Barry bertambah parah galaunya. Semakin hari dia semakin tak punya semangat hidup. Dia banyak berpikir soal keadaannya kini. Waktu sudah berbaik hati padanya, terbukti dia kini tumbuh dewasa dengan sempurna. Dan, apakah kemudian dia akan menyalahgunakan semua itu? Dengan menjadi pengecut? Hanya karena hal yang dia sebut harga diri?
Dia tahu bahwa Cherry sama sekali tak bersalah. Ini hanya tentang keadaan yang sulit dan salah. Seolah dia hanya butuh kambing hitam untuk disalahkan. Agar perasaannya lebih baik.
Dengan menyalahkan Cherry dan meninggalkannya seperti itu. Dia merasa telah memperjuangkan harga diri dan kehormatan kedua orang tuanya. Apakah itu tidak keliru, Barry?
Dia tak punya siapa-siapa untuk diajak bicara. Setiap waktu dia habiskan untuk bergulat dengan nalarnya sendiri.