Hari pertama kontrak besar itu nyaris menamatkan mereka sebelum jam delapan pagi.
Reza, dengan logika optimistis yang khas, mengira mengumpulkan empat puluh sarapan dari tiga warung berbeda dan mengantarkannya ke empat puluh pintu sebelum jam tujuh tiga puluh adalah hal yang bisa dia selipkan sebelum apel pos. Dia salah. Sangat salah. Pada order kedua puluh tiga, dia sudah mandi keringat, salah satu bungkus nasi uduk tumpah di tas, dan ponselnya tak berhenti berbunyi oleh Sasa yang panik di pusat komando alias meja dapur.
"Rez, unit 0712 nanya pesenannya mana, dia udah mau berangkat kerja!"
"Lagi di lift, Sas! Liftnya penuh anak sekolah!"
"Unit 1105 ralat, dia mau lontong bukan nasi kuning!"
"YA AMPUN."
Pada akhirnya, empat order terlambat, satu salah kirim, dan Reza tiba di pos Kilat Express terlambat sebelas menit—disambut tatapan Bang Topan dan kumisnya yang berkedut bahaya. Hari itu Reza mengantar paketnya dengan punggung pegal ganda dan kesadaran tunggal: mereka tidak bisa begini terus. Sasa benar. Mereka butuh tangan tambahan, kemarin.
Calonnya sebenarnya sudah ada di depan mata, hanya butuh keberanian untuk menawari.
Namanya Mas Heri, penghuni unit 0610, dua tahun lebih tua dari Reza. Dulu kerja di pabrik, kena pemutusan hubungan kerja enam bulan lalu, sejak itu serabutan—kadang jadi ojek, kadang nguli, kadang menganggur. Istrinya jualan gorengan di lobi sore hari. Reza tahu cerita mereka karena Mas Heri sering menemaninya ngobrol di pos satpam, ditemani Pak Karyo dan teka-teki silangnya.
Reza dan Sasa mendatangi unit 0610 malam itu, membawa serius dan sedikit gugup.
"Mas Heri," Reza memulai, setelah basa-basi secukupnya. "Saya mau nawarin kerjaan. Bukan gede, jujur. Tapi tetap."
Dia menjelaskan semuanya apa adanya—gaji harian, jam kerja pagi, sistem bagi yang masih sederhana, dan kejujuran bahwa usaha ini baru, bisa goyang, tidak ada jaminan. Reza memutuskan sejak awal dia tidak akan menjual mimpi yang tidak bisa dia tepati. Anak kos paling tahu rasanya dibohongi janji manis.
"Saya nggak mau bohong, Mas," kata Reza. "Ini usaha kecil. Belum tentu langgeng. Tapi kalau Mas mau, kita jalan bareng. Untungnya kita bagi adil. Ruginya kita tanggung bareng juga, sebisa kita."
Mas Heri terdiam lama. Istrinya, yang menguping dari dapur, mengintip dengan mata berkaca. Lalu Mas Heri mengulurkan tangan, kapalan dan kuat.
"Saya udah enam bulan ditolak kerjaan, Rez. Yang nawarin saya kerja malah anak yang lebih muda, dan dia ngomong jujur soal risikonya, bukan ngiming-ngimingin." Suaranya serak. "Saya ikut. Kapan mulai?"
"Besok, jam setengah enam pagi," kata Sasa cepat, sudah dengan jadwal di tangan. "Saya udah bikin daftar warung, daftar unit, sama rute paling efisien. Mas Heri pegang pengumpulan sarapan, Reza ambil alih order sore sama belanja pasar pas dia pulang narik. Saya pusat komando."
Mas Heri menerima kertas jadwal itu seperti menerima ijazah. "Rapi banget. Ini yang bikin?"
"Pacar saya," kata Reza, dan entah kenapa kalimat dua kata itu membuat dadanya hangat. "Dia desainer. Otaknya lebih rapi dari rute Kilat Express."
Sasa mendengus, tapi telinganya memerah, dan Reza menyimpan detail itu seperti dulu.
Hari kedua berjalan lebih lancar. Tidak sempurna—masih ada satu pesanan tertukar dan satu warung yang lambat—tapi Mas Heri ternyata cekatan, hafal wajah orang, dan punya kesabaran yang lebih panjang dari Reza pada ibu-ibu yang ralat pesanan tiga kali. Pada hari kelima, mereka sudah menyelesaikan semua order sebelum jam tujuh empat puluh, dan Reza tiba di pos tepat waktu, disambut Bang Topan yang hanya menggeram tanpa kata.
Malam itu, di meja dapur unit 0905, mereka menghitung pemasukan minggu pertama. Toples baru—yang lebih besar—berisi lebih banyak dari yang berani mereka harapkan. Setelah dipotong gaji harian Mas Heri dan bensin, masih ada sisa yang masuk akal untuk dibagi.
"Kita baru aja jadi bos, Rez," kata Sasa, menatap toples dengan campuran takjub dan waspada.
"Bos kecil," koreksi Reza. "Bos yang masih ngitung pakai struk belanja."
"Bos yang adil," kata Sasa pelan, menatapnya. "Itu yang penting. Mas Heri dibayar duluan sebelum kita ambil bagian. Aku suka itu."
Reza mengangguk. Dia ingat wajah Mas Heri saat menerima upah hari pertamanya—wajah orang yang sudah lama tidak merasa berharga. Dan Reza menyadari, jadi bos kecil bukan soal punya kuasa. Soal punya tanggung jawab atas hidup orang lain yang sekarang ikut bergantung padanya.
Tanggung jawab itu menakutkan. Tapi malam itu, menatap toples yang lebih penuh dan Sasa yang tersenyum lelah di seberang meja, Reza merasa takut yang manis—takut orang yang punya sesuatu untuk dijaga.