Setelah kejadian di rumah Ainun, Iwan merasa dunianya benar-benar hancur. Ia mencoba meyakinkan dirinya bahwa semua ini hanya mimpi buruk. Namun, rasa sakit yang mencengkeram hatinya terlalu nyata. Hatinya Hancur dan dia merasa putus asa. Hatinya sangat kecewa.
Di sisi lain, Ainun duduk di kamarnya, matanya merah akibat menangis semalaman. Ia ingin menjelaskan segalanya pada Iwan, tetapi situasinya tidak memungkinkan. Ayahnya, Pak Satrio, sudah memutuskan masa depannya.
"Ainun, kamu sudah cukup dewasa untuk mengerti," kata Pak Satrio dengan suara tegas. "Pria seperti Iwan tidak pantas untukmu. Dia hanya akan membuat hidupmu sulit."
"Tapi, Ayah... aku mencintainya," suara Ainun bergetar.
"Cinta saja tidak cukup," sahut ayahnya dingin. "Hidup butuh kestabilan, Ainun. Dan Iwan tidak bisa memberimu itu."
Ainun mengepalkan tangannya. "Jadi, Ayah lebih memilih aku menikah dengan orang yang tidak kucintai?"
Pak Satrio menatap putrinya dalam-dalam. "Ya. Demi masa depanmu."
Ainun menahan isakannya. Ia tahu ayahnya tak akan berubah pikiran. Namun, hatinya tetap menolak keputusan ini.
Sementara itu, Iwan kembali ke bengkel dengan hati kosong. Ia berpikir untuk melupakan Ainun, tetapi semakin ia mencoba, semakin rasa sakit itu menghantuinya. Ia sadar, hari-hari iwan menjadi menjadi kurang bersemangat, sosok ainun selalu erbayang dalam aktivitasnya, dalam hati kecilnya iya sangat mencinai ainun dan ia ingin bertekad mendapatnya. perjuangannya baru saja dimulai.