Ji Yuan menutup matanya, berusaha menenangkan hatinya. Entah menagapa sedari tadi hatinya merasa sangat tidak tenang. Pikirannya melayang saat memory terakhirnya sebelum dia meledak hancur berkeping – keping bersama para penjahat yang mengejarnya.
--
Ji Yuan berlari terus dan terus hingga dirasa nafasnya akan segera habis. Dia berbelok ke kanan dan terus berlari. Dibelakangnya ada sekitar tujuh pria berpakaian jas hitam mengejarnya. Ji Yuan tau apa mau mereka. Dia ingin menangkapnya untuk membuat materi baru untuk pembuatan Bom. Materi baru yang Ji Yuan temukan setelah mencoba mencari pengobatan penyakit langka pada anak – anak. Secara tidak sengaja dia mengungkap materi baru itu Bioriptor. Ledakannya sangat dahsyat hingga bisa menghancurkan seperempat bumi hanya dengan satu tetes materi baru itu.
Nafasnya terengah, Ji Yuan Sudah kehabisan jalan. Apa yang harus dia lakukan? Proyek pencarian obatnya terbayang dikepalanya, sedikit lagi… ya sedikit lagi. Dia hanya tinggal sedikit lagi menemukan komposisi antar materi yang harus dia racik. Sebentar lagi anak – anak yang terbaring tak berdaya itu berhasil dia selamatkan. Apa yang harus dia lakukan? Jika dia tertangkap, dia hanya akan dipaksa untuk membuat materi peledak itu. Tidak dia tidak sanggup menanggung nyawa jutaan orang yang akan menjadi korban.
Ji Yuan tersandung, kakinya sudah melemah. Tubuhnya sudah tidak bisa dipaksakan lagi. Kakinya sudah tidak mau lagi menopang tubuhnya untuk terus berlari. Paru – parunya bahkan sudah menjerit kesakitan. Ji Yuan menutup matanya. Tuhan… hanya satu yang aku pinta, beri aku kesempatan untuk menyelesaikan penelitian ku. Beri aku kesempatan untuk membantu anak – anak itu.
Terdengar banyak Langkah kaki mendekat. Ji Yuan benar – benar tidak mau ditangkap dan dibawa oleh mereka. Demi Tuhan dia tidak mau membuat peledak itu.
Diingatnya jika dia memiliki beberapa materi di tasnya, dibukanya tas yang dibawa, memeriksanya satu – persatu. Kepala menggeleng samar. Senyum sumir tercipta di bibirnya yang kini ikut memutih. Wajahnya pias. Dia tidak punya kesempatan lagi, hanya ini satu – satunya cara. Dilihatnya lingkungan dia berada, diperhitungkan luas dan jarak, dia tidak mau ada korban tak bersalah disini. Cukup dia dan beberapa orang penjahat ini saja. Perhitungan materinya tidak pernah salah. Ji Yuan adalah seorang penyuling materi yang sangat akurat.
Helaan nafas terdengar lirih dari mulutnya. Selesai…
Ji Yuan berdiri dengan kaki gemetar. Kakinya masih lemah untuk menopang tubuhnya. Dengan berpegangan pada sebuah tembok, Ji Yuan berdiri dan menyambut pada penjahat itu. Senyum dingin dia berikan saat mereka mendekat.
“Menyerah saja Nona. Cepat atau lambat kamu pasti akan jatuh ketangan kami.” Seorang dari tujuh pria itu mendekat dan tersenyum merendahkan.
Ji Yuan hanya berdiam tidak menanggapi. Dia menunggu mereka semua masuk dalam lingkup ledakannya.
“Aku tidak mau.” Ji Yuan berkata dengan suara yang datar. Jantungnya berpacu cepat. Dia hanya berdoa semoga dia tidak perlu melakukan ini.
Pria yang paling besar berjalan semakin mendekatinya. Keenam orang lain mengikuti. Ji Yuan menghitung jaraknya. Sebentar lagi.
“Kamu tidak mau?” Ucapnya lalu tertawa. Suara tertawanya bagaikan lonceng kematian bagi Ji Yuan.
“Tidak apa – apa. Kami hanya ditugaskan untuk membawa mu. Tidak disebutkan hidup atau m*ti. Kemungkinan kami hanya membutuhkan otakmu saja. Jika itu rusak, baru menjadi masalah. Nyawa mu tidak ada urusannya dengan kami.” Ucapnya lagi dengan tatapan yang menjijikkan.
Ji Yuan menelan ludahnya yang kering. Dia tertawa miris. Haruskah senjatanya didekatkan ke kepalanya. Agar dia memastikan otaknya tidak akan tersisa untuk mereka?
Ji Yuan tertawa miris. Hidupnya sungguh kasihan. Yatim – piatu tinggal di panti asuhan, asrama, seumur hidupnya dia harus bekerja keras untuk bertahan. Kini dia harus mengakhiri hidupnya sendiri. Sungguh sebuah Ironi. Hal yang sangat keras dia perjuangkan, kini harus berakhir ditangannya sendiri.
"Begitu…” Ji Yuan menatap mereka satu persatu. “Kalau begitu kemari dan ambilah…”
Para penjahat itu tersenyum kejam lalu mulai mendekati Ji Yuan, selangkah demi selangkah. Ji Yuan memandang mereka dingin, menghitung jarak. Sedikit lagi…
Tiga…
Dua…
Satu…
Boooommmm….
Ji Yuan meledakkan mereka semua, tubuhnya hancur berkeping – keping hingga nyaris berupa serpihan. Begitu juga dengan ketujuh orang yang mengejarnya. Tuhan… berikan aku kesempatan menemukan obat bagi anak – anak itu. Atau setidaknya biarkan mereka menyelesaikannya untuk ku. Pinta Ji Yuan dalam hatinya.
--
Traakkk….
Kereta kudanya berjalan tak terkendali. Ji Yuan tersadar dari lamunan panjangnya. Instingnya mulai bekerja lagi. Perasaan ini adalah perasan yang sama saat dia dalam lamunannya. Merasakan dirinya dalam bahaya. Seperti dikejar – kejar.
Ji Yuan melihat ke jendela, dia sudah memasuki hutan kota. Jalan dipinggiran hutan yang asri namun tiada berpenghuni. Ji Yuan merasa kereta berjalan semakin cepat, bagai tidak terkendali. Ada apa ini?
“Kusir… Chefu!” Ji Yuan berteriak memanggil.
Tidak ada suara di depan. Ji Yuan melongok keluar jendela. Kusirnya ada disana namun tidak bergerak. Detik itu juga dia tau ada sesuatu yang salah. Lagi? Pikirnya. Mengapa aku harus mengalami ini lagi.
Lalu sebuah goncangan terjadi. Ji Yuan berpegangan pada pegangan kereta. Keretanya bergoyang tak terkendali, lalu berguling beberapa kali. Ji Yuan merasa bagaikan dalam sebuah mesin cuci. Dia terobang – ambing berguling dan berputar dalam kereta. Tubuh dan kepalanya bertubrukan beberapa kali. Lalu kereta pun berhenti.
Ji Yuan merasakan sakit disekujur tubuhnya. Rasa perih dan memar dari ujung kaki sampai kepalanya mendera. Keretanya terbalik. Ji Yuan mencoba menggapai pintu yang kini berada di atas kepalanya. Rasanya sulit dan jauh sekali. Samar dia mendengar suara langkah kaki. Ji Yuan merasa menemukan oase kehidupan. Lalu mulai berteriak. “Tolong… Tolong!!”
Pintu diatas kepalanya terbuka. Seraut wajah yang kejam melhat kedalam. Ji Yuan terpana. Bisakah dia meminta pertolongan padanya? Mengapa dia tampak tidak bisa dipercaya? Mengapa rasa ketakutan dan kegelisahannya melonjak tinggi.
Lalu…
Tranggg
Sebilah pedang mengayun mencarinya. Ji Yuan panik dan menghindar cepat. Apa ini? Siapa dia?
Tempat yang sempit membuat Ji Yuan tidak bisa menghindar kemana – mana. Cepat atau lambat dia pasti akan terkena salah satu sabetanya. Tidak jangan lagi…
Lalu suara Langkah kaki terdengar lagi. Kali ini ramai, seperti lebih dari seorang yang datang. Lalu suara adu pedang terdengar di luar kereta.
Ji Yuan sedikit bernafas lega. Dia terbebas dari ayunan pedang yang mengincarnya. Ji Yuan mencari pegangan untuk menaikkan tubuhnya ke atas. Dia harus keluar dari sini. Dia harus menyelamatkan diri.
Dengan kesusahan Ji Yuan berhasil menggapai pintu. Menarik tubuhnya sendiri dan keluar dari kereta. Lalu terjatuh ke tanah. Dia melihat Jendral Chu Zhao tengah bertarung dengan pria tadi. Ji Yuan terpana.
Keahlian pedang Chu Zhao tidak ada duanya. Kegesetitannya menyabet pedang, dan menghindari pedang lawan sangat luar biasa. Gerakannya licah dan terarah. Ji Yuan merasa sedang melihat sebuah tarian kolosal yang sangat indah. Dia tepana.
**
Sebelumnya di halaman Bangongshi.
“Ibu… Ibu… sakit…” Chu Zhao mengelak dengan cepat dan akhirnya terbebas dari cengkraman Song Yaoyi.
Song Yaoyi mengatur nafasnya. Dia merasa lelah telah melakukannya.
“Jendral…” Wang Yi’an datang dengan terburu – buru.
“Prajurit pengintai dia pinggir hutan menyampaikan jika kereta Nona Ji, dibuntuti orang dan dicelakai di dalam hutan.”
“Apa?!” Chu Zhao berhenti berlari. Lalu bergegas menoleh pada Song Yaoyi.
“Ibu aku pergi dulu, kita lanjutkan nanti…” lalu secepat kilat Chu Zhao melintas keluar dengan Qinggongnya.
Song Yaoyi menatap Dongmei, “Apa maksudnya kita lanjutkan nanti? Pinggangku rasanya sakit sekali. Tenaga ku juga sepertinya sudah habis. Dongmei bantu aku…” lalu dia mengulurkan tangannya.
Dongmei membanti Song Yaoyi membawanya masuk ke kamar dalam.
**
Chu Zhao berkuda dengan cepat. S*al!! apakah dia akan terlambat.
Gadis itu benar – benar…
Setelah seperempat dupa dia berkendara, Chu Zhao melihat sebuah kereta kuda terbalik di sisi jalan. Dan seseorang berpakaian hitam sedang berdiri diatas pintu dan menusukan pedangnya berkali – kali kedalam gembong. Saat itu juga Chu Zhao tau Ji Yuan dalam bahaya. Dan dengan Qinggongnya, Chu Zhao terbang dan membawa pria berbaju hitam itu jatuh ke tanah. Beberapa prajurit yang dia bawa mulai mengepung. Chu Zhao membiarkan mereka menangkap. Namun pria berbaju hitam itu memiliki kemampuan dia berhasil mengelak dan melarikan diri. Chu Zhao kembali mengejarnya dan pertarungan itu tidak dapat dielakkan.
Tranggg
Tinggg
Brakkk
Pria berbaju hitam itu memang berkemampuan. Chu Zhao mengukur serangannya, dalam beberapa pukulan, pria itu terkena sabetan pedangnya dan beberapa pukulan kosong. Lalu jatuh ke tanah.
Chu Zhao mendekatinya, tak lama pria itu mengejang dia tanah dan kaku tak bergerak.
“Dia sudah m*ti…” Lirih Chu Zhao.
“Jendral…” Fubo menghampiri.
“Apakah dia bunuh diri dengan menggigit racun?” tanya Fubo sambil memandang pria itu.
“Ya” Chu Zhao menjawab singkat.
Fubo membalikkan mayat itu. Lalu memerikasanya.
Chu Zhao melihat wajah itu. sejak tadi berkelahi dengan dia, Chu Zhao sudah sedikit merasa familiar dengan wajahnya. Setelah berpikir lama dia baru ingat. Bukankah orang ini yang selalu ada di dekat pangeran kesebelas?
***