Hari demi hari dilalui Barry tanpa Cherry di sisinya. Tanpa kejelasan mengenai status hubungan mereka.
Barry pikir Cherry memang seperti itu, sebenarnya tak ada keseriusan dengannya. Dia tidak berusaha membujuk Barry sekeras biasanya. Dia bahkan tak pernah lagi muncul di kampus.
Mungkin, Papanya yang kaya raya itu telah membawanya ke suatu tempat agar tak lagi berhubungan dengan orang biasa sepertinya.
Barry menghela nafas. Ini hidup yang dia inginkan, sudah tak ada lagi Cherry yang sudah sangat merendahkan harga diri orang tuanya. Setidaknya itu menurutnya. Tapi, alih-alih lega yang dia dapatkan. Justru dia merasa hampa.
Dia duduk di bale kayu. Menatap ke arah rumahnya yang baru setengah jadi. Rumah sederhana bergaya Betawi itu kini berubah modelnya, letaknya juga agak mundur ke belak