Usaha kecil mereka tidak punya nama yang gagah. Di brosur buatan Sasa cuma tertulis: Titip Hemat, Antar Aman. Bawah kasur, depan pintu, sampai depan pintumu. Tapi nama sederhana itu, dalam dua bulan, sudah hafal di lidah penghuni Graha Asri Tower B. Reza yang mengantar, Sasa yang mengatur, dan toples bekas selai di meja dapur yang jadi brankas perusahaan.
Maka ketika ponsel Sasa berbunyi siang itu dan dia menjawab dengan wajah yang perlahan berubah dari santai jadi melongo, Reza tahu ada sesuatu yang tidak biasa.
"Tunggu, tunggu, Bu. Saya catat dulu." Sasa menyambar bolpoin, menulis cepat di belakang struk belanja. "Iya. Iya. Tiga tower sekaligus? Tiap pagi? Astaga. Oke, Bu, saya bahas sama partner saya dulu, nanti saya kabarin sebelum sore. Makasih banyak, Bu Reni."
Telepon ditutup. Sasa menatap struk di tangannya seperti menatap nomor undian.
"Siapa?" tanya Reza.
"Bu Reni. Ketua paguyuban ibu-ibu tiga tower." Sasa duduk perlahan, seolah kakinya tidak percaya. "Rez. Mereka mau langganan. Rutin. Tiap pagi, jam tujuh, kita kumpulin titipan sarapan dari warung-warung sekitar, terus anter ke unit-unit yang udah pesen malam sebelumnya. Plus titip belanja sayur dari pasar tiap dua hari sekali." Dia mengangkat struk. "Bu Reni ngitung kasar, bisa lima puluh sampai tujuh puluh order tiap pagi. Rutin. Tiap hari."
Reza duduk di kursi seberang, otaknya langsung berputar seperti meteran taksi. Lima puluh order. Tiap hari. Selama ini usaha mereka paling banter sepuluh, lima belas titipan, itu pun dikerjakan Reza di sela jam kerjanya sebagai kurir Kilat Express.
"Itu... gede banget, Sas," katanya pelan.
"Itu naik kelas, Rez." Mata Sasa berbinar. "Kamu tahu artinya apa? Pemasukan tetap. Bukan lagi receh dari toples. Ini bisa jadi—" dia menahan napas, "—ini bisa jadi penghasilan beneran. Mungkin lebih dari gaji kurirmu."
Untuk sesaat ruangan kecil itu penuh kemungkinan-kemungkinan manis. Reza membayangkan toples selai yang penuh, sewa kos yang dibayar tanpa keringat dingin, mungkin tabungan yang akhirnya bisa tumbuh. Lalu, seperti kebiasaannya, otak kurirnya mulai menyusun keberatan, satu per satu, seperti menyusun kardus.
"Tapi tunggu," katanya. "Aku ini masih kerja, Sas. Jam enam udah harus apel di pos. Mana mungkin aku ngumpulin tujuh puluh sarapan dari warung jam tujuh sambil mikirin tujuh belas paket Kilat Express. Aku bukan dua orang."
Sasa mengetuk-ngetuk bolpoin ke meja, keningnya berkerut, tapi bukan kerut menyerah. Kerut berpikir. "Berarti kita butuh tangan tambahan."
"Tangan tambahan butuh dibayar."
"Tangan tambahan juga ngerjain order yang ngehasilin duit buat bayar dia." Sasa membalik struk, mulai mencoret-coret angka. "Coba kita itung membumi dulu. Jangan kalap, jangan juga ciut. Berapa harga jasa per titipan?"
"Dua ribu. Murah biar orang mau."
"Tujuh puluh kali dua ribu. Seratus empat puluh ribu sehari. Sebulan kerja dua puluh enam hari—" Sasa mengetik di kalkulator ponsel, lalu mengangkat layarnya, "—tiga juta enam ratus. Kotor. Belum dipotong bensin, belum dipotong gaji tangan tambahan."
Reza menatap angka itu. Bukan angka yang akan membuat mereka kaya. Tapi membumi, masuk akal, dan—untuk seorang kurir yang biasa menghitung receh—terasa nyata. "Kalau aku rekrut satu orang, gaji harian, dia yang ngumpulin sarapan pagi pas aku lagi narik paket, aku yang ambil alih sore pas pulang—"
"—dan aku yang ngatur order, nyatet, sama bikin jadwal," sambung Sasa, mata mereka bertemu di tengah kalimat, dan keduanya tersenyum, ide yang sama persis muncul bersamaan.
Cimol, dari atas lemari, mengeong skeptis, seolah memperingatkan bahwa angka di kertas dan kenyataan di lapangan adalah dua jenis kucing yang berbeda.
"Tapi aku nggak mau gegabah," kata Reza, menahan dirinya sendiri. "Kita pernah kena order palsu, kita pernah kena sabotase. Naik kelas kedengeran enak, tapi makin gede usaha, makin gede juga yang bisa rusak."
"Makanya kita nggak loncat sekaligus." Sasa melingkari satu angka di struknya. "Kita ambil, tapi pelan. Minggu pertama kita batasi dulu, sanggupnya berapa. Kita rekrut satu orang yang emang bisa dipercaya. Kalau lancar, baru kita tambah." Dia menatap Reza. "Setuju?"
Reza memandang struk penuh angka itu, lalu memandang Sasa yang matanya bersinar bukan oleh keserakahan, tapi oleh harapan yang terukur. Dia teringat ucapan Sasa di balkon: berhenti ngitung jarak. Ini bukan jarak yang menjauhkan. Ini jembatan.
"Setuju," katanya. Lalu, dengan seringai kecil, "Tapi toplesnya kita ganti yang lebih gede. Yang sekarang udah nggak muat."
Sasa tertawa, dan untuk pertama kalinya, tawa itu terdengar seperti tawa seorang pengusaha—kecil, hemat, tapi mulai berani bermimpi.