Iwan menghabiskan malam itu dengan pikiran yang dipenuhi berbagai rencana. Satu tahun bukanlah waktu yang lama, tapi juga bukan waktu yang sebentar. Ia harus memanfaatkan setiap detiknya untuk membuktikan bahwa ia layak mendapatkan Ainun. Tidak hanya kepada Pak Satrio, tetapi juga kepada dirinya sendiri.
Keesokan harinya, ia menemui ibunya, Bu Siti, di rumah kontrakan kecil mereka. Wanita tua itu menyambut anaknya dengan senyum lelah namun penuh kasih sayang. Iwan duduk di hadapan ibunya, menatap wajahnya yang penuh kerutan hasil dari tahun-tahun perjuangan.
"Bu, aku ingin bicara sesuatu," ujar Iwan dengan suara serius.
Bu Siti mengangguk. "Apa itu, Nak? Kau kelihatan sangat gelisah."
Iwan menarik napas dalam-dalam sebelum mulai berbicara. Ia menceritakan segalanya—tentang ultimatum dari Pak Satrio, tentang perasaannya pada Ainun, dan tentang bagaimana ia bertekad untuk membuktikan dirinya dalam waktu satu tahun.
Bu Siti menatap putranya dengan mata berkaca-kaca. "Nak, Ibu tahu betapa besar cintamu pada Ainun, tapi jalan ini tidak akan mudah. Apa kau yakin bisa melakukannya?"
Iwan menggenggam tangan ibunya. "Aku harus, Bu. Ainun pantas mendapatkan yang terbaik, dan aku ingin menjadi orang itu untuknya. Aku tidak bisa menyerah hanya karena aku tidak punya banyak uang. Aku akan bekerja lebih keras, mencari peluang baru, dan menunjukkan bahwa aku bukan hanya seorang montir biasa."
Bu Siti mengelus kepala Iwan dengan lembut. "Kalau begitu, Ibu akan selalu mendoakanmu, Nak. Tapi ingat, yang terpenting bukan hanya membuktikan sesuatu kepada orang lain, tapi juga kepada dirimu sendiri. Jangan sampai dalam usahamu ini, kau kehilangan jati dirimu."
Kata-kata ibunya begitu dalam menancap di hati Iwan. Ia sadar, ini bukan hanya tentang membuktikan diri kepada Pak Satrio, tetapi juga perjalanan menemukan versi terbaik dari dirinya sendiri.
Di sisi lain, Ainun menghadapi tantangan berbeda. Sejak perdebatan besar malam itu, ia merasa ayahnya lebih mengawasi setiap gerak-geriknya. Telepon genggamnya disita, akses keluar rumahnya semakin dibatasi, dan setiap saat ia merasa berada dalam penjara tak kasat mata.
Suatu malam, Ainun nekat mengetuk pintu ruang kerja ayahnya. Pak Satrio menoleh, mengangkat alis ketika melihat putrinya berdiri dengan wajah penuh tekad.
"Ada apa, Ainun?" tanya Pak Satrio dingin.
Ainun menarik kursi di hadapan meja ayahnya dan duduk. "Aku ingin bicara, Ayah. Bukan sebagai putri Ayah, tapi sebagai seorang wanita dewasa yang ingin menentukan hidupnya sendiri."
Pak Satrio mendengus. "Kalau ini tentang Iwan, aku sudah memberinya kesempatan."
"Bukan hanya tentang itu," Ainun membalas cepat. "Aku ingin tahu, kenapa Ayah begitu menentang hubungan kami? Aku tahu Ayah bilang ini soal masa depan, tapi aku merasa ada alasan lain yang lebih dalam."
Pak Satrio terdiam sejenak. Matanya menerawang ke jendela, seolah mengingat sesuatu dari masa lalu.
"Dulu, ibumu dan aku memulai semuanya dari nol," Pak Satrio akhirnya bicara. "Kami hidup dalam kemiskinan, berjuang untuk sekadar makan sehari-hari. Aku melihat bagaimana ibumu menderita, bagaimana dia menangis di malam hari karena takut kami tidak bisa bertahan. Aku berjanji pada diriku sendiri, aku tidak akan membiarkan anak-anakku mengalami hal yang sama."
Ainun terkejut. "Ayah tidak pernah cerita tentang ini..."
Pak Satrio tersenyum kecil, namun matanya penuh kesedihan. "Karena aku ingin kalian tumbuh tanpa rasa takut akan masa depan. Tapi sekarang, kau ingin melemparkan dirimu ke dalam situasi yang sama seperti yang dulu ibumu dan aku alami? Aku tidak bisa membiarkan itu, Ainun. Aku tidak bisa melihatmu menderita."
Ainun menggenggam tangan ayahnya dengan lembut. "Ayah, aku mengerti ketakutan Ayah. Tapi hidup bukan hanya soal materi. Aku tidak akan menderita selama aku bersama seseorang yang benar-benar mencintaiku. Dan Iwan, dia bukan pria biasa, Ayah. Dia punya impian, dan aku percaya dia akan mencapainya."
Pak Satrio menarik napas dalam, lalu menggelengkan kepalanya. "Kita lihat saja satu tahun dari sekarang. Kalau dia benar-benar bisa membuktikan dirinya, mungkin aku bisa mempertimbangkan kembali. Tapi kalau tidak, aku ingin kau melupakan dia selamanya."
Ainun menggigit bibirnya, menahan perasaan yang bercampur aduk. Ia ingin percaya pada Iwan, tapi apakah satu tahun cukup untuk membuktikan segalanya?
Di bengkel tempatnya bekerja, Iwan mulai menyusun strategi. Ia tahu bahwa hanya bekerja sebagai montir tidak akan cukup untuk meyakinkan Pak Satrio. Ia butuh sesuatu yang lebih besar, sesuatu yang bisa mengubah hidupnya dalam waktu satu tahun.
Suatu hari, sahabatnya, Rudi, yang juga seorang mekanik, menawarkannya sebuah peluang. "Iwan, aku dengar ada pelatihan otomotif dan wirausaha di kota. Katanya, kalau lulus dari sana, kita bisa dapat modal usaha. Gimana kalau kita ikut?"
Mata Iwan berbinar. Ini bisa menjadi kesempatan yang ia cari. "Kapan mulai?"
"Minggu depan. Tapi kita harus bayar biaya pendaftaran dan cari tempat tinggal di sana."
Iwan terdiam. Tabungannya tidak banyak, tapi ini adalah kesempatan emas.
Malam itu, ia kembali ke rumah dan berbicara dengan ibunya.
"Bu, aku ingin ikut pelatihan ini. Aku tahu biayanya tidak murah, tapi ini bisa jadi jalan untuk membuktikan diri. Aku bisa belajar banyak hal, bahkan mungkin bisa memulai usahaku sendiri setelah ini."
Bu Siti menatap putranya lama, lalu menghela napas. "Kau benar-benar yakin, Nak?"
Iwan mengangguk. "Aku harus melakukan ini, Bu. Aku tidak bisa hanya menunggu dan berharap segalanya akan berubah dengan sendirinya. Aku harus berusaha."
Bu Siti tersenyum lembut, meskipun matanya menunjukkan kekhawatiran. "Baiklah, Nak. Ibu akan mendukungmu dengan apa yang Ibu bisa."
Iwan merasa hatinya semakin mantap. Ini bukan hanya tentang membuktikan diri kepada Pak Satrio. Ini juga tentang membangun hidup yang lebih baik, untuk dirinya sendiri, untuk ibunya, dan untuk Ainun.
Di tempat lain, Ainun menatap bulan dari balik jendela kamarnya, merindukan seseorang yang sedang berjuang demi masa depan mereka.
Tak ada yang tahu apa yang akan terjadi dalam satu tahun ke depan. Tapi satu hal yang pasti—perjuangan mereka baru saja dimulai.