Malam itu, Ainun duduk di ruang makan bersama keluarganya. Suasana terasa lebih sunyi dari biasanya. Ayahnya menatapnya tajam, sementara ibunya mencoba menahan ekspresi khawatir. Ainun tahu, ada sesuatu yang ingin dibicarakan.
"Ainun, akhir-akhir ini kamu sering keluar. Kami mendengar dari beberapa orang bahwa kamu mengunjungi restoran kecil itu. Benar?" tanya ayahnya dengan nada serius.
Ainun meneguk ludah, berusaha untuk tetap tenang. "Iya, Ayah. Aku suka tempat itu."
Ayahnya meletakkan sendok dan garpunya. "Dan pemuda itu? Apa hubungannya denganmu?"
Ainun menunduk sejenak, lalu menjawab, "Dia teman, Ayah. Aku hanya berbicara dengannya."
Ibunya menatapnya lembut, tetapi kekhawatiran jelas terpancar dari wajahnya. "Sayang, kamu tahu bagaimana keluarga kita. Kita harus menjaga reputasi. Orang-orang akan berbicara jika kamu terlalu dekat dengan seseorang yang bukan dari kalangan kita."
Ainun merasa sesak. Ia tahu aturan itu, tetapi mengapa hatinya terasa begitu berat saat mendengarnya? "Tapi, apakah semua harus diukur dengan status, Bu? Iwan orang yang baik, pekerja keras, dan jujur. Kenapa itu tidak cukup?"
Ayahnya menghela napas panjang. "Kamu masih muda, Ainun. Kamu belum mengerti bagaimana dunia bekerja. Dunia tidak selalu adil, dan orang-orang seperti kita harus berhati-hati dalam memilih dengan siapa kita bergaul."
Ainun menggigit bibirnya. Ia ingin membantah, tetapi ia tahu itu hanya akan memperpanjang pertengkaran. Ia memilih untuk diam, meskipun hatinya bergejolak.
Namun, perbincangan itu tak berhenti di meja makan. Malam itu, di dalam kamarnya, Ainun merasakan ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari Iwan muncul di layar.
"Apa kamu baik-baik saja?"
Ainun tersenyum kecil, meskipun hatinya berat. Ia pun membalas.
"Aku baik. Hanya saja, keluargaku mulai mempermasalahkan pertemanan kita."
Tak butuh waktu lama, balasan dari Iwan muncul.
"Aku mengerti. Aku memang bukan orang yang pantas untukmu."
Ainun mengetik cepat.
"Jangan berkata seperti itu. Ini bukan tentang pantas atau tidak. Ini tentang bagaimana dunia memandang kita."
Di tempat lain, Iwan menatap layar ponselnya dengan perasaan campur aduk. Ia tahu, dunia Ainun terlalu berbeda darinya. Namun, mengapa hatinya tak bisa melepaskan perasaan ini begitu saja?
Sementara itu, ayah Ainun berbicara dengan seseorang di telepon. "Aku ingin kau mencari tahu tentang pemuda itu. Aku ingin tahu siapa dia, dari mana asalnya, dan apa yang dia inginkan dari putriku."
Ainun tak menyadari bahwa keluarganya sedang bergerak di belakang layar untuk menjauhkan dirinya dari Iwan. Dan ketika Iwan mengetahui bahwa seseorang sedang mengawasinya, ia mulai menyadari bahwa mencintai Ainun bukan hanya perkara perasaan, tetapi juga perjuangan yang lebih besar dari yang ia bayangkan.
Di sisi lain, Ainun harus menghadapi tekanan dari keluarganya yang mulai mendesaknya untuk menerima perjodohan dengan pria dari keluarga terpandang. Namun, hatinya telah memilih. Dan pilihan itu bernama Iwan.