“Jadi kamu tahu?” Ucap Chu Zhao dingin.
“Ya.” Ji Yuan mengangguk yakin.
“Dapatkah kamu dipercaya?” Tanya Chu Zhao lagi. Kali ini ekspresinya tajam dan keras.
Ji Yuan merasakan sedikit sesak melihatnya.
“Dia pasti berbohong. Wanita yang mencoba menipu Jendral. Apa kamu mau mat*?!” Wang Yi’an kembali bersuara.
“Itu terserah padamu. Kamu yang membawa aku kesini. Kamu tau apa nilaiku.” Ji Yuan mendesah pelan.
“Jika tidak ada lagi, aku pergi.” Ji Yuan melangkah menuju pintu dimana Song Yaoyi menghilang tadi.
“Tunggu…” Chu Zhao menahannya. Dia berjalan kembali ke set meja dan kursinya. Duduk disana dengan tenang.
“Katakan yang kau tahu. Kami akan membayarmu sesuai dengan ke benaran informasi mu dan manfaatnya buat kami.” Chu Zhao kembali bersuara.
“Tidak. Kamu berikan aku harga yang ku mau, lalu aku akan memberikan informasinya pada mu. Jika tidak aku akan pergi.” Ji Yuan tersenyum dengan sedikit sinis.
“Siapa yang bilang kamu boleh pergi?” Chu Zhao menatap Ji Yuan tajam dan mengancam.
Tiba – tiba, Ji Yuan merasakan bulu dilehernya merangkak naik dengan cepat. Debaran jantungnya menggila. Tatapan itu, dia yakin jika Chu Zhao sangat bersungguh – sungguh.
“A-Apa maksudmu aku tidak bisa pergi?” Ji Yuan merasa gugup sekarang. Tubuh asli Ji Yuan sangat lemah. Dia tidak tahan berlari kencang bahkan melawan kedua pria disini. Lagi pula ini sangat jauh dari pusat kota. Dan lagi, dimana tempat ini? Ji Yuan seperti hilang arah saat dalam perjalanan tadi. Bagaimana dia bisa kabur? Kemana dia akan berlari menyelamatkan diri? Si*l!!
“Duduk!” Chu Zhao menatap Ji Yuan tajam. Nadanya benar – benar memerintah sehingga membuat Ji Yuan buru – buru duduk di kursi di depan meja.
Ji Yuan mendesah pelan. Mengapa dia bisa duduk disini, mengikuti ucapan pria galak ini. Eemmppp, tapi memang ucapannya menakutkan sih tadi.
Chu Zhao memutar kembali kertas kusut itu, untuk dihadapkan kembali pada Ji Yuan. “Katakan!” dengan nada yang sama.
Ji Yuan, mengernyitkan keningnya. Dia tidak mau begitu saja mengatakan sesuatu. Bagaimana jika dia dibun*h oleh pria ini? siapa yang akan menjamin keselamatannya? Siapa tadi yang memberikan informasi tentangnya? Putri Nishang? Istri Jendral itu… Apa ada perkumpulan sesama Jendral disini? Arisankah? Mengapa mereka saling terkait satu sama lain. ini menyebalkan!
Chu Zhao menatap tajam gadis di depannya. Tatapan yang diberikan adalah tatapan biasanya dia mengintimidasi lawan – lawannya. Kebanyakan mereka akan segera bertekuk lutut dan mengikuti apa maunya. Mengapa gadis ini tidak?! Dia bahkan terlihat sibuk dengan pikirannya sendiri.
Brakkk
Chu Zhao memukul meja dengan keras. Membuat Ji Yuan kaget sampai melonjak dari duduknya. Setelah tersadar, Ji Yuan memegang dadanya dan matanya mulai melotot. “Apa yang kamu lakukan?! Membuat orang kaget saja! Apa menyenangkan mengagetkan orang?!” Jawab Ji Yuan sambil berteriak.
Chu Zhao kaget. Apa gadis ini punya masalah dengan otaknya? Jika lawan yang lainnya mereka akan gemetar ketakutan. Bahkan ada beberapa yang sampai membuang urine-nya di celana. Gadis ini benar – benar! Chu Zhao tidak menyukainya. Pembangkang!
“Cepat katakan! Waktuku sangat berharga. Katakan sekarang!!”
Ji Yuan mendelikkan matanya. Mata coklatnya terbuka lebar dan Chu Zhao dapat melihatnya sangat jelas. Bulatan coklat yang berbentuk bunga di tengah dengan garis hitam dan keemas-an. Terlihat sangat indah sekali. Tidak pernah Chu Zhao melihat mata yang seindah ini sebelumnya.
“Aku tidak mau!” Ji Yuan melotot dan bangun dari kursinya, lalu segera berjalan menuju pintu.
Chu Zhao tercengang. Apa lagi ini? seketika kepalanya terasa sakit. dia lebih baik bertempur dengan ratusan musuh daripada menghadapi yang seperti ini. sepertinya terlalu lama berada di medan perang membuatnya kebingungan menghadapi yang seperti ini. Chu Zhao hanya terbiasa dengan pertempuran dan pertempuran.
*
“Anda tidak boleh pergi.” Dongmei berdiri di depan pintu menghalangi Ji Yuan yang akan keluar. Ji Yuan melihatnya dan bertambah kesal.
“Kenapa tidak boleh? Apa Jendral picik itu yang menyuruhmu! Mengapa kamu mau saja disuruh – suruh dengan orang tidak sopan seperti itu? benar – benar menyebalkan!” Ji Yuan sudah kehilangan kesabarannya.
“Ada apa?” Song Yaoyi mendekat.
“Menjawab Nyonya, Nona ini ingin keluar dari ruangan. Sesuai perintah Nyonya, saya tidak membiarkan seorang pun pergi dari ruangan ini.” Ucap Dongmei.
“Oke. Terima kasih.” Song Yaoyi mengangguk pada Dongmei.
“Siapa nama mu Nona? Dari keluarga mana kamu berasal?” Song Yaoyi tersenyum menatap Ji Yuan. Wajah gadis muda itu sudah memerah. Tampak sangat emosi.
“Saya… Ji Yuan Nyonya. Saya berasal dari desa Zhongdong di berbukitan perbatasan barat daya.” Ji Yuan menjawab dengan lugas. Lalu menarik nafasnya banyak – banyak, dia tidak mau membuat masalah dengan Nyonya Jendral Agung ini, dengan melampiaskan emosinya.
“Desa Zhongdong?” Song Yaoyi mengernyit heran. Dia belum pernah mendengar nama desa itu sebelumnya.
“Ya Nyonya.” Jawab Ji Yuan penuh tata krama dan sopan.
Song Yaoyi tersenyum melihatnya. Sungguh gadis yang berbudi.
“Mari kita minum teh bersama. Ceritakan saya tentang desa Zhangdong.” Song Yaoyi tersenyum dan membawanya ke gazebo didekat taman.
*
Chu Zhao termenung. Dia terheran – heran, mengapa gadis itu bisa mengindahkan peringatannya. Dia tampak tidak terpengaruh dengan tatapan dan intimidasinya. Chu Zhao merasa terusik.
“Jendral… Nona Ji Yuan saat ini sedang berbicara dengan Nyonya di Gazebo samping Aula selatan.” Wang Yi’an memberikan informasinya.
“Apa yang mereka bicarakan?” Tanya Chu Zhao dengan penasaran.
“Desa Zhangdong, Jendral.” Wang Yi’an kembali menjawab.
Chu Zhao mengernyit. Desa Zhangdong? Segera dia membuka peta kekaisaran, dan melihat dengan hati – hati, lalu menemukan desa perbatasan di barat daya kekaisaran.
Mengapa Ibu dan gadis pembangkang itu membicarakan desa terpencil itu. Chu Zhao mulai membuka laporan mengenai Ji Yuan yang diterimanya dari prajurit pengintai yang dia latih.
Beberapa kali dahi Chu Zhao mengernyit membacanya. Gadis itu, Ji Yuan adalah seorang yatim piatu. Mendiang Ayahnya merupakan sarjana cendiawan kekaisaran. Dia mengabdikan diri pada sekolah – sekolah di perbatasan. Saat di kota Zhongdong, Ayahnya bertemu dengan seorang gadis dari kekaisaran Ouzho yang juga merupakan cendekiawan dari negaranya. Mereka menikah dan memutuskan tetap tinggal disana untuk membesarkan keluarganya. Siapa sangka jika setelah Gadis itu berusian delapan tahun, Ibunya sakit dan meninggalkannya hanya dengan Ayahnya. Kemudian saat wabah kelaparan yang mendera kekaisaran ini terjadi diwaktu itu, Ayahnya terbunuh oleh bandit. Sehingga Ji Yuan harus menjalani hidupnya sendirian.
Chu Zhao tiba – tiba merasa sedih. Dia tau betapa sulitnya hidup tanpa orang tua sekecil itu. bagaimana dia merindukan Ibu dan saudara – saudaranya kala itu. apa lagi membayangkan jika Ji Yuan adalah seorang perempuan. Pasti lebih sulit baginya.
“Jendral Chu Zhao, bagaimana selanjutnya? Nona Ji Yuan tidak mau bekerja sama. haruskah kita menahannya dan menyiksanya untuk bicara?” Wang Yi’an kembali bicara.
“Dia gadis yang sombong sekali. Tidak mempunyai rasa hormat kepada militer.” Wang Yi’an mulai mengungkapkan kekesalannya.
“Dia juga tidak berbakti dan sangat mata duitan. Bu Yao Lian -tidak tau malu!” Umpat Wang Yi’an lagi.
Chu Zhao hanya mendengarkan.
“Kamu sudah selesai? Segera lakukan tugasmu yang tertunda.” Chu Zhao memerintah Wang Yi’an dan menghentikannya mengumpat.
Wang Yi’an pun memberikan hormat dan meninggalkan Chu Zhao.
Chu Zhao kembali membaca laporan mengenai Ji Yuan.
***