Setelah pertemuan terakhir mereka, Ainun semakin gelisah. Ia tahu keluarganya sedang merancang sesuatu yang bisa menjauhkan dirinya dari Iwan. Namun, ia tak menyangka bahwa kenyataan akan lebih menyakitkan dari yang ia bayangkan.
Suatu malam, ketika Ainun baru saja kembali dari restoran tempat Iwan bekerja, ibunya menunggunya di ruang tamu. Wajahnya tampak tegang.
"Ainun, duduklah," ujar ibunya dengan nada yang terdengar lebih dingin dari biasanya.
Ainun menurut. Ia bisa merasakan bahwa ada sesuatu yang serius yang akan dibicarakan.
"Ayahmu sudah cukup bersabar," lanjut ibunya. "Kami tahu kau masih sering bertemu dengan Iwan. Kami tidak bisa membiarkan ini terus berlanjut."
Ainun menggigit bibirnya. "Ibu, aku hanya ingin..."
"Kami sudah mencari tahu tentang dia, Ainun," potong sang ibu. "Iwan bukan hanya berasal dari keluarga miskin, tapi juga memiliki masa lalu yang tidak bisa kami terima."
Ainun menatap ibunya dengan kebingungan. "Apa maksud Ibu?"
Sang ibu menyerahkan sebuah amplop cokelat ke hadapan Ainun. Dengan tangan gemetar, Ainun membukanya dan melihat beberapa lembar kertas serta foto-foto yang tampaknya hasil penyelidikan.
Di dalamnya, tertulis bahwa Iwan pernah bekerja serabutan di berbagai tempat dan bahwa keluarganya mengalami banyak masalah keuangan. Yang paling mengejutkan adalah catatan yang menyebutkan bahwa ayah Iwan pernah terlibat hutang dengan orang-orang berbahaya.
"Ini tidak benar," bisik Ainun, menatap foto-foto yang menampilkan Iwan dalam berbagai situasi yang tampak seperti diambil secara diam-diam.
"Ini kenyataan, Ainun," kata ibunya dengan nada penuh simpati. "Kami melakukan ini untuk melindungimu. Jika kau tetap bersamanya, kau akan hidup dalam kesulitan. Apakah itu yang kau inginkan?"
Ainun menggeleng, air mata mulai menggenang di matanya. "Tapi Iwan bukan seperti itu. Dia pekerja keras. Dia baik. Aku mencintainya."
"Cinta saja tidak cukup, Ainun," suara ayahnya tiba-tiba terdengar dari balik ruangan. "Kami memberimu dua pilihan: menjauh dari Iwan, atau bersiap kehilangan keluarga ini."
Ainun terdiam. Hatinya terasa seperti diremas. Bagaimana mungkin keluarganya memberikan pilihan yang begitu kejam?
Di sisi lain, Iwan merasakan ada sesuatu yang berbeda sejak terakhir kali Ainun datang ke restoran. Biasanya, Ainun akan selalu mengirim pesan atau setidaknya memberikan kabar. Namun, hari-hari berlalu tanpa satu pun kabar darinya.
Khawatir, Iwan mencoba menghubungi Ainun, tetapi tak ada jawaban. Akhirnya, dengan perasaan yang berkecamuk, ia memberanikan diri untuk datang ke rumah Ainun.
Namun, yang ia dapatkan adalah pemandangan menyakitkan. Dari kejauhan, ia melihat Ainun berdiri di halaman rumahnya, bersama seorang pria berjas mahal. Wajah Ainun terlihat murung, tetapi yang lebih menyakitkan adalah bagaimana pria itu memegang tangannya, seolah Ainun telah menjadi miliknya.
Iwan merasakan dadanya sesak. Ia ingin berlari, ingin menanyakan kebenaran pada Ainun, tetapi langkahnya terasa berat. Dengan hati yang hancur, ia hanya bisa berbalik dan pergi.
Di dalam rumah, Ainun menyadari bahwa Iwan sempat melihatnya. Ia ingin mengejarnya, ingin menjelaskan semuanya, tetapi ibunya menggenggam tangannya erat.
"Lupakan dia, Ainun. Ini yang terbaik untukmu."
Air mata mengalir di pipi Ainun. Di dalam hatinya, ia merasa seperti kehilangan separuh dari dirinya sendiri.
Namun, takdir belum selesai dengan mereka. Rahasia yang terbuka ini hanya permulaan dari ujian yang lebih besar yang akan mereka hadapi.