Ibu yang mengangkat tangan itu adalah sosok mungil berkacamata yang Reza kenal betul: Bu Hartini. Nenek penyuka tanaman dari unit 1308—pemilik asli paket pupuk yang dulu salah dia antar, yang tanpa sengaja menyalakan seluruh kisah ini. Pelanggan pertama jasa titip mereka, dulu.
"Saya boleh ngomong?" suaranya pelan tapi jernih, dan seisi aula otomatis menghormati usianya dengan diam.
Bu Reni mempersilakan.
"Saya ini tua, mata saya udah nggak awas, kaki saya susah turun ke pasar." Bu Hartini berdiri perlahan, dibantu kursi. "Sejak ada anak ini—" dia menunjuk Reza, "—dan jasa titipnya, tiap dua hari ada yang belanjain sayur buat saya, ditata rapi, kembaliannya pas, kadang malah dikasih lebih, dilebihin daun salam karena tahu saya suka. Pernah suatu hari hujan deras, pesanan saya telat, dan anak ini—" sekarang dia menunjuk Mas Heri, "—naik sembilan lantai jalan kaki karena listrik mati, cuma biar belanjaan saya nggak basah." Dia menatap berkeliling. "Penipu itu nggak repot-repot naik tangga buat nenek-nenek. Penipu itu kabur waktu hujan, bukan jalan kaki sembilan lantai."
Beberapa ibu mengangguk. Suasana mulai bergeser, seperti angin yang berbalik arah.
Lalu dari pintu aula, terdengar suara berat dan santai. "Boleh nambahin, Bu Reni?"
Pak Karyo, satpam lobi, masuk masih dengan seragamnya, memegang—tentu saja—buku teka-teki silang yang terlipat di ketiak. Dia jarang ikut forum, tapi malam ini dia datang.
"Saya yang jaga lobi tiap hari," kata Pak Karyo. "Saya liat semuanya. Dari pagi buta anak-anak ini udah ngumpulin titipan, ngangkutin sarapan, ngejar lift. Dan saya juga—" dia berhenti, melirik tajam ke arah Bagas, "—saya juga inget muka. Saya inget siapa yang dulu sering bikin ribut di koridor lantai sembilan. Saya inget parfum yang sama. Dan saya inget, beberapa minggu lalu, ada orang yang nitipin amplop ke saya buat 'disebar ke grup warga'. Saya tolak, karena saya nggak suka main belakang." Dia menatap lurus ke Bagas. "Mukanya mirip yang berdiri di pojok sana, Bu."
Seluruh aula menoleh ke Bagas. Wajah Bagas, yang tadi tenang penuh kemenangan, mulai memucat.
"Itu—itu fitnah," kata Bagas, suaranya tak lagi sehalus madu. "Saya cuma warga yang peduli—"
"Warga?" potong Bu Reni, mengangkat berkas yang barusan dia cek. "Maaf ya, Mas. Anda tinggal di unit mana? Kok di daftar penghuni nggak ada nama Anda. Anda bukan warga sini."
Hening yang berbeda jatuh ke ruangan. Hening yang mulai berpihak.
Reza tidak berkata apa-apa. Dia hanya berdiri di samping Sasa, membiarkan orang-orang yang pernah dia layani dengan jujur berbicara untuknya. Dan dia menyadari sesuatu yang membuat tenggorokannya tercekat: selama berbulan-bulan, dia mengira dia hanya mengantar sarapan dan sayur. Ternyata, tanpa sadar, dia telah menanam sesuatu yang lebih—kepercayaan, kebaikan kecil yang dicatat orang-orang dalam hati mereka, lalu dikembalikan tepat ketika dia membutuhkannya.
Sasa menyenggol lengannya, dan saat Reza menoleh, mata Sasa berkaca-kaca. "Kamu liat, Rez?" bisiknya. "Ini semua kamu yang tanam. Daun salam yang kamu lebihin. Tangga yang Mas Heri naikin. Semua balik sekarang."
Yanti, dari belakang, ikut bicara dengan suara gemetar, menceritakan bagaimana usaha kecil ini memberinya penghasilan untuk anaknya sekolah. Pras menambahkan soal uang kuliahnya. Satu per satu, suara-suara membela, bukan karena diminta, tapi karena merasa berutang kejujuran pada orang yang telah jujur pada mereka.
Bu Reni mengetuk meja pelan, menutup perdebatan. "Saya rasa cukup jelas, ya, Ibu-Bapak. Saya pribadi, dan paguyuban, tetap mempercayakan jasa titip ini ke Sasa dan Reza. Catatannya jelas, pelayanannya terbukti." Dia menatap ke pojok, ke tempat Bagas berdiri. "Dan untuk Mas yang bukan warga sini—saya rasa Anda nggak punya urusan lagi di forum ini."
Reza menarik napas panjang, beban berat yang menggantung sejak telepon Bu Reni minggu lalu perlahan terangkat. Tapi saat matanya menangkap wajah Bagas di pojok—wajah yang dipermalukan, tapi juga wajah yang menyimpan sesuatu yang dingin—Reza tahu, dengan firasat seorang yang sudah pernah salah membaca tanda, bahwa ini belum benar-benar selesai.