Reza seharusnya tahu kedamaian tidak pernah bertahan lama di kisahnya. Selalu ada paket tak terduga yang datang, dan kali ini, paket itu berbau parfum menyengat yang sudah lama tidak tercium.
Tanda pertama datang dari Bu Reni, ketua paguyuban, yang menelepon Sasa dengan nada hati-hati. "Sasa, ini Ibu nggak enak nanya, tapi... bener nggak usaha kalian itu pernah kena masalah penipuan? Ada yang bilang di grup warga, katanya pesanan kalian sering hilang, terus duitnya nggak jelas, terus—maaf ya—katanya kamu sama Reza ini cuma cari untung doang dari ibu-ibu."
Sasa mengerutkan kening, ponselnya diletakkan ke speaker supaya Reza ikut mendengar. "Siapa yang bilang gitu, Bu?"
"Ada akun baru di grup warga. Namanya nggak jelas. Tapi dia ngirim screenshot-screenshot, kayaknya sih beneran, soal order yang batal sama duit yang katanya nggak balik." Bu Reni terdengar tidak nyaman. "Ibu sih percaya kalian, tapi banyak ibu-ibu yang jadi ragu, Sas. Apalagi pas dia bilang Reza ini dulu pernah kena komplain pas masih kurir, sampe hampir dipecat."
Reza dan Sasa saling menatap. Tidak perlu detektif untuk mencium siapa di balik ini. Screenshot komplain lama, pengetahuan soal nyaris dipecatnya Reza, kebencian yang dikemas jadi kepedulian—semua menunjuk satu arah seperti jarum kompas.
"Bagas," kata Reza pelan, setelah telepon ditutup.
"Bagas," ulang Sasa, rahangnya mengeras. "Sabotase order halus dia gagal. Tawaran investasi liciknya kita tolak. Sekarang dia main kasar. Fitnah."
Reza menarik napas panjang, menahan amarah yang naik. Yang membuatnya marah bukan serangan ke dirinya—dia sudah biasa diragukan, anak kos memang akrab dengan diremehkan. Yang membuatnya marah adalah serangan ke Sasa, ke usaha yang mereka bangun dengan keringat, ke tiga keluarga yang dapurnya bergantung pada nama baik mereka.
"Dia nyerang nama kita, Sas," kata Reza. "Dan nama kita itu modal usaha kita. Kalau ibu-ibu nggak percaya, mereka berhenti pesen, terus Mas Heri, Yanti, Pras nggak ada kerjaan. Ini bukan cuma soal kita berdua lagi."
Sasa berjalan mondar-mandir di ruangan kecil itu, Cimol mengikuti gerakannya dengan mata waspada. "Aku mau ke grup warga sekarang, aku bantai akun palsu itu sampe—"
"Jangan." Reza menahan lengannya. "Itu yang dia mau, Sas. Dia mau kita marah, ribut, emosi di depan ibu-ibu. Kalau kita ngamuk di grup, di mata mereka kita yang keliatan kayak penjahat. Inget waktu komplain palsu pertama? Kita menang bukan karena teriak, tapi karena bukti."
Sasa berhenti, napasnya berat, tapi logika Reza menembus amarahnya. Dia duduk perlahan. "Kamu bener. Aku kepancing. Lagi-lagi dia bikin aku kepancing."
"Karena kamu peduli sama usaha ini. Itu bukan kelemahan." Reza berlutut di depannya, menggenggam kedua tangannya. "Tapi dengerin. Kita punya yang Bagas nggak punya. Kita punya bukti. Tiap order kita catat, di papan jadwal yang kamu bikin, sampe detail. Kita punya struk, punya nota, punya nama-nama ibu yang puas. Bagas punya screenshot setengah-setengah dan akun palsu. Kita lawan dia di lapangan yang kita kuasai: kejujuran yang bisa dibuktiin."
Sasa menatapnya, dan amarah di matanya perlahan berubah jadi sesuatu yang lebih dingin dan terarah. "Bu Reni bilang ada forum warga bulanan minggu depan. Semua perwakilan unit kumpul, bahas urusan apartemen."
"Di situ," kata Reza. "Kita nggak sembunyi, kita nggak balas fitnah pakai fitnah. Kita dateng, kita buka semua catatan, kita biarin ibu-ibu liat sendiri mana yang bohong. Kalau Bagas berani, suruh dia dateng juga, hadap-hadapan."
Sasa menarik napas, lalu mengangguk, ketegasan lamanya kembali—tapi kali ini ketegasan yang terkendali, bukan amarah membabi buta. "Oke. Tapi malam ini aku mau ngecek semua catatan kita, dari awal, sampe nggak ada satu pun celah yang bisa dia colek."
Mereka menghabiskan malam itu membongkar toples, menyusun struk, mencocokkan setiap order dengan setiap pembayaran, sampai kertas-kertas memenuhi lantai dan Cimol tidur di atas tumpukan nota seperti penjaga arsip. Lelah, tapi mereka tahu mereka sedang menyiapkan benteng.
Menjelang tengah malam, Sasa berhenti, menatap Reza yang sedang menstabilo angka di buku catatan. "Rez. Kamu nggak takut?"
Reza mengangkat wajah. "Takut. Tapi aku lebih takut diem terus kita kalah tanpa ngelawan." Dia tersenyum lelah. "Lagian, kita udah pernah ngadepin macan." Dia menunjuk Sasa dengan stabilo. "Bagas cuma kucing kampung yang sok galak."
Sasa melempar bantal sofa ke wajahnya, tapi dia tertawa—tawa pertama malam itu—dan di luar, malam yang tadinya terasa mengancam mulai terasa seperti malam sebelum pertarungan yang mereka tahu bisa mereka menangkan.