Aula serbaguna di lantai dasar Tower B tidak dirancang untuk drama. Lampu neonnya remang, kursi plastiknya berderit, dan di dindingnya tergantung jam yang sudah mati di angka empat sejak entah kapan. Tapi malam itu, aula sederhana itu jadi ruang sidang—dan Reza, duduk di barisan depan dengan map berisi seluruh catatan usaha mereka, merasa perutnya melilit seperti hari pertama dia menghadap Bang Topan.
Sasa duduk di sampingnya, tenang di luar tapi Reza tahu jemarinya dingin. Mas Heri, Yanti, dan Pras duduk di belakang, datang sukarela sebagai saksi. Bu Reni memimpin forum dari meja depan.
Dan di sudut belakang, bersandar dengan gaya santai yang dibuat-buat, parfum menyengat sampai barisan tengah—Bagas. Dia datang. Tentu saja dia datang. Orang yang ingin mempermalukan butuh penonton dan butuh hadir untuk menikmatinya.
Setelah agenda rutin selesai, Bu Reni berdeham. "Baik, ada satu hal yang... beberapa warga resah. Soal jasa titip-antar yang dikelola Sasa dan Reza. Ada tudingan yang beredar di grup. Biar fair, malam ini saya kasih kesempatan semua pihak ngomong. Yang nuduh, silakan. Yang dituduh, silakan jawab."
Bagas berdiri lebih dulu, tersenyum ramah palsu yang membuat Reza ingin meninju, tapi Reza menahan tangannya di pangkuan. "Saya cuma prihatin, Bu-bu," kata Bagas, suaranya selembut madu beracun. "Saya kebetulan kenal lama sama Sasa. Saya cuma nggak mau ibu-ibu di sini ditipu. Reza ini, maaf ya, dulu kurir yang hampir dipecat gara-gara komplain. Saya punya buktinya." Dia mengangkat ponsel, menampilkan screenshot ulasan satu bintang lama. "Orang yang track record-nya kayak gini, dipercaya pegang duit ibu-ibu tiap hari? Saya cuma mengingatkan."
Beberapa ibu berbisik. Tatapan mulai berpindah ke Reza, ragu. Reza merasakan panas merambat ke wajahnya—malu lama, malu anak kos yang selalu dianggap kurang, hampir menelannya. Tapi lalu dia merasakan tangan Sasa menggenggam tangannya di bawah meja, erat, satu kali, seperti berkata: ingat rencana.
Reza berdiri. Tidak buru-buru. Dia membuka mapnya.
"Bener, Bu," katanya, dan keterusterangan itu membuat seisi ruangan terdiam, kaget. "Dulu saya pernah kena komplain. Satu bintang. Saya salah baca nomor unit, saya antar paket ke orang yang salah, terus saya tinggal di depan pintu. Itu kesalahan saya, dan saya nggak mau pura-pura nggak pernah." Dia menatap ibu-ibu satu per satu. "Tapi tahu nggak, Bu, orang yang dulu saya bikin marah itu siapa?"
Dia menoleh ke Sasa. Sasa berdiri.
"Saya," kata Sasa jelas. "Saya yang kasih dia satu bintang. Saya yang nulis komplain paling pedas. Dan sekarang saya partner usahanya, dan—" dia menarik napas, "—pacarnya. Karena setelah dia salah, dia balik, dia minta maaf, dia ngambil tanggung jawab, dia benerin semuanya sampe tuntas. Itu yang dia lakuin tiap kali salah. Bukan ngeles. Bukan kabur."
Bagas membuka mulut, tapi Reza sudah melanjutkan, mengeluarkan tumpukan kertas dari mapnya.
"Soal duit yang katanya nggak jelas," kata Reza, membagikan fotokopi ke barisan depan. "Ini catatan semua order kami, dari hari pertama, sampai hari ini. Tanggal, nama unit, pesanan, harga, pembayaran, semua ada. Bu Reni, Ibu boleh cocokkan dengan yang Ibu pesan kemarin. Ibu Sari di 0807, yang minggu lalu uangnya kembalian kurang dua ribu—itu kelalaian kami, dan kami udah ganti tiga ribu plus minta maaf, tertulis di sini, ada tanda tangan Ibu Sari." Dia menatap Bagas. "Yang nuduh punya screenshot setengah-setengah dari akun yang namanya nggak jelas. Kami punya catatan utuh dengan nama dan tanda tangan asli. Silakan ibu-ibu nilai sendiri mana yang berani buka semua, mana yang ngumpet di balik akun palsu."
Hening. Lalu suara kertas yang dibalik-balik, ibu-ibu mencocokkan catatan dengan ingatan mereka sendiri, mengangguk-angguk.
Reza tidak meninggikan suara sekali pun. Dia tidak menyebut Bagas penjahat, tidak membalas fitnah dengan fitnah. Dia hanya meletakkan kebenaran di atas meja dan membiarkannya berbicara—persis seperti yang dia dan Sasa rencanakan semalaman di antara tumpukan struk.
"Saya nggak minta ibu-ibu percaya saya karena saya orang baik," tutup Reza, suaranya tenang. "Saya minta ibu-ibu percaya catatan ini, dan pelayanan kami selama ini. Kalau ada satu aja yang ngerasa dirugiin, sebut sekarang, di depan semua orang, saya tanggung jawab malam ini juga."
Tidak ada yang bersuara menuduh. Yang ada, dari barisan tengah, seorang ibu mengangkat tangan—bukan untuk menuduh.