Siang itu sesi terakhir pemotretan di vila milik Dito selesai. Beberapa kali aku menebarkan pandangan di antara pilar-pilar bangunan, menembus kaca-kaca berukuran raksasa pengganti sekat antara lobi dan taman serta kolam renang.
Mataku sangat liar bagaikan singa betina lapar, mencari sosok tampan yang semalam membuat debar-debar tak masuk akal hingga mataku seakan tak ingin terpejam.
Di ujung bibir ini sudah ingin bersuara, sekedar mencari tahu, mengapa dia tak nampak menyapaku pagi bahkan siang itu.
"Kita siap-siap kembali ke Jakarta. Sarah, cukup makan pastanya. Lo sudah naik sekilo selama sini. Mulai besok stop pasta, makanan berat dan cemilan nggak bermutu. Bulan depan lo mesti travelling ke Praha, pakai coat dari Chanel."
"Oke. Kita nggak nunggu yang punya vila dulu, nih. Mau balik gitu aja?"
"Nggak perlu. Pak Dito lagi meeting sama client yang mau booking vila ini selama satu Minggu buat acara nikahan anak pejabat. Buang-buang waktu, kita pulang aja ... tiga puluh menit lagi."
Wulan terlihat sibuk mengatur transportasi dan memastikan barang-barang tidak ada yang tertinggal di dalam kamar. Dia sangat teliti seperti ilmuwan sampai-sampai peralatan mandi yang disiapkan pihak vila amblas, digondol pulang.
Sikat, sampo, odol, sabun, cotton bud bahkan benang serta jarum, tak luput dari razia dadakan ala-ala Wulan. Semua itu akan dipakai untuk memandikan kucing-kucing miliknya.
Sedangkan odol dan sikat gigi, entahlah. Mungkin untuk menggosok gigi buaya. Buaya darat!
"Lan, gue mau renang dong." Aku berusaha mengulur waktu agar sempat bertemu dengan Dito.
"Buset! Sudah tinggal masuk ke mobil malah pengen renang? Kenapa sih lo? Dehidrasi?"
Wulan membuka lemari pendingin mini yang tersedia di dalam mobil. Menyodorkan sekaleng minuman ber-ion kepadaku sembari melotot.
"Nih, jangan aneh-aneh. Habisin."
Aku menjejakkan kaki dan menurut saja ketika Wulan menarik tanganku ke mobil. Kami kembali ke Jakarta tanpa sempat bertemu dengan Dito untuk berpamitan.
Menggantung? Benar!
Setibanya di Jakarta, aku langsung masuk ke apartemen dan tertidur begitu saja. Sedangkan Wulan dan kru lain kembali ke rumah masing-masing setelah memastikan semua berjalan sempurna.
Aku benar-benar kelelahan dan tak mengingat apapun selain perjalanan kami yang cukup menguras energi.
Tiba-tiba saja tubuhku tersentak saat menggelinding jatuh dari ranjang. Iya, saat mata ini terbuka, ternyata aku sudah menelungkup menindih karpet bulu-bulu tebal di bawah ranjang.
"Sial, aku nggelundung," umpatku dengan wajah bodoh.
Berkali-kali aku mengucak mata, mengembalikan hawa kehidupan yang semalam menghilang saat kesadaranku tumbang. Aku tidur tanpa beban, meski saat terbangun, hidupku kembali berat.
Aneh!
Langkah kaki ini begitu gontai menuju ke dapur, meraih tabung kaca bening berbentuk bulat pepat. Meletakkannya di bawah kucuran air mesin dispenser. Entah kenapa mendadak tenggorokanku rasanya mengering, benar-benar cekat.
Kusibak kelambu ruang tamu dan melihat ke arah kolam renang, sudah ada beberapa expatriat berendam dengan wanita-wanita berkulit eksotis di sana. Tetangga-tetangga di lingkungan tempat tinggalku kebanyakan memang warga negara asing.
Senyumku memudar saat melihat ponsel bergetar-getar di atas meja ruang tamu. Ini masih pukul tujuh pagi, selain iklan operator selular, penyedia pinjaman online dan raja-raja togel, siapa pula gerangan yang hendak menunaikan urusan sepagi ini?
"Jun," sapaku ketika nama Arjuna tertera di layar.
"Jan ... jun!" sentaknya.
"Baby, Arjuna. Hai. Masih jam tujuh pagi. Ada apa? Kamu nggak tidur semalaman?"
Arjuna mendengus kesal, "Kamu nggak baca pesanku semalam?"
"Apa?" Cepat-cepat kubuka pesan masuk darinya. Mataku membulat ketika mengetahui bahwa Arjuna menyusulku ke Jakarta pagi itu.
Lebih gila lagi saat menyadari saat itu hari Jum'at dan Arjuna pasti kembali hari Minggu hanya agar bisa berduaan denganku. Mungkin telinganya panas karena setan yang berbisik agar dia menyusulku.
"Sorry, ketiduran." Aku memukul dinding sesaat setelah mengepalkan tangan.
"Aku sudah mau naik pesawat, tiga jam lagi sampai. Cepat mandi, aku rindu. Pengen ... muah ... muah ...."
"m***m!" batinku merutuk.
"Iya, aku siap-siap dulu ya, nanti kujemput. Bye, Sayang. Hati-hati, ya."
Benda pipih itu kulempar di atas kursi, tapi segera kusambar lagi ketika satu pesan mencurigakan masuk dan sekilas terbaca di lockscreen.
[Maaf, kemaren gue sibuk dari pagi sampai malam. Nggak nyadar lo sudah balik, nggak bisa nemenin jalan-jalan.] Pesan dari Dito yang cukup membuatku sedikit terhibur.
[Nggak apa-apa, gue nyantai. Udah biasa.] Aku membalas ala-ala wanita drama dalam televisi ikan goreng.
[Maksudnya?]
[Gue sudah biasa disewa, dibayar, dilupain.]
Dito tak menjawab dan tiba-tiba saja dia offline. Entah apa yang sedang dia lakukan, tapi sesaat kemudian suara ketukan di pintu kamar membuyarkan lamunanku.
Langkahku terhenti, memikirkan siapa kira-kira yang datang. Kalau Wulan, lebih baik aku pura-pura mati.
Ketukan itu berulang, membuatku jadi penasaran dengan siapa yang bertamu pagi-pagi begini. Wulan biasanya mengabari kalau akan datang. Dia tidak terlalu menyukai kejutan, bahkan lebih mengharap sebuah penyambutan.
"Iya?" ucapku bersamaan dengan menarik kenop pintu. Kedua kakiku terasa lemah melihat sosok romantis dengan seikat bunga mawar putih di depan pintu.
"Dito!"
"Assalamu'alaikum. Mengganggu?"
"Engh ... Dito, ya ampun. Lo di sini? Wa'alaikum salam."
"Cuma pengen memastikan Wulan nggak bohong kali ini." Dito menyodorkan bunga di tangannya sambil mengulas senyum.
Kedua tanganku menyatu di belakang, seperti anak remaja yang bertemu pujaan hatinya. Hati ini berdebar-debar, hingar - bingar seperti pasar ketika sepasang mata itu seolah sedang mengajakku bermain tebak-tebakan.
"Bohong kenapa?" tanyaku malu-malu.
"Dulu gue pernah tanya sesuatu dan dia bohong, trus gue putus asa. Lalu gue tanya alamat lo, syukurlah nggak bohong lagi."
"Kalau dia bohong?"
"Gue nyasar atau dimarahi sama orang."
Aku mengajak Dito masuk ke dalam apartemenku. Laki-laki itu melihat-lihat foto-foto yang kupajang di dinding. Mulai dari gambarku mengenakan mahkota pemilihan ratu kecantikan dan juga, ah! Fotoku saat dicium Arjuna.
Dito menyentuh ujung bingkai warna putih itu. Membuat tanganku berhenti mengaduk teh di cangkir dan terhenyak sesaat.
"Ini Arjuna, kan?" tanyanya membuat aliran darahku langsung terasa membeku.
"Iya, Arjuna. Lo kenal?"
"Hm ... salah satu cowok popular di kampus dulu. Anak jurusan teknik."
"Lo tahu dari mana sih?"
"Ya tahu, dia sahabat gue waktu itu. Kami satu kamar waktu di Singapura."
Aku meletakkan dua cangkir teh di atas meja tamu dan menyusul ke sisi tempat Dito berdiri. Pria itu mengambil ponselnya dan membuka galeri yang berisikan foto seorang gadis cantik berambut kecoklatan.
"Ini pacar gue, waktu itu. Namanya Rosalin."
Mendadak bahuku merosot. Arjuna pernah bercerita bahwa dia dulu memiliki mantan terindah bernama Rosalin. Disebut terindah karena saat mendapatkannya, Arjuna sampai harus menyingkirkan seseorang dan dia menyebutnya, laki-laki kardus.
Gambaran seorang pria yang kalah dan menyerah saat wanitanya berpaling pergi bersama laki-laki lain tanpa bisa mempertahankan.
"Nggak usah dilanjutkan. Yuk minum teh dulu."
"Kenapa? Lo nggak pengen tahu sesuatu tentang masa lalu gue?"
"Bukan urusan gue bagaimana masa lalu lo, Dit. Gue bukan siapa-siapa yang berhak mengorek kehidupan lama orang lain karena gue juga nggak suka orang melakukan itu ke gue."
Tanganku menyambar poto itu dan melemparnya ke tempat sampah. Membuat Dito tergugu sesaat sebelum akhirnya menyusulku duduk di sofa.
"Nggak perlu dibuang kali, Sarah. Gambarnya bagus kok." Dito mengunciku dalam satu tatapan.
"Gue cuma jarang tinggal di apartemen ini dan nggak sempet beres-beres, untung lo datang trus lihat. Gue nggak harus nyimpan foto masa lalu, kan."
"Nggak harus tapi juga nggak dilarang."
Aku mengambil cangkir minuman dan ingin menyesapnya ketika kulihat Dito mengurut kening.
"Gue pamit dulu ya, Sar." Dito tiba-tiba beranjak dari kursinya.
"Gue cuma pengen ketemu lo, memastikan lo baik-baik aja dan tentang disewa, dibayar, dilupain. Gue nggak pernah menganggap lo sedangkal itu. Gue benar-benar peduli sama lo, Sar."
"Terus kenapa lo mau pergi gitu aja? Nggak boleh!" Langkahku sangat lebar membentangkan tangan di balik pintu. Melarang Dito keluar dari ruangan itu.
"Gue disekap nih?" Dito tertawa kecil dan aku mengangguk cepat.
"Iya, lo disegel!"
"Alhamdulillah disekap cewek cantik. Gue pura-pura sedih nih?"
Bibirku mengerucut ke depan saat melihat Dito menutup wajah dengan telapak tangan.