulu yang ngomong," ucapku tanpa menoleh ke arahnya.
"Jadi sekarang bisa ngomong lo_gue ya, oke. Ladies first!" Dito mengajakku duduk di sebuah kursi taman yang letaknya sedikit tersembunyi di antara dua batu besar bertuliskan nama vila yang sedang dalam proses pemahatan.
Aku melipat tangan di depan d**a saat beberapa staf melintas, membungkukkan badan memberi hormat kepada Dito.
"Malam, Pak." Satu persatu mereka menyapa dengan sopan.
Dito mengangguk sedangkan aku beberapa kali mendengus kesal dengan gigi-gigi bergemeletuk menahan hawa dingin pegunungan yang mulai menusuk ke persendian.
Kedua lenganku saling bersedekap erat di depan d**a untuk meratakan panas tubuh yang mulai menggigil.
Dito membuka sweater warna biru yang dikenakan malam itu. Memakaikannya di tubuhku setengah memaksa padahal aku tahu dia juga pasti merasakan dingin yang sama.
"Well, ntar gue balikin ya sesudah di laundry." Sengaja kuatur agar bicaraku sedatar mungkin, supaya tetap terlihat dingin dan elegan.
"Nggak perlu, buat kamu aja. Kecuali ... kamu nggak suka."
Ah!
Aku hanya terdiam tak menimpali ucapannya seraya menunggu dan kurasa dia pun begitu. Dito berdeham sekali, kemudian sedikit membungkuk, lalu menoleh ke arahku.
"Buat apa sih lo mesti tanya-tanya masalah pribadi ke Wulan? Lo kan bisa tanya sendiri ke gue. Punya nomer gue, kan?" cetusku dengan nada bicara kesal.
"Oh, masalah yang mana nih? Kayaknya kita kudu nyamain tempo."
"Lo kira mau nge-band. Nyamain tempo segala."
Tangan Dito menjulur mencubit pipiku dengan gemas. Aku hanya mendengus kesal sambil pura-pura terganggu dengan sikapnya.
"Maaf," katanya.
"Gue nggak maafin."
"Trus gimana, dong? Ya udah, aku mau balik ke kamar. Ngantuk. Mau rebahan bentar trus tidur. Mau ikut, nggak?" Dito menggodaku.
"Nggak! Lo kira, gue cewek apa'an."
Dito mengempaskan duduknya dengan posisi lebih nyaman, padahal kukira sebelumnya dia akan pergi. Ternyata perkiraanku salah. Pemuda itu justru nampak menyatukan kedua tangan di kepala bagian belakangnya sambil mendongak ke atas.
Sesekali mata itu mengerjab dan bibirnya menguap. Malam memang semakin larut sehingga wajar saja Dito merasa sangat lelah.
"Gue bukan perempuan kayak gitu yang biasa lo pake setelah lo manfaatin, jangan salah paham. Gue nggak baperan, kok."
Dito beranjak dari duduk bersandar menjadi menegakkan posisinya dan memicingkan pandangan ke arahku.
"Gue nggak manfaatin lo, Sarah. Tapi kalau baperan, iya, gue baper, tapi gue sadar itu nggak baik. Tolong dikoreksi salah gue yang mana?"
"Trus kenapa lo pikir, baperan itu nggak baik?"
"Karena gue bukan Tony Stark yang ganteng, kaya raya dan bisa berubah jadi Iron Man. Lebih dari itu, gue tau, nggak baik mengagumi istri orang."
"Siapa istri orang?" sentakku dengan kedua mata membulat.
Dito menunjuk ke arahku sambil tertawa mengejek. Menurutku begitu, tapi dia bilang itu tawa antar dua sahabat. Tanpa beban, katanya.
"Makanya jangan sotoy jadi orang. Tanya kek sama yang bersangkutan. Tau dari mana lo, kalau gue sudah nikah. Lagian sorry, gue nggak butuh sahabat," sambungku sambil bersungut-sungut.
"Oke maaf. Gue balik ke kamar ya, ngantuk banget. Sumpah." Dito terlihat ingin menghindari perdebatan ini lebih jauh lagi.
"Masalah ini belum selesai, Dito. Nggak sopan ninggalin cewek malam-malam sendirian begini."
Dito beranjak berdiri sambil menungguku menyusulnya, "Gue antarin sampe kamar lo, yuk. Jangan tidur larut malam. Gue nggak mau sampai lo sakit."
"Bukan urusan lo."
Dito langsung meraih tubuh dan menggendongku dengan sedikit memaksa. Aku mengalungkan tangan di lehernya sambil untuk kesekian kalinya kami bertatatapan.
Jarak wajah kami berdua begitu dekat sampai-sampai aku bisa merasakan hembusan napas Dito yang menyapu di wajah.
Bahkan mungkin kami bisa merasakan degub jantung satu sama lain.
Sesekali Dito mengalihkan pandangan dan fokus ke jalanan menuju kamarku. Beberapa staf nampak menatap kami berdua dengan aneh, tapi Dito hanya mengangguk, menyertakan senyum segaris yang menjadi ciri khasnya.
"Gue belum pernah nikah sih dan emang lo nggak cocok jadi Tonny stark. Hhmm ... cocoknya jadi Clint."
"Atau Black Panther dan lo yang jadi Nakia-nya?"
Aku mengingat sesaat tokoh-tokoh yang sedang kami bicarakan, kemudian turun dari gendongan Dito sesaat setelah tiba di depan pintu kamar.
"Nakia nggak mau jadi istrinya Black Panther, gue nggak mau jadi Nakia."
Dito mengulas senyum dan menyentuh wajahku. Membuat serabut otot lurikku begitu sulit untuk digerakkan. Aku hanya bisa membeku di tempatku berdiri sambil memejam penuh penghayatan saat wajah Dito mendekat ke arahku.
Ya Tuhan, ini benar-benar romantis.
Sampai akhirnya aku tersadar, dia sedang mengusir nyamuk yang hinggap di wajahku. Padahal bibirku sudah siap menerima kejutan malam itu sehingga membuatnya sedikit terbuka dan mengundang marabahaya.
"Selamat malam, Nakia." Tangan Dito menelusup di jemariku, mengambil kartu akses pintu kamar dan menempelkannya hingga pintu itu terbuka.
"Gue bukan Nakia!" sungutku.
"Oke, kita ulangi. Selamat tidur, Sarah. Mimpi yang indah ya."
"Lo juga, dah sana balik ke kamar lo. Gue mau masuk!"
Dito mundur dua langkah kemudian berbalik. Rasanya aku kesal karena malam itu tak mendapatkan kejutan apa-apa, sampai akhirnya kuputuskan terus menatap tubuh Dito yang melangkah semakin jauh, namun tiba-tiba saja dia berbalik.
Mendapati aku yang sedang melamunkan dirinya penuh kecewa. Kami sama-sama berdiri terpaku di tempat masing-masing hingga akhirnya Dito kembali berjalan mendekat.
"Gue nggak suka lo sering ngobrol sama Wulan!" lirihku.
"Cuma ada dua alasan wanita nggak suka melihat pria mengobrol sama wanita lain, takut aibnya terbongkar atau yang kedua, dia sedang cemburu."
"Yang kedua."