Reza menghabiskan tiga hari terakhir dengan kebiasaan baru yang menyiksa: menghitung. Bukan paket, bukan order, melainkan jarak. Jarak antara kontrakan ibu Sasa yang barusan ditebusnya dengan obat, dan rekening tabungannya yang tinggal angka tiga digit. Jarak antara apa yang Sasa pantas dapatkan, dan apa yang bisa diberikan seorang kurir dengan gaji yang setiap akhir bulan habis dibagi sewa kos dan cicilan motor.
Pertanyaan ibu Sasa masih menggantung di kepalanya seperti paket tak terjemput. Mau dibawa ke mana hubungan ini? Reza tidak punya jawaban yang berani dia ucapkan.
Sore itu Sasa memergokinya sedang termenung di balkon kecil unit 0905, memegang kopi yang sudah dingin, menatap parkiran motor di bawah seakan parkiran itu berutang penjelasan padanya.
"Kamu mikirin apa," kata Sasa. Bukan pertanyaan. Lebih seperti tuduhan, persis gaya lama.
"Nggak ada," kata Reza. "Mikirin rute besok."
"Bohong." Sasa menyandar di pintu balkon, melipat tangan. "Kamu kalau mikirin rute keningnya cuma satu kerut. Ini tiga kerut. Tiga kerut itu kerut duit, Rez. Aku hafal."
Reza menghela napas. Tidak ada gunanya berbohong pada perempuan yang mata dan otaknya sama tajam. "Sas, jujur ya. Kemarin pas aku nemenin kamu nungguin ibumu di klinik, aku ngitung-ngitung di kepala. Obat ibumu, ongkos bolak-balik, sama tabunganku. Dan aku—" dia berhenti, menelan sesuatu yang pahit. "Aku ngerasa kayak orang yang dateng ke pesta tapi nggak bawa kado. Kamu pantes dapet yang lebih dari aku, Sas. Yang punya rumah, yang gajinya tetap, yang nggak harus ngitung receh buat beli paracetamol."
Hening sebentar. Cimol melompat ke pagar balkon, duduk di antara mereka, ekornya menyapu santai seolah dia juri yang sedang menimbang.
Lalu Sasa menarik kursi plastik, duduk tepat di depan Reza, lutut mereka nyaris bersentuhan. Wajahnya bukan wajah marah. Lebih buruk. Wajah serius.
"Reza, dengerin aku baik-baik, karena aku cuma mau ngomong ini sekali." Sasa menatapnya lurus. "Dua tahun aku sama orang yang punya rumah, punya mobil, gajinya nggak harus diitung. Dan tahu nggak apa yang dia kasih ke aku? Atap bocor yang dia biarin. Ulang tahun yang dia lupain. Mantannya yang dia chat di belakangku. Saldo rekening dia tebal, tapi yang dia kasih ke aku tipis banget, Rez. Tipis sampe aku hampir lupa rasanya diperhatiin."
Reza membuka mulut, tapi Sasa mengangkat satu jari, melarang.
"Belum selesai." Suaranya melembut, tapi tidak kehilangan ketegasannya. "Terus dateng kurir tukang salah baca angka. Yang ngebenerin atapku malem-malem. Yang bawain nasi goreng karena takut lambungku rusak. Yang cuci piring di rumah ibuku tanpa disuruh. Yang nemenin aku begadang di klinik sampe pagi terus paginya tetap ngangkut tujuh belas paket tanpa ngeluh." Dia mencondongkan tubuh. "Aku nggak milih kamu karena rekeningmu, bodoh. Kalau aku mau rekening, aku tinggal balik ke Bagas. Aku milih kamu karena kamu hadir. Kamu ngerti bedanya?"
Reza menunduk, tenggorokannya tercekat. "Tapi hadir aja nggak bisa bayar sewa, Sas."
"Nggak. Tapi hadir bisa bayar yang nggak bisa dibeli Bagas pakai duitnya seumur hidup." Sasa meraih tangan Reza, menggenggamnya, kasar oleh kerja seperti biasa. "Aku nggak butuh kamu jadi orang kaya. Aku butuh kamu jadi kamu. Dan kalau suatu hari kita harus makan mi instan berdua di lantai karena lagi bokek, aku lebih milih itu daripada makan steak sendirian di meja gede."
Cimol mengeong panjang, seolah mengetukkan palu sidang.
Reza tertawa kecil, parau, matanya panas. "Kamu ini... galaknya bahkan pas lagi romantis."
"Galak itu tameng, inget?" Sasa menyeringai. "Tapi tamengnya udah aku buka khusus buat kamu. Jadi jangan diabisin buat insecure, kebangetan." Dia menjentik dahi Reza pelan. "Berhenti ngitung jarak antara kamu sama aku. Nggak ada jaraknya. Aku udah di sini."
Reza menggenggam tangan Sasa lebih erat. Untuk pertama kali dalam tiga hari, kening tiga kerut itu mengendur jadi satu, lalu hilang sama sekali.
"Oke," katanya pelan. "Aku berhenti ngitung."
"Bagus." Sasa berdiri, mengambil kopi dingin Reza, menyesapnya tanpa permisi, lalu meringis. "Dingin. Bikin lagi sana. Pacar kurir kok kopinya dibiarin basi."
Dan Reza, masih dengan mata sedikit basah dan senyum yang tak bisa dia tahan, beranjak ke dapur membuat kopi—merasa, untuk pertama kali sejak pertanyaan ibu Sasa menghantamnya, bahwa mungkin dia memang sudah berdiri di tempat yang benar selama ini.