Ainun duduk di restoran itu lagi, kali ini tanpa teman-temannya. Ia memesan secangkir teh dan menunggu hingga Iwan mendekat ke mejanya. Hari itu restoran cukup ramai, dan Iwan terlihat sibuk melayani pelanggan lain. Namun, ketika akhirnya ia menghampiri Ainun, ada sedikit senyum yang tersungging di wajahnya.
"Kamu lagi?" tanyanya dengan nada bercanda.
Ainun mengangkat bahu. "Teh di sini enak."
Iwan tertawa kecil. "Atau mungkin pelayannya yang menarik?"
Ainun terkejut mendengar respons itu. Biasanya, Iwan adalah sosok yang serius dan sedikit pendiam. Ia tidak menyangka pemuda itu memiliki selera humor yang cukup baik.
"Mungkin keduanya," jawab Ainun santai.
Percakapan mereka mengalir lebih panjang dari yang Ainun bayangkan. Awalnya hanya basa-basi tentang makanan dan restoran, lalu perlahan bergeser ke kehidupan masing-masing. Ainun bertanya tentang rutinitas Iwan, tentang keluarganya, dan bagaimana ia bisa bekerja di restoran ini.
Iwan menjawab dengan santai, meskipun ada sedikit beban dalam nada suaranya. "Aku harus bekerja sejak lulus SMA. Keluargaku nggak punya banyak pilihan. Aku punya adik yang masih sekolah, jadi aku harus membantu ibu."
Ainun mendengarkan dengan penuh perhatian. Ia mulai menyadari betapa besar tanggung jawab yang dipikul Iwan di usianya yang masih muda.
"Kamu nggak pengin kuliah?" tanya Ainun hati-hati.
Iwan menghela napas. "Pengin, tapi belum ada kesempatan. Mungkin suatu hari nanti."
Ada keheningan sesaat di antara mereka. Ainun merasa iba, tapi ia tahu Iwan tidak butuh belas kasihan. Pemuda itu jelas memiliki tekad yang kuat.
"Aku yakin kamu bisa," kata Ainun akhirnya. "Kamu punya semangat yang besar."
Iwan tersenyum kecil. "Makasih. Aku nggak sering dengar orang bilang begitu."
Saat mereka berbicara, Ainun menyadari bahwa ia semakin tertarik pada Iwan. Ada sesuatu dalam diri pemuda itu yang membuatnya ingin terus mengenalnya lebih jauh.
Namun, ketika Ainun pulang ke rumah malam itu, ibunya mulai curiga. "Kamu sering keluar akhir-akhir ini. Dengan siapa?"
Ainun hanya tersenyum dan menjawab, "Teman baru."
Di sisi lain, Iwan juga mulai merasa bahwa kehadiran Ainun dalam hidupnya membawa sesuatu yang berbeda. Tapi ia sadar, dunia mereka terlalu jauh. Ia hanya berharap, entah bagaimana, mereka bisa tetap berbicara seperti ini lebih lama lagi.