Kunci mobil berlambang perak terlepas dari genggaman Yuna begitu ia berdiri di ambang pintu apartemen Hannam-dong,bersiap melangkah keluar untuk menghadiri sesi awal peninjauan properti di studio. Ia menghentikan langkahnya,menepuk pelan dahinya sendiri.
“Mobilku,” gumam Yuna pelan, berbalik menghadap ke arah ruang tengah tempat Junwoo sedang mengenakan jam tangannya. “Semalam aku baru ingat... mobilku masih tertinggal di area parkir restoran Itaewon sejak malam perayaan bersama tim.”
Junwoo menurunkan tangannya dari pergelangan tangan, menatap kekasihnya dengan sebelah alis terangkat. “Ah, benar.Kau meninggalkannya di sana karena aku harus menjemputmu yang sedang tipsy dengan mobilku.”
“Aku benar-benar lupa mengurusnya karena terlalu sibuk dengan revisi anggaran,” aku Yuna, tersenyum kecil penuh rasa bersalah. “Biar nanti siang aku naik taksi ke sana.”
“Tidak perlu,” potong Junwoo tenang. Ia meraih ponsel di atas meja konsol. “Aku akan meminta Jaehyun mengatur pengambilan mobil itu dan mengirimkannya langsung ke basement LUNE Studio sebelum siang.”
Yuna mengerjap, merasa tidak enak karena melibatkan sekretaris Kim Group untuk urusan pribadinya. “Junwoo, itu hanya keteledoranku. Jangan repotkan sekretarismu—”
“Bukan kerepotan,” potong Junwoo lagi, melangkah mendekat dan merapikan helaian rambut Yuna yang berantakan.“Aku tidak ingin fotografer andalanku membuang waktu berharga hanya untuk mengurus kendaraan yang tertinggal.”
Yuna menghela napas pasrah, lalu mengecup sekilas pipi pria itu sebelum melangkah keluar pintu. “Terima kasih, CEO Kim. Aku berangkat.”
Di LUNE Studio, persiapan proyek promosi internasional di London telah memasuki tahap akhir yang menuntut konsentrasi penuh. Dinding utama dipenuhi deretan moodboard yang menampilkan palet abu-abu urban, koleksi mantel musim gugur, serta referensi arsitektur klasik Notting Hill dan Southbank.
Sora meletakkan cangkir kopi di samping tumpukan dokumen, lalu menatap Yuna dengan ekspresi serius. “Waktu keberangkatan kita tinggal sedikit kurang dari dua minggu, Chief. Beberapa rancangan teknis dan daftar perlengkapan harus diselesaikan minggu ini tanpa ada yang terlewat.”
“Semua persiapan berjalan sesuai rencana, Sora,” jawab Yuna mantap, memastikan tidak ada detail kecil yang terabaikan untuk proyek promosi internasional pertama mereka.
Di sudut ruangan, Dohyun yang sedang merapikan beberapa unit lensa utama mendongak mendengar percakapan itu.“Aku sudah memeriksa spesifikasi filter cahaya untuk cuaca di London, Nona Jeon. Kita butuh filter tambahan untuk mengurangi pantulan cahaya di area Southbank.”
Yuna menoleh, memberikan anggukan menghargai. “Bagus, Dohyun. Masukkan itu ke dalam daftar logistik utama.”
Hubungan di antara mereka tetap terjaga dalam koridor profesional yang ketat, menempatkan Dohyun sebagai rekan kerja dan pendukung teknis yang andal bagi LUNE Studio.
Di lantai atas menara Kim Group, Junwoo menyelesaikan rangkaian rapat bisnis dan penandatanganan dokumen akuisisi perusahaan logistik baru. Sela-sela kesibukannya terisi oleh laporan singkat dari Jaehyun bahwa mobil Yuna telah berhasil diambil dari restoran Itaewon dan diparkir dengan aman di basement LUNE Studio.
Junwoo langsung meneruskan informasi itu kepada Yuna lewat sebuah pesan singkat. Tak lama kemudian, balasan dari Yuna muncul di layar ponselnya: Terima kasih banyak, Junwoo. Kau penyelamatku hari ini.
Namun, dalam beberapa hari berikutnya, ritme komunikasi mereka mulai berubah.
Pesan Yuna semakin singkat karena kesibukan studio; panggilan makan siang yang biasanya mereka lakukan mulai dibatalkan; dan beberapa rencana makan malam bersama tidak terlaksana. Setiap kali Yuna menelepon untuk meminta maaf dengan suara lelah, Junwoo selalu merespons dengan kalimat yang sama: “Tidak apa-apa, selesaikan pekerjaanmu dulu.”
Ia benar-benar mendukung kesibukan Yuna, tetapi setelah panggilan telepon itu berakhir, kesunyian di ruang kerja pribadinya mulai terasa begitu nyata di tengah dunianya yang besar.
Hampir mendekati tengah malam ketika pintu apartemen Hannam-dong berderit terbuka. Yuna melangkah masuk dalam kondisi kelelahan yang luar biasa, menjatuhkan tas kerjanya di lantai dekat pintu.
Di ruang keluarga, Junwoo yang tadinya sibuk dengan laptop langsung menutup perangkat tersebut dan bangkit menghampiri kekasihnya.
Junwoo tidak memarahi Yuna karena pulang terlambat. Ia justru menggenggam tangan Yuna, menatap wajah perempuan itu yang terlihat pucat. “Mandilah dan berganti pakaian terlebih dahulu.”
Setelah Yuna selesai membersihkan diri, Junwoo menariknya duduk di pangkuannya saat perempuan itu hendak mengambil air minum.
“Kalau kau kembali meninggalkan mobil sembarangan,” goda Junwoo lembut sambil mengecup pelipis Yuna, “sepertinya aku harus menugaskan pengawal pribadi untuk memastikan kau tidak mengulanginya.”
Yuna tertawa kecil, menyandarkan tubuhnya pada d**a Junwoo. Di tengah kesibukan yang semakin padat, rumah ini tetap menjadi satu-satunya tempat di mana ia merasa aman dan diterima sepenuhnya.
Dalam suasana ruang keluarga yang lebih tenang, Yuna mulai membicarakan sesuatu yang selama ini mengganggu pikirannya. Ia menatap jemari mereka yang saling bertautan di atas meja.
“Junwoo... aku sering memikirkan perbedaan skala kehidupan kita,” ucap Yuna lirih. “Kau adalah CEO kelompok perusahaan besar dengan posisi sosial yang sudah mapan. Sementara aku... aku masih berjuang membawa LUNE ke panggung internasional.”
Junwoo memegang wajah Yuna, memaksa perempuan itu menatap lurus ke dalam matanya. “Apa yang sedang kau pikirkan, Yuna?”
“Aku bertanya-tanya apakah diriku cukup pantas berdiri di sampingmu,” lanjut Yuna jujur, menyuarakan ketakutannya bahwa dunianya terlalu kecil dibandingkan kehidupan Junwoo.
Junwoo menatapnya dengan sorot mata yang sarat akan ketegasan mutlak. “Jangan pernah berdiri di belakangku.Berdirilah di sampingku.”
Ia merapatkan jarak, menegaskan bahwa ia tidak memilih Yuna karena status, kekayaan, atau besarnya dunia yang dimiliki perempuan itu, dan ia tidak ingin Yuna mengecilkan ambisinya hanya demi menyesuaikan diri dengan kehidupannya.
Melihat keraguan di mata Yuna perlahan mencair, Junwoo mengusap pipi kekasihnya dan menambahkan sebuah informasi yang telah lama tersimpan di kepalanya. “Ngomong-ngomong... orang tuaku sudah beberapa kali bertanya kapan kita akan meresmikan hubungan ini.”
Yuna terperanjat kecil, matanya melebar. “Orang tuamu?”
“Setelah lebih dari empat tahun bersama, aku sudah tahu ke mana masa depanku akan berjalan,” jawab Junwoo tenang,memastikan Yuna mengerti bahwa arah masa depan itu hanya memiliki satu nama.
Setelah percakapan tersebut, Junwoo mengangkat tubuh Yuna menuju kamar utama. Mereka berbagi momen intim yang hangat dan penuh makna, kemudian adegan beralih secara fade to black.
Pada kesempatan berikutnya, di ambang pintu apartemen menjelang jam keberangkatan Yuna ke studio, Junwoo membantu merapikan mantel wol perempuan itu. Mereka berbagi ciuman singkat di depan pintu, lalu Yuna masuk ke dalam lift.
Setelah pintu lift tertutup, Junwoo tetap berdiri sendirian di lorong lantai apartemen.
Ia bangga melihat karier Yuna berkembang pesat, tetapi ia mulai menyadari bahwa dukungan dan cinta tidak otomatis menghilangkan ketakutannya terhadap perubahan ritme hidup mereka. Namun, alih-alih mencoba mengendalikan keadaan, ia berharap mereka dapat mencapai masa depan yang sama bukan dengan meminta salah satu pihak berkorban,melainkan dengan memilih untuk berdiri sejajar.
Masa depan mereka harus dibangun melalui pilihan bersama, bukan pengorbanan sepihak.