Bagi Barry, suasana kampus ini tampak sangat suram. Kemanapun dia mengedarkan pandangan, tetap saja tak ada hal yang menarik perhatiannya. Hambar, sama dan seragam. Tak ada yang membuatnya bersemangat untuk masuk kelas.
Saat biaya kuliah sudah bukan menjadi masalah. Ketika dirinya hanya harus fokus pada kuliahnya saja. Agar segala citanya dapat tercapai.
Nyatanya tidak begitu. Dia gamang sekarang.
Hingga suatu pagi di bulan baru itu. Langkah gontai Barry tiba-tiba terhenti karena tak disangka berpapasan dengan seseorang di lorong menuju perpustakaan.
Barry menatap sepasang betis kurus dengan sepatu berwarna hitam berhak runcing. Dengan efek slow motion, Barry menaikan dagunya. Sesaat kemudian manik jernihnya menatap wajah manis yang dia abaikan dalam kerinduan di setiap hari.
Aluna