Jadwal resmi dari panitia pelaksana kampanye internasional akhirnya mendarat di layar ponsel Yuna. Dengan mantel wol yang masih tersampir di bahunya, ia menyerahkan perangkat tersebut langsung ke tangan Junwoo yang duduk di sofa ruang keluarga apartemen Hannam-dong.
Junwoo menerima ponsel itu, menatap deretan angka dan informasi yang tertera di sana dengan saksama. London. Durasi selama tujuh hari. Lokasi pemotretan terpusat di kawasan Notting Hill dan Southbank, didukung oleh Sora, dua asisten dari studio, serta tim stylist lokal yang telah dikontrak sebelumnya. Keberangkatan dijadwalkan tepat tiga minggu dari hari itu.
Setelah mengamati setiap detail jadwal tersebut selama beberapa detik, Junwoo mengembalikan ponsel itu ke tangan Yuna.
“Ambil,” ucap Junwoo singkat, suaranya tenang tanpa keraguan.
Yuna mengerjap, sedikit terkejut. “Kau tidak keberatan aku pergi selama seminggu penuh?”
“Aku akan merindukanmu, tentu saja,” jawab Junwoo, menarik dagu Yuna agar perempuan itu menatap matanya. “Tapi aku tidak akan pernah meminta seorang Jeon Yuna melepaskan peluang emas hanya karena aku tidak tahan berjauhan darinya.”
Yuna tersenyum lebar, langsung mendaratkan ciuman ringan di pipi pria itu. “Terima kasih, CEO Kim. Aku berjanji akan kembali sebelum kau sempat merasa kesepian.”
Di LUNE Studio, atmosfer kerja berubah menjadi jauh lebih dinamis. Papan moodboard besar di dinding dipenuhi sampel warna abu-abu urban, palet musim gugur, dan potongan majalah mode Inggris.
Yuna berdiri di tengah ruangan, memimpin rapat teknis bersama tim intinya. “Kita tidak bisa sepenuhnya mengandalkan cahaya alami di London pada bulan Oktober. Pastikan kita membawa lampu portabel berspesifikasi tinggi yang kompatibel dengan tegangan di sana.”
Sora mencatat cepat instruksi tersebut, sementara Eunseo sibuk memeriksa daftar perizinan lokasi di Southbank.
Di sudut lain, Dohyun turut membantu memeriksa kualifikasi filter lensa kamera medium format. “Aku sudah menguji beberapa filter densitas netral, Nona Jeon. Alat ini akan sangat membantu meredam pantulan cahaya di dekat jembatan Thames.”
“Bagus, Dohyun,” tanggap Yuna profesional, tanpa ada nada canggung sedikit pun. “Masukkan itu ke dalam daftar prioritas logistik.”
Di bawah arahan Yuna, LUNE Studio bergerak bukan lagi sebagai agensi butik lokal, melainkan sebuah entitas kreatif yang siap melangkah ke panggung global.
Di lantai atas menara pusat Kim Group, Junwoo menandatangani berkas akuisisi logistik terakhir yang disodorkan Jaehyun. Namun, di sela-sela kesibukan korporat tersebut, pikirannya berkelebat pada satu tanggal merah di kalender digitalnya: hari keberangkatan Yuna ke London.
Ia membayangkan perempuan itu mendarat di bandara Heathrow, melangkah di antara kerumunan asing, dan menghabiskan waktu berhari-hari di kota yang sama sekali berada di luar radius pengawasannya.
Ada rasa bangga yang luar biasa di dadanya—melihat perempuan yang dicintainya terbang tinggi meraih mimpi. Namun di saat bersamaan, sensasi asing merayap di balik d**a kirinya. Untuk pertama kalinya, dunia Yuna tumbuh begitu luas,melampaui batas-batas perlindungan yang biasa ia sediakan.
Junwoo menutup map dokumen di hadapannya. Ia belum berniat melakukan intervensi apa pun, tetapi benih kecemasan itu mulai berakar secara perlahan.
Malam minggu di sebuah restoran kontemporer di kawasan Itaewon dipenuhi gelak tawa tim LUNE Studio. Meja panjang di sudut ruangan penuh dengan hidangan lezat dan gelas-gelas kristal yang berdenting merayakan disetujuinya konsep awal kampanye London.
Yuna, yang biasanya paling membatasi konsumsi alkoholnya saat bekerja, malam itu membiarkan dirinya menikmati dua gelas wine bersama Sora. Suasana hati yang ringan membuat tawa dan obrolan mengalir tanpa beban.
Menjelang pukul sepuluh malam, acara perayaan dinyatakan selesai. Udara malam Itaewon yang dingin langsung menyapa kulit begitu mereka keluar ke trotoar.
Yuna menggelengkan kepala pelan, merasakan pening ringan yang menyenangkan di kepalanya—ia sedikit tipsy. Sadar bahwa dirinya tidak dalam kondisi aman untuk mengemudi, ia memutuskan meninggalkan mobilnya di area parkir restoran.
Ia merogoh tasnya, lalu mendial nomor ponsel Junwoo.
“Junwoo-ah...” sapanya begitu sambungan terhubung, nadanya terdengar sedikit lebih manja dari biasanya.
Di ujung sana, suara Junwoo langsung berubah siaga. “Yuna? Kau di mana? Kenapa suaramu seperti itu?”
“Aku di Itaewon... bersama tim,” jawab Yuna terkekeh pelan. “Aku sedikit tipsy, jadi aku tidak bawa mobil. Mobilku aman di parkiran restoran.”
“Jangan bergerak dari tempatmu,” perintah Junwoo tegas, tanpa nada marah, melainkan penuh instruksi mutlak. “Tunggu di dalam restoran. Aku akan menjemputmu sekarang.”
Kurang dari dua puluh menit kemudian, sebuah sedan hitam mewah berhenti di tepi jalan depan restoran Itaewon. Junwoo turun dari mobil dengan langkah cepat, mantel panjangnya tersibak angin malam.
Begitu melihat sosok pria itu, Yuna melangkah keluar dari pintu restoran dan langsung menghambur memeluk leher Junwoo begitu ia mendekat.
Junwoo reflek menahan pinggang Yuna agar perempuan itu tidak kehilangan keseimbangan. “Kau benar-benar minum,ya?” tanyanya gemas, meski tangannya langsung mendekap tubuh Yuna erat-erat.
Karena terlalu senang melihat Junwoo datang menjemputnya, Yuna mendongak lalu mengecup bibir pria itu secara spontan di trotoar malam tersebut. Junwoo sempat tertegun sebelum membalas ciumannya dengan lembut. Namun, tak lama kemudian, ia menarik wajah Yuna sedikit menjauh, menyisakan senyum tipis di bibirnya.
“Simpan itu untuk di dalam mobil, Nona Jeon. Kau sedang tidak sadar sepenuhnya,” bisik Junwoo lembut.
Selama perjalanan pulang, Yuna tidak berhenti bercerita—tentang kejahilan Sora, pujian dari tim, hingga antusiasmenya menghadapi proyek London. Junwoo mendengarkan setiap kalimat itu dengan sabar, sebelah tangannya menggenggam erat jemari Yuna di konsol tengah.
“Aku senang kau datang menjemputku,” gumam Yuna lirih menjelang mobil mereka memasuki area parkir apartemen.
Junwoo menoleh, menatapnya dengan sorot mata yang dipenuhi kehangatan mutlak. “Aku akan selalu datang kalau kau membutuhkanku, Yuna-ah.”
Di dalam apartemen Hannam-dong, Junwoo membantunya melepas mantel wol, lalu menyerahkan segelas air hangat yang langsung diteguk Yuna.
Yuna masih duduk di tepi tempat tidur, menatap pria yang berdiri di hadapannya. “Junwoo... katakan sejujurnya. Kau benar-benar tidak keberatan aku pergi ke London?”
Junwoo menghela napas sabar, duduk berlutut di hadapan Yuna dan merapikan helaian rambut yang menutupi dahi kekasihnya. “Aku akan merindukanmu setiap detik, Yuna. Tapi aku tidak akan pernah memintamu berhenti menjadi dirimu sendiri.”
Yuna mengulurkan tangan kirinya, menangkup pipi Junwoo. “Janji?”
Junwoo menggenggam tangan yang menempel di pipinya, mengecup telapak tangan itu perlahan. “Janji.”
“Junwoo-ah...” bisik Yuna, matanya mulai menyipit karena kantuk yang menyerang akibat sisa alkohol. “Duniaku memang besar. Tapi selalu ada tempat untukmu di dalamnya.”
Tak lama setelah kalimat itu meluncur, napas Yuna menjadi teratur; ia tertidur pulas dalam posisi duduk bersandar di bantal.
Junwoo dengan sangat hati-hati mengangkat tubuh Yuna, membaringkannya dengan nyaman di atas tempat tidur,menyelimutinya, dan menaruh segelas air di meja nakas. Ia sempat melirik layar ponselnya yang menampilkan jadwal perjalanan London milik Yuna.
Malam itu, kecemasan itu kembali menyapa. Namun, ia memilih menelan rasa takutnya mentah-mentah, menolak melakukan tindakan impulsif yang bisa mengekang kebebasan perempuan yang dicintainya.
Keesokan paginya, matahari pagi menyinari ruang keluarga apartemen. Yuna terbangun dengan sedikit rasa pening di kepala, sementara ingatannya berputar kembali pada kejadian semalam.
Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan, merasa malu sendiri mengingat bagaimana ia menelepon Junwoo dengan nada manja, memeluknya di trotoar Itaewon, hingga menciumnya secara spontan.
Ketika Junwoo keluar dari dapur membawa dua cangkir kopi, ia mendapati Yuna sedang menatapnya dengan pipi bersemu merah.
“Ada apa dengan wajah itu?” goda Junwoo, meletakkan cangkir di meja. “Merasa bersalah karena sudah membuat CEO Kim turun tangan menjemputmu dalam kondisi mabuk?”
Yuna mendengus, menyambar bantal sofa kecil dan melemparkannya tepat ke d**a Junwoo. “Jangan mengingatkanku!”
Junwoo menangkap bantal itu sambil tertawa renyah—suara tawa langka yang hanya bisa dikeluarkan di hadapan perempuan itu.
Menjelang jam keberangkatannya ke studio, Yuna merapikan tas kerjanya di dekat pintu. Ia berpamitan dengan senyuman lebar. “Aku akan pulang agak malam hari ini. Jangan terlalu merindukanku, Tuan Kim.”
Junwoo merapikan kerah mantel Yuna, menatapnya lurus-lurus. “Aku tidak bisa berjanji.”
Pintu apartemen tertutup. Langkah kaki Yuna melemah di balik lift yang membawanya turun ke lantai dasar.
Di dalam lorong yang kembali sunyi, senyum di bibir Junwoo perlahan memudar. Ia menatap pintu yang tertutup rapat itu dalam-dalam.
Untuk pertama kalinya dalam hidup, ia menyadari sebuah kebenaran yang menakutkan: ia mencintai Yuna justru karena kebebasan, ambisi, dan keteguhan jiwa perempuan itu. Namun di balik rasa bangganya, untuk pertama kalinya pula, ia diliputi ketakutan sunyi—ketakutan bahwa dunia Yuna akan terus berkembang begitu luas hingga suatu hari nanti,perempuan itu tidak lagi membutuhkan tempat berlindung di sisinya.
Untuk pertama kalinya, batin Junwoo getir, aku tidak takut pada orang lain. Aku takut pada dunia yang semakin besar di sekitar Yuna—dunia yang suatu hari mungkin bisa membuatnya tidak membutuhkanku lagi.