Sejak pertemuan terakhirnya dengan Ainun, Iwan merasa ada sesuatu yang berubah. Ainun tidak lagi menghubunginya seperti biasa. Rasa cemas menggelayuti hatinya, membuatnya semakin gelisah.
Di Restoran tempatnya bekerja, Iwan mencoba menyibukkan diri. Namun, pikirannya tetap dipenuhi oleh bayangan Ainun. Ia tahu ada sesuatu yang terjadi, tapi ia tidak tahu apa.
"Bro, lu kenapa? Dari tadi bengong aja," tanya Dani, rekan kerjanya.
Iwan menghela napas. "Gue cuma kepikiran Ainun. Dia tiba-tiba nggak kasih kabar. Gue takut ada sesuatu yang terjadi."
Dani menepuk bahu Iwan. "Kalau lo khawatir, kenapa nggak lo datengin langsung? Kadang kita harus berani buat cari tahu sendiri."
Saran itu masuk akal, dan tanpa berpikir panjang, Iwan memutuskan untuk pergi ke rumah Ainun setelah selesai bekerja.
Ketika sampai di depan rumah Ainun, langkahnya terasa berat. Rumah mewah itu terasa begitu jauh dari dunianya. Namun, yang lebih menyakitkan adalah pemandangan yang ia lihat.
Ainun sedang berdiri di beranda rumahnya, berbicara dengan seorang pria yang tampak rapi dengan setelan mahal. Pria itu tersenyum pada Ainun, sementara Ainun terlihat canggung.
Iwan merasakan hatinya hancur. Ia ingin berlari mendekat dan menanyakan semuanya, tetapi kakinya terasa kaku.
Tiba-tiba, Ainun menoleh dan melihat Iwan. Matanya membulat, seolah tak percaya bahwa Iwan ada di sana.
"Iwan...?" suaranya nyaris tak terdengar.
Pria di samping Ainun ikut menoleh, lalu tersenyum dingin. "Kamu siapa?" tanyanya dengan nada penuh superioritas.
Iwan menatap Ainun, mencari jawaban di matanya. Namun, yang ia lihat hanyalah kebingungan dan ketakutan.
"Aku... aku hanya ingin memastikan Ainun baik-baik saja," kata Iwan akhirnya.
Pria itu tertawa kecil. "Ainun baik-baik saja. Aku tunangannya."
Dunia Iwan runtuh seketika. Ainun mencoba membuka mulutnya, tetapi tak ada kata yang keluar.
"Iwan, aku..."
"Nggak apa-apa," potong Iwan, suaranya serak. "Maaf sudah datang tanpa izin."
Tanpa menunggu jawaban, Iwan berbalik dan pergi. Ainun ingin mengejarnya, tetapi pria di sampingnya menggenggam lengannya.
"Jangan kejar dia, Ainun. Kamu tahu ini yang terbaik."
Air mata mengalir di pipi Ainun. Ia ingin meneriakkan kebenaran, tetapi rasa takut menahannya.
Di kejauhan, Iwan berjalan tanpa tujuan, hatinya hancur berkeping-keping. Ia tidak tahu bahwa Ainun tidak pernah benar-benar setuju dengan pertunangan itu, dan ia tidak tahu bahwa di dalam hati Ainun, hanya ada dirinya.
Namun, bagi Iwan, semua sudah berakhir.