Hari-hari berlalu tanpa perubahan berarti. Lana dan Alvaro tetap berusaha menjaga jarak, hanya berinteraksi saat dibutuhkan. Namun, takdir memang selalu punya cara untuk mempermainkan hati manusia.
Pagi itu...
Lana turun ke ruang makan dan mendapati Alvaro sudah duduk dengan santai, menyeruput kopi seperti biasa. Mereka tidak banyak berbicara sejak percakapan di taman malam itu.
Lana mengabaikan kehadiran Alvaro dan mulai mengambil sarapan. Namun, baru saja ia hendak duduk, ibunya muncul dari belakang.
"Lana, Ibu ingin kau menemani Alvaro hari ini," katanya sambil tersenyum penuh harap.
Lana hampir tersedak. "Menemaninya ke mana?"
"Ke acara amal di hotel. Banyak pengusaha yang hadir, dan sebagai istrinya, kau harus ada di sisinya."
Lana menoleh ke arah Alvaro, berharap pria itu akan menolak. Namun, Alvaro hanya tersenyum kecil dan berkata, "Baik, Bu. Aku akan membawa Lana bersamaku."
Lana menatapnya tajam. Apa dia sengaja menyulitkan hidupnya?
Setelah ibunya pergi, Lana langsung mendekat ke meja dan berbisik, "Kenapa kau menyetujui ini?"
Alvaro meletakkan cangkir kopinya. "Aku tidak punya pilihan. Ibu pasti akan curiga kalau kita terus menghindari acara bersama."
Lana mendesah kesal. "Tapi aku tidak terbiasa dengan acara semacam itu."
Alvaro menatapnya sekilas, lalu berdiri. "Aku akan menjemputmu pukul enam. Pakailah sesuatu yang cocok untuk acara formal."
Lana hanya bisa menghela napas panjang.
---
Malamnya...
Lana berdiri di depan cermin, mengenakan gaun berwarna biru tua yang elegan. Rambutnya digulung rapi, dengan riasan minimalis yang tetap menonjolkan kecantikannya.
Saat ia turun ke lantai bawah, ia menemukan Alvaro sudah menunggunya. Pria itu mengenakan setelan hitam yang terlihat sempurna di tubuhnya.
Alvaro menatap Lana dari ujung kepala hingga kaki. Sekilas, ada sesuatu di matanya yang sulit dijelaskan, tetapi ia segera mengalihkan pandangan.
"Kita berangkat," katanya singkat.
Di dalam mobil, mereka tidak banyak berbicara. Hanya ada suara musik pelan dari radio.
Lana melirik Alvaro sekilas. Pria itu terlihat begitu tenang, seolah tidak ada yang mengganggunya.
"Kau sering menghadiri acara seperti ini?" tanya Lana akhirnya.
Alvaro mengangguk. "Ya. Aku harus menjaga reputasi perusahaan."
Lana mengerti. Alvaro memang seorang pria yang berorientasi pada bisnis.
Tapi... di mana letak dirinya dalam kehidupan pria itu?
---
Di acara amal...
Begitu mereka memasuki ballroom hotel, semua mata langsung tertuju pada mereka. Para tamu yang sebagian besar adalah pebisnis ternama mulai berbisik-bisik, seolah menilai pasangan mereka.
Lana merasa canggung, tetapi Alvaro tiba-tiba meraih tangannya.
Ia menoleh kaget. "Apa yang kau lakukan?" bisiknya.
Alvaro tetap tersenyum ramah kepada para tamu sambil berbisik, "Bersikaplah seperti istri yang bahagia."
Lana menghela napas dalam hati. Ia tidak punya pilihan selain mengikuti permainan ini.
Mereka bersalaman dengan beberapa rekan bisnis Alvaro. Lana hanya berdiri di sampingnya, tersenyum dan sesekali menanggapi pembicaraan ringan.
Namun, di tengah acara, seorang wanita cantik dengan gaun merah mendekati mereka. Senyumnya manis, tetapi ada sesuatu di matanya yang membuat Lana tidak nyaman.
"Alvaro," sapa wanita itu lembut. "Sudah lama kita tidak bertemu."
Alvaro sedikit menegang. "Clara."
Lana bisa merasakan perubahan atmosfer di antara mereka.
Clara menatap Lana dengan tatapan menilai sebelum tersenyum manis. "Dan ini pasti istrimu. Halo, aku Clara, teman lama Alvaro."
Lana tersenyum sopan. "Lana."
Clara melirik tangan Alvaro yang masih menggenggam tangan Lana, lalu tersenyum miring. "Kau benar-benar sudah berubah, Alvaro. Dulu kau tidak pernah suka menunjukkan kemesraan di depan umum."
Lana merasakan genggaman tangan Alvaro sedikit mengencang.
"Semua orang bisa berubah, Clara," jawab Alvaro tenang.
Clara terkekeh pelan. "Benarkah? Aku penasaran, apa pernikahan ini benar-benar berdasarkan cinta?"
Lana merasakan jantungnya berdegup kencang.
Alvaro tetap tenang, tetapi ada kilatan tajam di matanya. "Kau terlalu banyak bertanya, Clara."
Clara tersenyum kecil. "Baiklah, aku tidak akan mengganggu lagi. Sampai jumpa lagi, Lana."
Setelah Clara pergi, Lana menoleh ke Alvaro. "Siapa dia?"
Alvaro menatapnya sebentar sebelum menjawab, "Mantan tunanganku."
Lana membelalakkan mata. "Apa?"
Alvaro menghela napas. "Aku akan menjelaskan nanti. Sekarang, kita harus menyelesaikan acara ini."
Lana tidak puas dengan jawaban itu, tetapi ia menahan diri.
Namun, satu hal yang pasti—pernikahan ini semakin rumit dari yang ia bayangkan.
---
Setelah pertemuan dengan Clara, Lana tidak bisa mengabaikan rasa penasaran yang mengganggunya. Saat mereka kembali ke rumah, ia akhirnya membuka suara.
"Al, aku ingin tahu tentang Clara," katanya sambil menatap suaminya yang baru saja melepas jasnya.
Alvaro menghela napas panjang, lalu duduk di sofa. "Dia adalah bagian dari masa laluku, Lana. Tidak ada yang perlu kau khawatirkan."
Lana melipat tangannya di d**a. "Tapi dia mantan tunanganmu. Kenapa kalian tidak jadi menikah?"
Alvaro menatapnya sesaat sebelum menjawab, "Dia meninggalkanku demi pria lain."
Lana tidak menyangka jawaban itu. Ia pikir Alvaro adalah tipe pria yang tidak akan membiarkan dirinya disakiti.
"Apa kau masih mencintainya?" tanya Lana pelan.
Alvaro menghela napas, lalu mengalihkan pandangannya. "Aku tidak tahu, Lana. Tapi satu hal yang pasti, aku tidak ingin membahasnya lagi."
Lana menggigit bibirnya, lalu mengangguk pelan. "Baiklah."
Mereka kembali ke kamar masing-masing. Namun, malam itu, Lana tidak bisa tidur.
Ia tidak mengerti kenapa, tapi hatinya terasa sedikit tidak nyaman.
Di tempat lain...
Clara duduk di sebuah kafe sambil menyesap kopinya. Senyumnya penuh arti saat ia menatap layar ponselnya.
"Jadi, Alvaro sudah menikah, ya?" gumamnya sambil tersenyum sinis.
Ia menutup ponselnya dan menatap ke luar jendela.
"Tapi itu tidak berarti aku sudah kalah."
Clara tahu, Alvaro bukan tipe pria yang bisa dengan mudah melupakan seseorang yang pernah ia cintai.
Dan ia akan memastikan pernikahan Alvaro tidak berjalan mulus.
---