Pagi baru saja merekah ketika Yuna melangkah masuk ke LUNE Studio. Ruangan itu masih hening, tetapi Yuna sengaja datang lebih awal dari biasanya. Di atas meja kerjanya, bertumpuk berkas shot list, sampel busana, jadwal lokasi pemotretan, hingga draf koordinasi dengan tim lokal di London yang harus segera difinalisasi.
Ia duduk di kursi kerjanya, menatap draf concept board yang terpajang di layar monitor. Ada binar bahagia yang tak bisa disembunyikan dari matanya. Ini bukan sekadar pemotretan luar negeri biasa—proyek campaign ini adalah batu loncatan terbesar yang benar-benar akan membawa nama LUNE Studio ke kancah internasional.
Suara langkah kaki mendekat. Sora masuk membawa cangkir kopi hangat dan meletakkannya di meja Yuna.
"Kau datang pagi sekali," ujar Sora sembari menyodorkan daftar kebutuhan teknis terakhir. "Semua perizinan lokasi di Notting Hill dan Southbank sudah dikonfirmasi. Tinggal menunggu verifikasi akhir besok."
Yuna menerima berkas itu, meneliti baris demi baris dengan cermat. "Peralatan cadangan dan lampu portabel sudah dipastikan masuk daftar bagasi khusus?"
"Sudah diurus Sooyoung," sahut Sora. Ia lalu menyandarkan punggungnya di tepi meja, menatap Yuna dengan senyum tipis. "Tinggal beberapa hari lagi, Yuna."
Yuna mengalihkan pandangannya dari layar, mengulas senyum mantap. "Aku tahu."
Namun, di balik kegembiraan dan ambisi profesionalnya yang meluap, sebersit kesadaran halus menyelinap di benak Yuna. Keberangkatan ke London ini bukan hanya tentang pencapaian kariernya, melainkan juga ujian pertama bagi keseimbangan antara impian yang sedang ia kejar dan hubungannya bersama Junwoo.
Di gedung pencakar langit Kim Group, jam dinding ruang kerja eksekutif menunjukkan pukul dua siang. Junwoo duduk di balik meja kerja marmer hitamnya, menyimak laporan anggaran kuartal depan yang disodorkan sekretarisnya. Suasana ruangan berpendingin udara itu terasa tenang dan dingin.
Usai sekretarisnya pamit keluar, Junwoo menyandarkan punggung pada kursi kulitnya. Secara refleks, jemarinya terulur meraih ponsel di samping keyboard.
Layar gawai itu hening. Tidak ada notifikasi pesan singkat atau foto suasana studio yang biasanya dikirimkan Yuna di sela jam istirahat siang.
Junwoo tahu betul Yuna sedang tenggelam dalam persiapan akhir sebelum terbang ke Inggris. Tidak ada prasangka buruk, tidak ada rasa curiga. Namun, saat ia meletakkan kembali ponselnya tanpa mengetik pesan apa pun, apartemen dan ruang kerjanya terasa sedikit lebih hening dari biasanya. Untuk pertama kalinya, Junwoo menyadari satu hal: memahami kesibukan seseorang yang dicintai tidak otomatis membuat rasa sepi itu lenyap.
Malam harinya, meja makan di apartemen sudah tertata rapi. Makanan hangat yang dipesan Junwoo masih mengeluarkan asap tipis.
Suara jarum jam berdetik hingga melewati pukul delapan malam sewaktu kenop pintu depan berbunyi. Yuna melangkah masuk dengan napas sedikit terengah, melepaskan mantel kerjanya dengan terburu-buru.
"Aku terlambat lagi, Junwoo-ah," ujar Yuna penuh rasa bersalah begitu mendapati Junwoo sedang berdiri menyeduh air di dapur.
Junwoo menoleh, menatap wajah kusam wanita itu dengan raut tenang yang tak tertebak. "Aku tahu."
Tidak ada nada benci, tidak ada bentakan, dan tidak ada sindiran. Justru ketenangan Junwoo yang begitu konsisten membuat d**a Yuna semakin dihinggapi rasa tak enak hati. Yuna melangkah mendekat, mendudukkan diri di sofa tempat Junwoo baru saja duduk, lalu menyandarkan kepalanya erat di bahu tegap pria itu.
"Aku benar-benar akan menebusnya setelah pulang dari London nanti," bisik Yuna pelan, menyusupkan jemarinya di antara jemari Junwoo.
Junwoo memiringkan kepala, menatap mata Yuna dari dekat. "Jangan membuat janji hanya karena kau merasa bersalah, Yuna-ah."
Yuna terdiam, menghentikan usapan tangannya.
Junwoo mengangkat tangannya yang bebas, mengusap lembut helai rambut Yuna yang terurai di bahu. "Aku tahu proyek ini sangat penting untukmu."
Sikap dewasa Junwoo mengunci kata-kata Yuna. Pria itu sama sekali tidak mencoba menghambat langkahnya, melainkan berdiri kokoh menjadi tempatnya bersandar.
Usai makan malam singkat, Yuna membentangkan lembaran jadwal itinerary final di atas meja ruang keluarga.
"Nanti di sana jadwalnya akan sangat padat," terang Yuna sembari menunjuk beberapa kolom waktu. "Proses pemotretan dilakukan sejak pagi hari, lalu ada perpindahan lokasi ke beberapa titik, dan malamnya harus berdiskusi dengan tim pengarah gaya lokal. Aku mungkin tidak bisa meneleponmu setiap hari."
Junwoo menyimak setiap rincian itu dengan tenang, jemarinya mengusap lembut punggung tangan Yuna. "Aku mengerti."
Yuna menatap profil samping wajah Junwoo, mengamati mata gelap yang selalu memancarkan ketenangan kaku tersebut. "Kau benar-benar tidak keberatan?"
Junwoo membalas tatapan Yuna, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang sarat akan kejujuran. "Aku akan merindukanmu, Yuna-ah. Itu hal yang berbeda dengan keberatan."
Senyum manis mengembang di bibir Yuna. Rasa hangat merayap di dadanya, membuat jemarinya menggenggam erat tangan Junwoo di atas meja.
Namun, keheningan malam yang perlahan merayap membawa pikiran Yuna kembali pada riak kecemasan yang sempat mengusiknya. Ia memandangi Junwoo—pria dengan karier yang begitu mapan, reputasi sempurna, dan posisi sosial yang tak tergoyahkan sejak lahir.
"Junwoo-ah..." panggil Yuna pelan.
"Hm?"
"Kadang aku takut... suatu hari nanti hidupmu terlalu besar untukku," gumam Yuna jujur, menyuarakan keraguan kecil yang timbul dari kontras posisi mereka.
Garis rahang Junwoo seketika mengeras. Pria itu memutar tubuhnya menghadap Yuna sepenuhnya, menatap wanita itu dengan kedalaman rasa yang menuntut perhatian utuh.
"Yuna," panggil Junwoo, nada suaranya berubah menjadi sangat dalam dan tegas.
Yuna tertegun, terdiam mengunci bibirnya.
"Jangan pernah jadikan pekerjaanku atau posisiku sebagai alasan untuk meragukan tempatmu di hidupku," ujar Junwoo, suaranya rendah namun tak terbantahkan. Ia menggenggam kedua tangan Yuna lebih erat, seolah tak membiarkan keraguan itu meloloskan diri. "Aku tidak membutuhkanmu untuk menjadi seperti aku. Aku hanya ingin kau tetap menjadi Yuna."
Penegasan yang begitu kuat itu menghantam d**a Yuna, meruntuhkan sisa-sisa rasa insecure yang mengendap dan menggantinya dengan kepasrahan yang utuh.
Atmosfer di antara mereka perlahan mencair. Yuna mendesah pelan lalu menyandarkan tubuhnya di d**a bidang Junwoo.
Ingatannya mendadak melayang pada pembicaraan mereka beberapa hari lalu. Yuna menengadah, mengulas cengiran tipis. "Kau masih mengingat kejadian di Itaewon semalam?"
Junwoo menunduk, menatap Yuna dengan alis terangkat sebelah. "Sulit untuk dilupakan."
Wajah Yuna seketika memerah merona. Ia memukul pelan lengan tegap Junwoo. "Jangan dibahas lagi, Junwoo-ah!"
Junwoo terkekeh pelan—sebuah tawa renyah yang jarang terdengar oleh orang luar. Mereka bersenda gurau di sofa remang itu, memamerkan keakraban dan kenyamanan alami dari dua manusia yang telah lebih dari empat tahun berbagi napas dan ruang yang sama.
Saat malam semakin larut dan kantuk mulai menyapa, Yuna berdiri di depan Junwoo yang masih terduduk di tepi peraduan. Yuna membungkuk, melingkarkan kedua lengannya di leher Junwoo dan memeluk pria itu erat-erat.
"Tunggu aku pulang, ya?" bisik Yuna lembut di dekat telinga Junwoo.
Junwoo membalas pelukan itu, melingkarkan lengannya di pinggang Yuna dan menyembunyikan wajahnya di perpotongan leher wanita itu. "Aku selalu menunggumu."
Junwoo menengadah, menarik tengkuk Yuna perlahan lalu menyatukan bibir mereka dalam ciuman yang dalam, lambat, dan sarat akan kerinduan yang menggebu. Kehangatan napas yang menyatu dan tautan jemari mereka yang kencang mengikat malam itu dalam keintiman emosional yang pekat.
Pintu kamar perlahan tertutup rapat.
Keesokan paginya di LUNE Studio, lembaran cetakan itinerary final sudah tergeletak rapi di atas meja kerja Yuna. Tanggal keberangkatannya ke London tercetak dengan warna hitam tegas di bagian atas kertas. Tinggal beberapa hari lagi.
Yuna berdiri memandangi dokumen itu, membelai tepi kertasnya dengan senyum berbinar antusias. Langkah besar dalam hidupnya sudah berada tepat di depan mata.
Di tempat lain, di dalam ruang kerja megahnya di Kim Group, Junwoo baru saja menerima salinan draf jadwal penerbangan Yuna yang dikirimkan oleh asistennya atas instruksi keamanan.
Junwoo duduk terdiam di kursi eksekutifnya, menatap tanggal keberangkatan yang tertera di layar gawai selama beberapa saat. Tidak ada niat sedikit pun di hatinya untuk menahan langkah Yuna. Namun, di dalam keheningan ruang kerjanya yang dingin, sebuah kesadaran menghantam sang CEO dengan teramat nyata:
London akan menjadi tempat pertama di mana kehidupan Yuna berjalan jauh mengepakkan sayapnya—tanpa ada dirinya di sisi wanita itu. Dan bagi Kim Junwoo, itu adalah benih dari sebuah perasaan asing yang belum pernah ia rasakan sebelumnya: ketakutan teramat sangat akan ditinggalkan.