Masalahnya dengan sukses kecil adalah ia mengundang lebih banyak tangan—dan lebih banyak tangan berarti lebih banyak drama.
Dalam tiga minggu, order tumbuh dari empat puluh menjadi enam puluhan, dan Mas Heri seorang tidak cukup. Maka direkrutlah dua orang lagi: Yanti, ibu muda dari tower sebelah yang butuh penghasilan sambil anaknya sekolah, dan Pras, mahasiswa kos di lantai tiga yang butuh uang jajan tambahan. Tiga rekrut, satu bos kurir, satu bos pusat komando, dan satu toples yang sekarang berisi uang yang tidak lagi bisa dianggap receh.
Dan di situlah drama-drama receh bermekaran seperti jamur musim hujan.
Drama pertama: pembagian rute. Pras, dengan semangat mahasiswa yang ingin selesai cepat untuk kuliah, ngebut dan asal, sehingga dua kali salah unit. Yanti, sebaliknya, teliti tapi lambat, dan ngambek diam-diam karena merasa Pras dapat rute lebih sedikit tapi bayaran sama.
"Kok aku dapet lantai lima sampai dua belas, dia cuma lantai satu sampai empat?" protes Yanti suatu pagi, suaranya manis tapi matanya tidak.
Reza, yang baru sadar bahwa memimpin orang ternyata seratus kali lebih rumit daripada mengantar paket, berusaha menengahi dengan logika kurir. "Lantai satu sampai empat order-nya lebih banyak, Mbak Yanti. Lantai lima ke atas lebih sedikit tapi lantainya tinggi. Jadi sebenernya seimbang."
"Seimbang menurut siapa?"
Pertanyaan itu menampar Reza. Menurut siapa, memang? Dia mengarang sistem pembagian itu di kepalanya sambil menyetir motor. Tidak ada yang tertulis, tidak ada yang transparan, jadi wajar setiap orang merasa porsinya kurang.
Malam itu dia mengeluh pada Sasa. "Aku bisa ngangkat lemari, Sas. Aku bisa nyetir motor di hujan badai. Tapi nyuruh tiga orang dewasa biar nggak iri-irian, aku nyerah."
Sasa, yang sedang menggambar sesuatu di tablet, malah tersenyum kecil. "Karena kamu ngira mimpin itu sama kayak ngirim paket. Padahal beda. Paket nggak punya perasaan. Orang punya."
"Terus gimana?"
"Bikin transparan." Sasa memutar tablet, menunjukkan sebuah tabel sederhana berwarna yang baru dia rancang. "Aku bikin papan jadwal. Tiap orang bisa liat dapet rute apa, dapet berapa order, dibayar berapa. Semua kebuka. Kalau ada yang ngerasa nggak adil, kita itung bareng di depan papan, bukan di belakang. Iri itu tumbuh di tempat gelap, Rez. Kasih lampu, dia layu sendiri."
Reza menatap tabel itu—rapi, jelas, dengan kolom yang membuat semua angka tidak bisa bersembunyi. Dia teringat ucapan Sasa dulu soal galak yang tumbuh karena takut. Iri ternyata mirip. Tumbuh dari ketidaktahuan.
Papan jadwal itu dipasang keesokan harinya, dicetak di kertas biasa dan ditempel di pintu kulkas unit 0905 yang jadi kantor dadakan. Hasilnya tidak instan, tapi nyata. Yanti, melihat hitungannya hitam di atas putih, mengakui porsinya memang adil dan malah minta maaf. Pras, yang namanya tercatat dua kali salah unit, jadi lebih hati-hati karena malu tercatat.
Drama kedua: bagi hasil. Pras berargumen mahasiswa, jadi butuh fleksibel. Mas Heri berargumen punya anak, jadi butuh tetap. Yanti diam-diam membandingkan dengan gorengan istri Mas Heri yang sekarang ikut dititip-antar lewat usaha mereka.
Reza, dengan kepala mulai pening, hampir memutuskan asal. Tapi Sasa menariknya duduk.
"Bos yang baik itu bukan yang nyenengin semua orang, Rez," katanya. "Itu mustahil. Bos yang baik itu yang aturannya jelas dan sama buat semua. Kita tentuin satu sistem: bayaran per order yang diselesaikan, plus bonus kecil kalau zero komplain seminggu. Siapa pun, tua muda, anak kuliah atau bapak-bapak, aturannya sama. Yang kerja lebih banyak, dapat lebih banyak. Titik."
"Nanti ada yang protes."
"Pasti ada. Tapi protes ke aturan yang jelas lebih gampang dijawab daripada protes ke aturan yang kamu karang-karang tiap hari." Sasa menatapnya. "Kamu inget waktu Bang Topan negur kamu? Dia galak, tapi adil. Aturannya jelas. Makanya kamu hormat sama dia, walau takut. Jadi bos yang kayak gitu."
Reza tertawa. "Aku jadi Bang Topan kecil, dong."
"Bang Topan tanpa kumis," kata Sasa, dan Cimol mengeong setuju dari atas lemari.
Sistem itu diterapkan, dan ajaibnya, drama mereda. Bukan hilang—Pras tetap ngebut, Yanti tetap teliti, dan suatu pagi mereka nyaris bertengkar soal siapa yang menumpahkan kuah soto di tas. Tapi sekarang ada aturan untuk menengahi, ada papan untuk merujuk, dan ada Reza yang pelan-pelan belajar bahwa memimpin bukan soal jadi yang paling kuat mengangkat, melainkan jadi yang paling adil membagi.
Malam itu, menghitung order minggu ketiga, Reza menyadari sesuatu yang membuatnya terdiam. Tiga keluarga sekarang ikut makan dari usaha kecil yang berawal dari salah baca angka di sebuah stiker paket. Tiga keluarga yang dapurnya sedikit lebih ngebul karena dia dulu salah membaca 1308 jadi 1208.
"Lucu, ya," gumamnya. "Semua ini gara-gara aku nggak bisa baca angka."
Sasa menyandar di bahunya, lelah dan hangat. "Untung kamu nggak bisa baca angka. Coba kalau kamu bener, kita nggak pernah ketemu."
Reza tersenyum, menumpukkan kepalanya di atas kepala Sasa, dan untuk sesaat membiarkan toples penuh dan papan jadwal di kulkas menjadi bukti diam bahwa kesalahan kecil, di tangan yang tepat, bisa tumbuh jadi sesuatu yang menghidupi banyak orang.