Ji Yuan menghirup aroma teh yang diberikan oleh seorang pelayan. Aromanya menenangkan. Memang teh keluarga bangsawan berbeda… aromanya ini sangat harum dan menenangkan. Dan lagi rasanya manis dan teksturnya kental. Ji Yuan terbawa dengan kenangan masa kecil pemilik aslinya. Teh ini berasa seperti dipeluk Ibunya. Tak terasa airmatanya turun melintasi pipinya yang putih. Song Yaoyi melihat ini dan terkesiap. Namun dia bertahan untuk tidak menanyakannya. Selintas pemikiran mengenai bermacam – macam hal yang membuat seorang guru cantik ini menangis ada dikepalanya, salah satunya… Dasar Chu Zhao serigala bermata putih. Dia memang ke kaku buah Prem kering. Para tetatua itu tidak salah juga. Anaknya ini…
“Apa kamu menyukainya?” Song Yaoyi bertanya dengan gaya acuh tak acuh.
“Ya. Ini sangat harum dan menenangkan.” Ji Yuan segera menghapus airmatanya dan tersenyum.
“Ini adalah teh favoritku…, aku menyukai aromanya dan rasa manis yang tidak terlalu kentara.” Song Yaoyi tersenyum.
“Jadi dimana itu Zhongdong?” tanya Song Yaoyi lagi.
“Ah… ada di sebelah barat daya, kota berbatasan kecil dekat dengan Kekaisaran Ouzho.” Jawab Ji Yuan.
“Aahh… apakah orang tuamu masih tinggal disana?” Tanya Song Yaoyi lagi.
“Ya… mereka dimakamkan disana.” Ji Yuan menunduk air matanya kembali turun. Kali ini pemilik tubuh asli Ji Yuan seperti mendominasi. Ada apa dengannya kali ini. Rasanya, dia kehilangan sebagian kendali atas dirinya.
“Kamu merindukan mereka?” Tanya Song Yaoyi lembut.
“Humm…” Ji Yuan juga tidak mengerti, kenapa Ji Yuan pemilik asli tubuh ini yang memiliki tenperamen tertutup ini bisa dengan mudahnya mengeluarkan isi hatinya kepada seorang istri Jendral Agung.
“Tidak apa…” Song YAoyi menepuk telapak tangan Ji Yuan lembut dan pelan. Lalu memberikannya waktu untuk menghabiskan emosinya.
Hening tercipta. Song Yaoyi memandang taman yang kini tampak indah dan teduh. Sangat mewakili perasaan Ji Yuan kali ini.
“Maaf, Nyonya.” Ji Yuan kini sudah menenangkan emosi pemilik tubuh aslinya.
“Tidak apa…“ Song Yaoyi tersenyum.
“Kamu seorang guru?” tanyanya lagi.
“Ya. Saya Guru di Sekolah Putri Kekaisaran.” Ji Yuan kembali menyesap tehnya.
“Apa kamu berteman dengan anakku?” Song Yaoyi kembali bertanya. “Apa dia yang membuatmu menangis? Aku melihat wajah marahmu ketika keluar dari ruang kerjanya.”
Ji Yuan tersentak. Sedikit bingung bagaimana akan menjelaskan. Sejujurnya dia malu akan dianggap mata duitan oleh Song Yaoyi. Tapi sungguh dia memang membutuhkan uang. Sebagai seorang Guru dari pedesaan terpencil, tentulah dia belum banyak mendapatkan penghargaan dari hasil kerjanya. Tentu banyak yang masih meragukan kemampuannya.
“Memang Chu Zhao banyak memiliki sisi yang menyebalkan.” Song Yaoyi mengakhiri kebingungan Ji Yuan.
“Dimana kamu tinggal? Di Ibu kota, dimana kamu tinggal?” Song Yaoyi terus bertanya, mencari informasi sejelasnya mengenai calon menantuya ini.
*
“Kau sudah membacanya?” seorang pria berpakaian hijau teratai duduk di sebuah ruangan yang sedkit gelap.
Orang yang diajak bicara memandang tulisan diatas meja dengan santai. Meminum tehnya dan berbicara santai, “Jika pun benar apa yang ditulisnya, tidak ada yang akan terjadi. Dia hanya seorang Guru Perempuan. Apa yang bisa dia lakukan. Siapa yang akan mendengarkan ocehannya?”
Lelaki dengan gaun hijau teratai itu mendengus keras. Sengaja melakukannya untuk mengejek lawan bicaranya.
“Guru itu kini sudah berada di Halaman Bangongshi milik Jendral Chu yang Agung. Di jemput oleh seorang letnan jendral Wang Yi’an…” pria berbaju hijau Teratai itu menatap lawan bicaranya dengan tajam.
Yang diajak berbicara tampak kaget dan tecengang. Dia tidak menyangka ini akan berakibat panjang.
“Jika sampai, Kekaisaran tahu mengenai hal ini. Seluruh keluarga kita bisa menanggung akibatnya! Apakah kamu sanggup?” pria beraju hijau teratai itu kini bangun dari kursinya. Mengepalkan jarinya dan memandang lawan bicaranya dengan marah.
“Bereskan!” Titahnya tanpa mau dibantah.
Lawan bicaranya segera pergi melompat dari jendela. Dia akan menuntaskan ini segera. Dia tidak pernah bertele – tele dalam bekerja. Dia akan menuntaskan hari ini juga.
Pria berbaju hijau Teratai itu sudah melempar semua barang diatas mejanya ke tanah. Buku – buku jarinya memutih. Nafasnya tersengal – sengal. Kemarahan menguasai dirinya. Kesalahan fatal itu telah dibuat. Kini dia harus menutupinya. Dia tidak sanggup menanggung resiko jika nanti kegiatan dan niatnya akan diketahui Kaisar. Dia harus menutupinya!
*
Song Yaoyi mengantar Ji Yuan ke depan pintu. Ji Yuan akan kembali kerumahnya.
Chu Zhao tidak keluar dari ruang kerjanya, dan Song Yaoyi merasa tidak enak untuk terus menahan Ji Yuan disini.
“Kembalilah…” Song Yaoyi mengantarnya. Ji Yuan, tersenyum lalu membungkuk pada Song Yaoyi sebagai ucapan terima kasihnya. Lalu berjalan terus menuju gerbang. Dua pelayan mengantarnya kesana.
Song Yaoyi terpaku, menatap punggung Ji Yuan. Perasaannya tidak begitu nyaman sekarang. Dia bagai merasa akan ada badai yang datang. Tatapannya terus berpusat pada Ji Yuan sampai dia menghilang tertutup bergola yang menjulang.
Song Yaoyi kembali mengingat tujuannya kesini, dia pun kembali untuk menemui Chu Zhao.
*
“Chu Zhao…” Song Yaoyi masuk ke ruang kerjanya. Melihat Chu Zhao sedang duduk di kursinya tidak melakukan apa – apa. Hanya duduk dan memandang keluar jendela. Song Yaoyi mendesah. Baru ini dia melihat Chu Zhao seperti ini, sedikit nyeri dirasanya.
“Chu Zhao…” Song YAoyi sekali lagi memanggilnya. Kini dia sudah berada di depan meja.
Chu Zhao tersentak kaget. Membalikkan tubuhnya dan melihat Ibunya sudah berdiri di depan mejanya. “Ibu…”
“Kamu tau, Chu Yiyi tadi pagi berbicara apa pada Ibu?” Song Yaoyi berbicara.
“Dia bilang dia baru saja memutuskan hal paling sulit dalam hidupnya.” Song Yaoyi tersenyum geli.
“Apa yang anak empat tahun itu katakan paling sulit, adalah memutuskan makanan favoritnya.” Senyumnya semakin mengembang mengingat perilaku putri bungsunya yang sangat genit.
“Tapi Ibu, sangat bangga padanya. Kau tau kenapa?” Song Yaoyi duduk dikursi di depan meja. tempat yang sama tadi Ji Yuan duduki. Chu Zhao memandang kursi itu dan entah kenapa merasakan rasa yang aneh menurutnya. Matanya kembali menatap Ibunya berusaha mengenyahkan rasa asing di hatinya.
“Ibu… Aku merasa sangat tersakiti. Ibu bahkan bangga pada pemilihan makanan favorit anak bungsu mu. Tapi Ibu bahkan tidak pernah mengatakan bangga padaku setelah aku memenangkan ribuan pertempuran.” Chu Zhao menatap Song Yaoyi yang tercekat. Matanya menyiratkan kekagetan yang luar biasa. Apa yang kulit mony*t ini katakan.
“Ibu… Apakah Ibu sedang berusaha menyamakan keberhasilanku memenangkan pertempuran dengan makanan favorit Chu Yiyi?” Ucap Chu zhao lagi dengan wajah Jenaka. Terlihat sekali dia tengah menggoda Ibunya.
Song Yaoyi tidak bisa tidak untuk bernafas lega. Srigala bermata putih ini sudah bisa menggoda Ibunya? Kemana tadi perilaku baiknya yang menatap ke arah jendela.
“Anak ini!!” Song Yaonyi mengambil sebuah perkamen diatas meja dan memukulkan pada badan Chu Zhao berulang – ulang.
“Ibu… Ibu…” Chu Zhao bangun dan berlari kearah luar ruang kerjanya. Song Yaoyi mengejarnya dengan kekuatan penuh. Dongmei yang menunggu di depan pintu ruang kerja Chu Zhao menyodorkan sepotong kayu yang diambilnya dari halaman setelah mendengar keributan di dalam. Song Yaoyi mengambilnya lalu mengangguk padanya. Dan dia kembali mengejar Chu Zhao dihalaman.
“Ibu… Ibu… Kamu pakai kayu sekarang…” katanya dengan terus berlari.
Song Yaoyi berlari mengejarnya, nafasnya sudah semakin menipis, tapi senyum muncul diujung bibirnya. Entah karena dia sudah beranjak tua sehinga lebih melankolis atau juga dia memang sangat merindukan ini, Song Yaoyi tidak bisa tidak meneteskan air matanya. Chu Zhao melihatnya dan terkejut. Ibunya menangis, tapi kenapa? Apakah dia keterlaluan?
“Ibu…” Chu Zhao berlari mendekati Ibunya. Lalu memeluknya…
“Ibu Ma—”
Song Yaoyi segera memukulkan kayu itu kearahnya, “Dasar kulit monyet, serigala bermata putih…”
“Ibu… Ibu… kamu curang…” Ch Zhao yang dipukul berusaha menghidari. Namun tidak bisa berlari lebih jauh, karena Song Yaoyi memegangi bajunya sambil memukulnya.
Semua ini dilihat oleh pelayan dan beberapa anak buah Chu Zhao yang sedang berjaga. Mereka merasa sangat tertekan, melihat bagaimana Jendral mereka dipukuli oleh Ibunya dengan sangat bersemangat. Sebagian dari mereka bahkan memutuskan akan lebih hormat pada Song Yaoyi. Sebagian lagi merasa takut berurusan dengan Ibu sang Jendral.
**
Sementara itu dalam kereta yang membawanya, Ji Yuan menyenderkan kepalanya ke Jendela. Berusaha mengenyahkan rasa dan emosi pemilik asli tubuh ini. Ji Yuan merasa takut, jika pemilik tubuh ini merasa lebih mendominasi dan dia akan hilang sepenuhnya.
Di belakang, sebuah kuda mengikuti dengan jarak yang cukup, ketika melewati rumah terakhir dan mereka akan masuk keperbatasan hutan yang dilewati, dia akan memulai aksinya. Membereskan kekacauan yang dia buat sendiri. Apapun resikonya.
Sejak awal dia mengawasi, Guru Wanita ini tidak mendapatkan pengawalan apapun. Hanya kereta kuda biasa. Akan sangat mudah untuknya. Membereskan ini.
***