Setelah makan malam di rumah keluarga Al, hubungan antara Lana dan Al mulai berubah. Meski masih bersikap dingin satu sama lain, ada momen-momen kecil yang membuat batas di antara mereka perlahan memudar.
---
Lana mulai menyadari sesuatu yang berbeda dari Al. Ia bukan hanya pria arogan yang menganggap pernikahan ini sebagai beban, tetapi juga seseorang yang diam-diam memperhatikan hal-hal kecil.
Seperti pagi itu.
Saat Lana turun ke dapur, ia mendapati secangkir kopi sudah tersedia di meja makan. Kopinya, bukan kopi hitam pahit yang biasa diminum Al.
Lana terdiam sejenak sebelum akhirnya duduk dan mengambil cangkir itu. Ia menyeruput sedikit, dan benar saja—kopi s**u kesukaannya.
"Kamu yang buat ini?" tanya Lana, menoleh ke arah Al yang sedang membaca koran.
Pria itu hanya melirik sekilas. "Aku menyuruh asisten rumah tangga menyiapkannya."
Lana tersenyum kecil. "Tetap saja, kamu mengingat apa yang kusuka."
Al tidak menjawab. Tapi bagi Lana, itu sudah cukup untuk membuatnya merasa sedikit dihargai.
---
Hari itu, Lana bekerja seperti biasa. Namun, suasana di kantor sedikit berbeda sejak rumor pernikahannya dengan Al menyebar.
Beberapa rekan kerja masih membicarakannya, dan beberapa bahkan terang-terangan bertanya tentang hubungannya dengan pria itu.
Namun, yang paling mengejutkan Lana adalah ketika seorang pria di kantor, Erik, mencoba mendekatinya.
"Lana, aku tahu ini mungkin terdengar berani, tapi… aku ingin mengajakmu makan malam."
Lana menatap Erik dengan bingung. "Erik, aku sudah menikah."
Pria itu tersenyum kecil. "Tapi dari yang kudengar, pernikahanmu dengan Al tidak lebih dari sekadar formalitas. Kalau memang tidak ada perasaan di antara kalian, kenapa tidak mencoba membuka hati untuk orang lain?"
Lana terdiam. Ia tidak tahu harus mengatakan apa.
Namun, sebelum ia sempat menjawab, suara berat yang familiar terdengar dari belakangnya.
"Dia tidak tertarik."
Lana menoleh, begitu pula Erik.
Di sana, Al berdiri dengan wajah dinginnya yang khas.
"Lana istriku," lanjutnya. "Dan dia tidak membutuhkan perhatian dari pria lain."
Erik menegang, lalu mengangguk pelan. "Maaf, aku tidak bermaksud…"
"Tidak masalah," potong Al, lalu menarik tangan Lana. "Kita pergi."
Lana mengikuti langkahnya dengan jantung berdebar. Apa tadi itu? Apakah Al baru saja menunjukkan tanda-tanda… cemburu?
---
Setelah kejadian di kantor, Lana dan Al pulang tanpa banyak bicara. Namun, suasana di antara mereka terasa berbeda.
Setelah makan malam, Lana memilih untuk duduk di ruang tamu sambil menonton TV. Ia berharap bisa mengalihkan pikirannya dari kejadian hari ini.
Namun, tak lama kemudian, Al datang dan duduk di sampingnya.
"Kamu baik-baik saja?" tanyanya.
Lana menoleh dengan sedikit terkejut. "Kamu peduli?"
Al menghela napas. "Aku hanya tidak suka melihat istriku diganggu pria lain."
Lana tersenyum kecil. "Jadi, kamu cemburu?"
Al menatapnya dengan tatapan tajam. "Jangan geer."
Lana tertawa. "Baiklah, baiklah."
Hening sejenak.
Lana melirik ke arah Al yang tampak sibuk dengan ponselnya. Tanpa sadar, ia merasa sedikit lebih nyaman berada di dekat pria itu.
Mungkin, hanya mungkin, batas di antara mereka mulai memudar.
---
Apakah Al benar-benar mulai peduli pada Lana? Ataukah ini hanya bagian dari perannya sebagai suami di mata publik?