Malam itu, Ainun tidak bisa tidur. Pikirannya dipenuhi oleh bayangan Iwan dan kata-kata ayahnya yang begitu menyakitkan. Ia merasa terjebak di antara perasaan dan kewajibannya sebagai anak. Sejak kecil, ia dididik untuk patuh dan tidak pernah menentang keputusan orang tuanya. Namun kali ini, hatinya benar-benar memberontak.
Sejak kepergian ibunya, Ainun hidup dalam bayang-bayang aturan ayahnya, Pak Satrio. Sebagai pengusaha sukses, ayahnya mengatur segala aspek kehidupan keluarganya, termasuk masa depan Ainun. Pak Satrio tidak pernah mau putrinya mengalami kehidupan yang sulit seperti dulu ia alami. Ia percaya bahwa menikahkan Ainun dengan pria kaya dan memiliki masa depan jelas adalah pilihan terbaik.
"Kamu tahu, Ainun, hidup itu tidak hanya soal cinta. Ada banyak hal lain yang lebih penting. Aku tidak ingin kamu hidup susah," ujar Pak Satrio tegas saat makan malam.
Ainun meletakkan sendoknya, nafsu makannya lenyap. "Tapi Ayah, apa Ayah tidak peduli bagaimana perasaanku? Aku mencintai Iwan. Dia orang yang baik dan pekerja keras."
Pak Satrio menghela napas panjang. "Cinta itu tidak akan membayar tagihan, Ainun. Aku sudah melihat banyak orang gagal karena hanya mengandalkan cinta. Iwan itu bukan tandingan kita, dia tidak akan bisa memberikanmu kehidupan yang layak."
"Tapi Ayah, bukan harta yang aku cari! Aku ingin hidup dengan seseorang yang mencintaiku dengan tulus!"
Pak Satrio menatap putrinya dengan mata dingin. "Kalau kamu terus membangkang, Ainun, aku tidak akan menganggapmu sebagai anakku lagi."
Perkataan itu seperti pukulan telak di hati Ainun. Ia tahu ayahnya tidak main-main. Dengan berat hati, ia memutuskan untuk berbicara dengan Iwan keesokan harinya.
Keesokan harinya, Ainun memberanikan diri menemui Iwan di bengkel. Ketika Iwan melihatnya datang, ia bisa merasakan ada sesuatu yang tidak beres. Wajah Ainun tampak pucat dan matanya sembab.
"Ainun, ada apa?" tanya Iwan khawatir.
Ainun menggigit bibirnya, mencoba menahan tangis. "Aku... aku harus menghentikan ini, Iwan."
Mata Iwan membulat. "Apa maksudmu?"
Ainun menundukkan kepala, suaranya bergetar. "Ayahku... tidak akan pernah merestui kita. Aku tidak bisa melawan keluargaku. Aku harus menurut."
Iwan menatap Ainun dengan mata penuh luka. "Jadi kau memilih menyerah? Setelah semua yang kita lalui?"
Ainun menahan isakannya. "Aku tidak punya pilihan. Ayahku sudah mengatur pertunanganku dengan anak rekan bisnisnya. Aku tidak bisa menolak."
Iwan mundur selangkah, dadanya terasa sesak. "Jadi ini akhirnya? Semua yang kita lalui hanya untuk berakhir seperti ini?"
Ainun hanya bisa menangis, tidak mampu menjawab. Hatinya ingin berteriak menolak, tetapi ia tahu betapa kerasnya ayahnya.
"Aku mencintaimu, Ainun," kata Iwan lirih.
Ainun mengangkat wajahnya yang basah air mata. "Aku juga mencintaimu, Iwan. Tapi cinta saja tidak cukup."
Iwan mengepalkan tangannya, mencoba menahan amarah dan rasa sakit yang menggerogoti hatinya. "Baik. Jika itu keputusanmu, aku tidak akan memaksa. Tapi satu hal yang perlu kau tahu, aku tidak akan pernah melupakanmu."
Ainun menangis lebih keras. Ia ingin memeluk Iwan untuk terakhir kalinya, tetapi kakinya terasa terpaku di tanah. Akhirnya, dengan berat hati, ia berbalik dan pergi meninggalkan Iwan yang masih berdiri di tempatnya dengan hati yang hancur.
Malam itu, Ainun mengunci diri di kamarnya. Ia tidak makan, tidak berbicara dengan siapa pun. Sementara itu, Iwan menghabiskan malamnya di bengkel, memukul-mukul mesin dengan amarah yang tak tertahan.
Di rumah Ainun, Pak Satrio memperhatikan putrinya yang tampak menderita. Namun, sebagai pria yang keras, ia tetap berpegang teguh pada keputusannya.
"Dia akan berterima kasih kepadaku suatu hari nanti," gumamnya pelan.
Ainun, di balik pintu kamarnya, hanya bisa menangis, merasakan hatinya yang perlahan-lahan hancur berkeping-keping.