Setelah beberapa minggu menikah, hubungan antara Lana dan Al masih tetap sama—dingin dan penuh batasan. Mereka menjalani hari-hari seperti dua orang asing yang kebetulan tinggal serumah. Namun, tanpa disadari, retakan kecil mulai muncul dalam kesepakatan
Pagi itu, Lana bangun lebih awal dari biasanya. Matanya terasa berat karena semalam bekerja hingga larut. Dengan langkah malas, ia berjalan ke dapur untuk menyeduh kopi.
Namun, sesuatu yang tak biasa terjadi.
Al sudah ada di sana, duduk di meja makan dengan cangkir kopi di tangannya.
Lana terdiam sejenak sebelum melangkah mendekat. Ia tidak menyangka Al bisa bangun lebih awal, apalagi duduk santai di meja makan. Biasanya, pria itu akan buru-buru berangkat ke kantor tanpa sarapan.
"Kamu bangun pagi," komentar Lana sambil membuka lemari dan mengambil cangkir untuk dirinya sendiri.
Al melirik sekilas. "Begitulah."
Lana menuangkan kopi ke dalam cangkir dan duduk di kursi seberang Al. Suasana hening. Biasanya, ia dan Al tidak pernah duduk bersama seperti ini.
“Kalau begini terus, kita bisa dibilang pasangan normal,” celetuk Lana, mencoba mencairkan suasana.
Al mengangkat alis. “Normal? Kita jauh dari kata itu.”
Lana tertawa kecil. “Ya, aku tahu.”
Tapi entah kenapa, obrolan singkat ini membuat sesuatu dalam hati Lana sedikit menghangat.
---
Hari itu, Lana berangkat kerja dengan perasaan sedikit lebih baik. Namun, semuanya berubah saat makan siang.
Maya, rekan kerjanya, datang dengan wajah penasaran. “Hei, aku dengar sesuatu.”
Lana menatapnya dengan malas. “Apa lagi?”
Maya tersenyum lebar. “Jadi, katanya kamu menikah dengan Alvaro Mahendra.?”
Lana nyaris tersedak minumannya. “Dari mana kamu tahu?”
Maya mendekat. “Ada yang melihat kalian di acara keluarga Mahendra minggu lalu. Wah, Lana, kenapa kamu tidak cerita?”
Lana menghela napas. “Aku tidak suka membicarakan urusan pribadi di kantor.”
“Tapi, banyak yang penasaran, tahu! Apalagi Al itu terkenal di dunia bisnis. Semua orang bertanya-tanya bagaimana kamu bisa menikah dengannya.”
Lana tersenyum tipis. “Anggap saja aku beruntung.”
Namun, di dalam hatinya, Lana merasa gelisah. Jika gosip ini semakin menyebar, ia khawatir akan ada lebih banyak pertanyaan yang sulit dijawab.
---
Malamnya, saat Lana pulang ke rumah, ia menemukan Al sudah duduk di sofa dengan laptopnya. Biasanya, pria itu akan langsung masuk ke kamar setelah pulang kerja.
“Kamu lembur?” tanya Al tanpa mengalihkan pandangannya dari layar.
Lana melepas sepatu. “Ya, ada revisi proyek.”
Al menutup laptopnya dan menatap Lana. “Kalau ada masalah di kantor, beri tahu aku.”
Lana mengerutkan dahi. “Kenapa kamu tiba-tiba peduli?”
Al menyandarkan punggungnya ke sofa. “Aku hanya tidak mau rumor mengganggu pekerjaanmu.”
Lana mendengus. “Aku bisa mengurus diriku sendiri.”
Al tidak menjawab. Namun, Lana bisa merasakan ada sesuatu yang berbeda dari pria itu. Apakah Al mulai peduli?
---
Beberapa hari kemudian, ibu Al mengundang mereka untuk makan malam bersama. Ini bukan kali pertama mereka harus berpura-pura sebagai pasangan yang harmonis di depan keluarga.
Namun, malam itu terasa berbeda.
“Ibu ingin mengenalmu lebih dekat, Lana,” ujar Ny. Mahendra dengan senyum hangat saat mereka duduk di ruang makan.
Lana tersenyum sopan. “Tentu, Tante. Saya senang bisa ada di sini.”
Al yang duduk di sampingnya hanya diam, tetapi sesekali ia melirik ke arah Lana, seolah memastikan wanita itu tidak melakukan kesalahan.
Namun, suasana mulai berubah ketika topik pernikahan mereka dibahas.
“Kapan kalian berencana punya anak?” tanya Ny. Mahendra tiba-tiba.
Lana nyaris tersedak. Ia melirik Al, berharap pria itu yang menjawab.
“Kami belum memikirkan itu,” ujar Al akhirnya.
“Tapi kalian sudah menikah. Tidak ada salahnya merencanakan keluarga kecil, kan?”
Lana berusaha tetap tenang, meskipun jantungnya berdetak cepat. Pertanyaan ini terlalu berbahaya, mengingat pernikahan mereka hanyalah kesepakatan.
Namun, yang lebih mengejutkan adalah jawaban Al berikutnya.
“Kami akan mempertimbangkannya.”
Lana menoleh cepat, menatap pria itu dengan mata membesar. Apa maksudnya?
Setelah makan malam berakhir dan mereka kembali ke rumah, Lana langsung menghadang Al di ruang tamu.
“Apa maksud jawabanmu tadi?” tanyanya tajam.
Al melepas jasnya dengan santai. “Apa?”
“Kamu bilang kita akan mempertimbangkan memiliki anak! Kenapa kamu bilang begitu?”
Al menatapnya dengan ekspresi datar. “Karena itu jawaban yang lebih masuk akal daripada mengatakan kita tidak akan pernah punya anak.”
Lana terdiam.
“Kita tidak bisa membuat orang curiga, Lana,” lanjut Al. “Jadi, kalau ibu bertanya lagi, lebih baik kita biarkan saja seolah kita punya rencana.”
Lana menghela napas berat. “Aku tidak suka berbohong sejauh ini.”
Al tersenyum sinis. “Bukankah sejak awal pernikahan kita sudah penuh kebohongan?”
Lana tidak bisa membantah. Tapi entah kenapa, jawaban itu membuat hatinya sedikit sakit.