Setelah perbincangan malam itu, Ainun semakin sering memikirkan Iwan. Meski ia tahu keluarganya menentang, perasaan dalam hatinya semakin sulit dibendung. Setiap kali ia mengingat senyum hangat Iwan atau cara pemuda itu berbicara dengan penuh ketulusan, dadanya terasa hangat.
Di restoran tempat Iwan bekerja, Ainun sering datang sebagai pelanggan setia. Bukan hanya karena makanannya yang sederhana tetapi enak, melainkan juga karena keberadaan Iwan di sana. Mereka saling bertukar pandang, berbicara seperlunya, tetapi di balik itu, perasaan mereka terus tumbuh.
Suatu malam, ketika restoran mulai sepi, Iwan menyeka tangannya dengan celemek dan mendekati Ainun yang duduk di pojok ruangan.
"Kau menunggu seseorang?" Iwan bertanya dengan nada bercanda.
Ainun tersenyum. "Mungkin. Atau mungkin aku hanya ingin menikmati suasana di sini lebih lama."
Iwan tertawa kecil, lalu duduk di seberangnya. "Aku senang kau sering datang. Tapi aku juga khawatir. Jika keluargamu tahu..."
Ainun menggigit bibirnya, ragu sejenak sebelum menjawab, "Mereka sudah tahu. Mereka menentang."
Iwan terdiam, menatap wajah Ainun yang tampak gelisah. "Lalu, apa yang akan kau lakukan?"
Ainun menghela napas panjang. "Aku tidak tahu. Aku hanya tahu bahwa aku tidak ingin berhenti bertemu denganmu."
Iwan merasakan kehangatan menjalar dalam hatinya. Ia ingin mengatakan bahwa ia juga merasa sama, bahwa ia siap berjuang untuk mereka berdua. Tapi ia tahu, dunia mereka berbeda. Dan Ainun harus menghadapi lebih banyak rintangan dibanding dirinya.
Malam itu, Ainun dan Iwan berjalan bersama di bawah langit berbintang. Mereka berbicara tentang banyak hal, dari impian hingga ketakutan mereka.
"Iwan, kau punya mimpi?" tanya Ainun.
Iwan mengangguk. "Aku ingin membuka restoran sendiri suatu hari nanti. Bukan restoran mewah, hanya tempat yang nyaman dan bisa membuat orang merasa seperti di rumah."
Ainun tersenyum. "Aku yakin kau bisa. Kau punya semangat itu."
Iwan menatapnya dalam. "Dan kau? Apa mimpimu, Ainun?"
Ainun terdiam sesaat. "Aku ingin bahagia. Itu saja."
Iwan menggenggam tangannya erat. "Kau akan bahagia. Aku janji."
Tapi janji itu tidak mudah ditepati. Beberapa hari setelahnya, Ainun mulai merasakan tekanan lebih besar dari keluarganya. Ibunya sering menangis, memintanya untuk mempertimbangkan kembali hubungannya dengan Iwan. Ayahnya semakin ketat mengawasinya, bahkan membatasi kepergiannya.
Suatu malam, Ainun dipanggil oleh ayahnya ke ruang tamu.
"Ainun, Ayah ingin kau bertemu dengan seseorang," kata ayahnya.
Seorang pria berusia sekitar 30-an tahun duduk di sofa. Ia tampak rapi, berpenampilan elegan dengan setelan jas mahal.
"Ini Reza. Anak dari rekan bisnis Ayah. Ia baru saja kembali dari luar negeri dan ingin mengenalmu lebih jauh."
Ainun merasakan dadanya mencelos. Ia tahu, ini adalah awal dari perjodohan yang dirancang keluarganya.
"Ainun?" panggil ibunya, menyadarkan Ainun yang terpaku.
Dengan usaha keras, Ainun tersenyum tipis dan menjabat tangan Reza. Tapi di dalam hatinya, ia tahu, hanya ada satu nama yang terus berputar dalam pikirannya: Iwan.
Sementara itu, di tempat lain, Iwan mulai menyadari bahwa sesuatu telah berubah. Ainun mulai sulit dihubungi. Kedatangannya ke restoran semakin jarang. Rasa khawatir mulai mengusiknya.
Ketika akhirnya Ainun muncul lagi, wajahnya tampak letih dan pikirannya dipenuhi kecemasan.
"Ainun, apa yang terjadi?" tanya Iwan, menatapnya penuh kekhawatiran.
Ainun menatapnya dengan mata berkaca-kaca. "Keluargaku ingin menjodohkanku, Iwan. Aku tidak tahu harus bagaimana."
Iwan mengepalkan tangannya. Ia tahu, ia bukan siapa-siapa di mata keluarga Ainun. Tapi bisakah ia menyerah begitu saja?
"Ainun... Aku tidak bisa kehilanganmu."
Ainun menatapnya dengan penuh harapan dan ketakutan. "Aku juga tidak ingin kehilanganmu, Iwan. Tapi bagaimana kita bisa melawan dunia yang tidak berpihak pada kita?"
Dalam diam, mereka menyadari satu hal: cinta mereka tak cukup hanya diperjuangkan dengan kata-kata. Kini, mereka harus memilih apakah akan tetap bertahan atau menyerah pada keadaan.