Sejak pertemuan mereka di restoran, Ainun tidak bisa menghapus bayangan Iwan dari pikirannya. Ada sesuatu dalam cara pemuda itu berbicara, dalam sorot matanya yang jujur dan penuh kerja keras, yang membuat Ainun penasaran. Bukan karena ia belum pernah melihat laki-laki yang bekerja keras sebelumnya, tetapi ada ketulusan yang terasa berbeda dalam diri Iwan. Setiap kali ia memejamkan mata, senyum kecil Iwan terlintas di benaknya.
Di rumah mewahnya, Ainun berbaring di tempat tidur sambil menggulir layar ponselnya. Ia penasaran, apakah pemuda itu punya media sosial? Tapi bagaimana cara menemukannya? Iwan bukan tipe orang yang menonjol di dunia digital. Bahkan ketika ia mencoba mencarinya dengan nama yang tertulis di name tag Iwan saat bekerja, hasil pencariannya nihil. Seakan dunia digital tidak memiliki jejak tentang pria itu. Hal ini semakin membuat Ainun penasaran.
Sementara itu, Iwan duduk di kamarnya yang kecil setelah seharian bekerja. Ia melirik ponselnya yang usang, membuka media sosial hanya untuk mengecek pesan dari teman-temannya. Ia bukan orang yang aktif berbagi kehidupan di dunia maya. Baginya, dunia nyata lebih penting untuk diperjuangkan. Namun, tanpa sadar, pikirannya melayang ke sosok Ainun. Gadis itu bukan sekadar pelanggan biasa. Ada sesuatu dalam cara Ainun tersenyum, dalam cara Ainun berbicara kepadanya yang berbeda dari orang-orang lain. Tapi Iwan sadar, mereka berasal dari dunia yang jauh berbeda.
Keesokan harinya, Ainun kembali ke restoran itu. Ia duduk di meja yang sama seperti sebelumnya, berharap bisa melihat Iwan lagi. Ketika Iwan datang untuk mencatat pesanannya, Ainun tersenyum.
"Kamu bekerja setiap hari di sini?" tanyanya dengan nada santai.
Iwan mengangguk. "Iya, hampir setiap hari. Kenapa?"
Ainun mengangkat bahu. "Penasaran saja. Sepertinya pekerjaan ini melelahkan."
Iwan tersenyum tipis. "Kalau nggak kerja, saya nggak makan. Jadi, harus dinikmati."
Jawaban itu membuat Ainun terdiam sejenak. Ia tidak terbiasa mendengar seseorang berbicara dengan realitas yang begitu keras. Hidupnya selama ini penuh dengan kenyamanan, tetapi Iwan hidup dengan perjuangan yang begitu nyata.
Hari-hari berlalu, Ainun semakin sering datang ke restoran itu. Kadang ia datang sendirian, kadang bersama teman-temannya. Tapi setiap kali ia datang, ia selalu memastikan bisa berbicara dengan Iwan meskipun hanya sebentar. Ainun tidak tahu kenapa, tetapi ada sesuatu dalam sosok pemuda itu yang menarik perhatiannya. Iwan, di sisi lain, mulai terbiasa dengan kehadiran Ainun, meskipun dalam hatinya ia terus mengingatkan diri sendiri untuk tidak berharap terlalu banyak.
Namun, rasa penasaran Ainun semakin bertambah. Ia ingin tahu lebih banyak tentang Iwan. Apa impiannya? Apa yang membuatnya tetap tersenyum meskipun hidupnya penuh perjuangan? Dan yang paling penting, apakah Iwan merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan?