Iwan berdiri di depan gerbang rumah megah milik Pak Satrio. Tangannya mengepal erat, menahan gejolak emosi yang sejak tadi menggelegak di dadanya. Malam itu, ia bertekad untuk menghadapi ayah Ainun. Jika memang ia harus bertarung untuk mempertahankan cintanya, maka ia akan melakukannya, meski lawannya adalah seorang pria berpengaruh.
Pintu besar itu akhirnya terbuka, memperlihatkan sosok Pak Satrio yang berdiri dengan tatapan tajam. Pria itu menatap Iwan seolah-olah ia adalah seorang pengemis yang datang meminta sesuatu yang tak pantas.
"Ada urusan apa kau ke sini?" suara Pak Satrio dingin dan penuh wibawa.
Iwan menelan ludah, tapi ia tetap berdiri tegak. "Saya datang untuk berbicara tentang Ainun, Pak. Saya tidak bisa menerima keputusan ini begitu saja."
Pak Satrio mendengus meremehkan. "Kau masih berani muncul di hadapanku setelah apa yang kukatakan pada Ainun? Sepertinya kau benar-benar tidak tahu diri."
Iwan mengepalkan tangannya, berusaha menahan amarahnya. "Saya tidak meminta banyak, Pak. Saya hanya ingin diberi kesempatan untuk membuktikan bahwa saya bisa membahagiakan Ainun. Cinta kami bukan sesuatu yang bisa dibeli atau diputuskan begitu saja."
Pak Satrio tertawa kecil, sinis. "Cinta? Cinta saja tidak cukup, Nak. Kau pikir hanya dengan cinta, kau bisa memberikan Ainun kehidupan yang layak? Kau hanyalah montir biasa! Masa depanmu tidak jelas! Bagaimana bisa kau membangun rumah tangga dengan anakku?"
Iwan menatap mata Pak Satrio dengan penuh keyakinan. "Saya mungkin hanya seorang montir sekarang, tapi saya bekerja keras. Saya punya impian dan saya akan mengusahakan yang terbaik untuk Ainun. Saya ingin membangun masa depan bersama dia, bukan hanya mengandalkan harta seperti yang Bapak pikirkan."
Pak Satrio mendekat, menatap tajam ke dalam mata Iwan. "Masa depan yang seperti apa? Dengan gaji kecil dan kehidupan yang penuh kesulitan? Ainun pantas mendapatkan lebih dari itu. Aku sudah menyiapkan calon suami yang jauh lebih baik darimu."
Iwan mengepalkan tangannya semakin erat. "Bapak mungkin bisa mengatur segalanya, tapi Bapak tidak bisa mengatur hati Ainun. Jika Bapak benar-benar mencintai putri Bapak, seharusnya Bapak mendukung kebahagiaannya, bukan memaksanya hidup dalam kemewahan tanpa cinta."
Pak Satrio mendengus, wajahnya semakin keras. "Keluar dari rumah ini sebelum aku memanggil keamanan. Dan aku tidak ingin melihatmu mendekati Ainun lagi!"
Sementara itu, Ainun yang mendengar keributan dari lantai atas, segera berlari menuruni tangga. Saat ia melihat Iwan berdiri di hadapan ayahnya, hatinya mencelos. Tanpa pikir panjang, ia bergegas menghampiri mereka.
"Iwan! Apa yang kamu lakukan di sini?" seru Ainun, matanya penuh kecemasan.
Iwan menoleh ke arah Ainun, matanya melembut. "Aku tidak bisa diam saja, Ainun. Aku harus memperjuangkanmu. Aku tidak bisa membiarkan kita berakhir seperti ini."
Pak Satrio melangkah ke depan, menghadang Ainun. "Cukup, Ainun! Kau sudah mendengar keputusanku. Jangan membuat malu keluarga ini lebih jauh lagi!"
Ainun menggeleng, air matanya mulai menggenang. "Ayah, ini hidupku! Aku yang akan menjalaninya! Kenapa Ayah selalu memutuskan segalanya untukku? Aku mencintai Iwan! Kenapa Ayah tidak bisa menerima itu?"
Pak Satrio terdiam sejenak, tapi kemudian ia menghela napas berat. "Karena aku tidak ingin kau menderita seperti ibumu dulu! Aku bekerja keras, membangun segalanya dari nol, supaya kau tidak mengalami apa yang kami alami! Aku tidak akan membiarkan kau jatuh ke dalam kehidupan miskin yang penuh penderitaan seperti dulu kami alami!"
Ainun tertegun. Selama ini, ia tidak pernah benar-benar memahami alasan di balik sikap keras ayahnya. Tapi sekarang, semuanya mulai jelas. Ayahnya takut. Takut kehilangan putrinya, takut ia akan mengalami kesulitan seperti yang dulu ibunya alami.
Iwan menatap Pak Satrio dengan lebih lembut. "Pak, saya mengerti bahwa Bapak hanya ingin melindungi Ainun. Tapi hidup bukan hanya tentang uang dan status. Kebahagiaan sejati tidak bisa dibeli. Ainun dan saya saling mencintai, dan saya berjanji akan bekerja lebih keras untuk membuktikan bahwa saya layak bersamanya."
Pak Satrio masih terlihat ragu. Matanya menatap Ainun yang kini menangis, lalu kembali ke Iwan yang berdiri teguh di hadapannya. Ada pergolakan dalam dirinya—antara naluri sebagai ayah yang ingin melindungi, dan keinginan untuk melihat putrinya bahagia.
Suasana menjadi sunyi. Tidak ada yang berbicara selama beberapa detik yang terasa seperti selamanya.
Kemudian, dengan suara pelan namun tajam, Pak Satrio berkata, "Buktikan."
Ainun dan Iwan saling berpandangan, tidak percaya dengan kata-kata yang baru saja mereka dengar.
"Apa maksud Ayah?" tanya Ainun dengan suara bergetar.
Pak Satrio menatap Iwan dengan tajam. "Jika kau benar-benar ingin membuktikan bahwa kau layak untuk Ainun, maka tunjukkan hasil kerja kerasmu. Aku akan memberimu satu tahun. Jika dalam waktu itu kau bisa membuktikan bahwa kau mampu memberikan kehidupan yang layak untuk Ainun, aku akan mempertimbangkan kembali keputusan ini. Tapi jika kau gagal, kau harus meninggalkannya selamanya."
Iwan menatap Pak Satrio dengan penuh keyakinan. "Saya akan menerima tantangan itu, Pak. Saya akan membuktikan bahwa saya bisa menjadi pria yang pantas untuk Ainun."
Ainun ingin protes, ingin menolak keputusan itu, tapi Iwan menggenggam tangannya dan memberinya senyuman penuh keyakinan.
"Aku akan kembali untukmu, Ainun," bisik Iwan.
Malam itu, Iwan pergi dari rumah Pak Satrio dengan hati yang dipenuhi tekad. Sementara Ainun, meski merasa takut, juga merasakan harapan untuk pertama kalinya.
Dan dengan itu, pertarungan mereka untuk cinta pun dimulai.