Area tengah LUNE Studio dipenuhi beberapa kardus perlengkapan fotografi berukuran sedang yang sedang dikemas rapi.Di atas meja kerja utama, Yuna memeriksa paspor, dokumen perizinan untuk wilayah Notting Hill dan Southbank, serta tiket penerbangan elektronik.
Sora melangkah mendekat sambil menyerahkan lembar draf akhir itinerary. “Semua jadwal dan dokumen perjalanan sudah lengkap. Tapi kau harus siap fisik, Yuna. Berdasarkan rincian dari agensi lokal di London, total durasi perjalanan ini akan memakan waktu sembilan sampai sepuluh hari, termasuk penerbangan panjang dan hari briefing awal sebelum eksekusi pemotretan.”
Yuna membaca jadwal yang tertera di kertas tersebut—padat, tersusun rapi dari pagi hingga malam. Ada binar antusias yang tak bisa ia sembunyikan; proyek promosi internasional ini adalah gerbang utama bagi LUNE untuk menembus pasar global.
Namun, di sela-sela rasa bangga itu, sebuah kesadaran sunyi tiba-tiba menghantam dadanya. Untuk pertama kalinya sejak mereka tinggal bersama, ia akan berada di zona waktu yang berbeda dan tempat yang sangat jauh dari Junwoo dalam kurun waktu yang tidak sebentar.
Di lantai atas menara pusat Kim Group, Junwoo menatap layar tabletnya yang menampilkan salinan digital jadwal penerbangan dan itinerary perjalanan Yuna.
Ia membaca setiap rinciannya dengan teliti—hotel tempat Yuna menginap, lokasi pemotretan luar ruangan, hingga jadwal harian yang padat. Sebagai kepala korporasi besar, ia memiliki sumber daya dan kekuasaan mutlak untuk mengatur ulang jadwal bisnisnya, bahkan memindahkan sebagian urusan penting ke kantor cabang mereka di Eropa dalam hitungan jam.
Pikiran untuk ikut terbang ke London sempat berkelebat di benaknya. Ia bisa membayangkan dirinya menemani Yuna ke lokasi pemotretan, menunggunya menyelesaikan sesi kerja yang panjang, lalu menikmati makan malam tenang di sudut kota London bersama perempuan itu.
Namun, bayangan itu segera ia tepis. Junwoo tahu persis bahwa kehadiran fisiknya di sana justru akan memecah fokus Yuna, membuatnya merasa harus membagi perhatian antara pekerjaan dan kekasihnya.
Dengan rahang yang mengetat perlahan, Junwoo menutup dokumen di tabletnya. Untuk pertama kalinya, ia secara sadar menolak menggunakan kekuasaannya demi memuaskan keinginan pribadinya sendiri.
Malam harinya, ponsel di atas meja kerja apartemen berdering. Yuna menelepon langsung dari ruang kerjanya di studio.
“Junwoo-ah,” sapa Yuna dengan suara yang terdengar lelah namun bersemangat. “Ternyata jadwal di London jauh lebih padat dari perkiraan awalku. Aku baru menyadari betapa melelahkannya mengatur logistik lintas negara.”
Junwoo bersandar di kursinya, jemarinya mengetuk pelan meja. “Aku sudah membaca jadwalnya. Pastikan kau tidak melewatkan waktu istirahat di sela-sela kesibukanmu.”
“Apakah... kau benar-benar tidak keberatan aku pergi selama hampir sepuluh hari penuh?” tanya Yuna, ada nada ragu yang tipis di ujung kalimatnya.
Junwoo terdiam sepersekian detik sebelum menjawab dengan suara rendah yang menenangkan. “Aku akan merindukanmu setiap hari, Yuna. Tapi aku sama sekali tidak keberatan dengan perjalananmu. Ini impianmu.”
Di ujung telepon, Yuna tersenyum lega. Ia tidak pernah tahu bahwa di balik kalimat datar dan menenangkan itu, pria di seberang sana sedang menahan sekuat tenaga keinginan egois untuk ikut mengepak kopinya dan terbang bersama ke London.
Malam terakhir sebelum keberangkatan tiba lebih cepat dari yang mereka bayangkan. Yuna pulang lebih awal untuk merapikan sisa barang bawaannya.
Di dalam kamar utama, sebuah koper besar berwarna gelap terbuka lebar di atas tempat tidur. Yuna berlutut di sisinya, memilah mantel wol, pakaian kasual, dan berbagai perlengkapan pribadi dengan teliti.
Junwoo berdiri di ambang pintu kamar, mengawasi setiap gerak-gerik perempuan itu dalam diam. Tak lama kemudian, ia melangkah masuk, berlutut di sebelah Yuna, dan membantu melipat beberapa helai pakaian dengan rapi sebelum memasukkannya ke dalam koper.
Tidak ada percakapan berat atau keluh kesah di antara mereka. Keheningan di kamar itu dipenuhi oleh kenyamanan yang telah terjalin selama bertahun-tahun.
“Junwoo,” panggil Yuna pelan, mendongak menatap pria di hadapannya. “Kau benar-benar akan baik-baik saja selama aku di London?”
Junwoo tersenyum tipis, mengusap rahang Yuna dengan punggung jarinya. “Aku akan baik-baik saja. Hanya...merindukanmu sedikit lebih banyak dari biasanya.”
Keheningan malam di apartemen Hannam-dong terasa pekat. Di luar jendela, kerlap-kerlip lampu kota Seoul perlahan meredup seiring berjalannya waktu, namun di dalam kamar utama, mata Junwoo masih terbuka lebar.
Ia duduk di tepi tempat tidur, memandangi koper besar berwarna gelap milik Yuna yang berdiri tegak di dekat lemari—simbol fisik dari kepergian yang sudah di depan mata.
Di dalam dadanya, keinginan untuk ikut terbang merayap begitu kuat, seolah menuntut untuk segera disuarakan. Junwoo meraih ponselnya yang tergeletak di atas nakas. Layar menyala, menampilkan pantulan wajahnya yang tegang. Dengan beberapa ketukan jari yang sudah hafal di luar kepala, ia membuka aplikasi pemesanan tiket penerbangan internasional.
Ia mencari jadwal penerbangan dari Incheon menuju London Heathrow. Dalam hitungan detik, layar ponselnya memuat daftar penerbangan yang tersedia—termasuk satu jadwal maskapai komersial eksekutif yang berangkat tepat di hari dan jam yang sama dengan keberangkatan Yuna.
Jempol Junwoo melayang di atas tombol konfirmasi. Hanya satu sentuhan.
Sebagai CEO Kim Group, memesan kursi kelas utama dan mengatur akomodasi mewah di London bukanlah hal yang sulit baginya. Ia bisa saja mengejutkan Yuna di bandara, menaiki pesawat yang sama, dan berdiri di samping perempuan itu setibanya di Eropa. Keinginan egois itu berbisik lembut, menawarkan jalan keluar instan untuk mengikis rasa takut akan jarak yang membentang.
Namun, pandangannya perlahan beralih ke arah tempat tidur.
Yuna tidur dengan posisi miring, wajahnya tampak begitu damai dan bebas dari segala beban. Napasnya teratur,mencerminkan ketenangan seorang perempuan yang merasa aman di dalam dunianya sendiri, sekaligus merasa dicintai tanpa harus dikekang.
Junwoo menatap wajah itu dalam-dalam. Ia menyadari sebuah kebenaran yang pahit namun mendalam: jika ia memesan tiket itu dan ikut pergi ke London, ia tidak sedang mendukung impian Yuna. Ia sedang merusak esensi dari perjuangan perempuan itu. Ia sedang menunjukkan bahwa ia tidak percaya Yuna mampu berdiri di atas kakinya sendiri di panggung internasional.
Rasa takut kehilangan tidak boleh dibiarkan berubah menjadi kendali yang mencekik.
Dengan gerakan lambat dan penuh kesadaran, Junwoo menekan tombol daya pada ponselnya. Layar itu padam, kembali membungkus ruangan dalam kegelapan. Ia meletakkan perangkat tersebut kembali ke meja nakas, lalu berbaring di samping Yuna, merengkuh tubuh perempuan itu ke dalam dekapannya dengan lembut.
Malam itu, Junwoo memilih untuk tidak memesan tiket. Ia memilih untuk memenangkan pertempuran melawan egonya sendiri, demi memberikan Yuna kebebasan yang seutuhnya.