Forum bubar dengan suasana yang hangat di sisi Reza dan dingin di sisi Bagas. Ibu-ibu menyalami Sasa, menepuk bahu Reza, beberapa langsung memesan titipan untuk besok pagi seolah ingin menegaskan kepercayaan mereka. Mas Heri tertawa lega, Yanti mengusap mata, Pras sibuk memotret papan catatan untuk kenang-kenangan. Bu Hartini menggandeng lengan Reza pulang ke lift, mengoceh soal begonia barunya.
Tapi Reza, di balik senyumnya, terus memperhatikan satu sudut. Bagas tidak langsung pergi. Dia berdiri di dekat pintu, menerima tatapan-tatapan tidak suka dengan rahang mengeras, dan menunggu—jelas menunggu sampai aula sepi.
Sasa juga menyadarinya. "Aku temenin kamu," bisiknya.
"Nggak usah," kata Reza pelan. "Bawa Bu Hartini ke lift dulu. Aku mau ngomong sama dia. Berdua. Laki sama laki. Sekali ini aja."
Sasa ragu, menatapnya lama, lalu mengangguk. "Lima menit. Lebih dari itu aku turun lagi bawa Cimol buat nyakar dia."
Reza tersenyum kecil, lalu berjalan menghampiri Bagas yang berdiri sendirian di antara kursi-kursi plastik yang berantakan.
Untuk sesaat, dua laki-laki itu hanya saling menatap. Yang satu rapi, wangi, kaya, dan kalah. Yang satu lelah, sederhana, pas-pasan, dan—malam ini—menang.
"Puas kamu?" kata Bagas akhirnya, suaranya rendah, kehilangan semua kepura-puraan ramahnya. "Mempermalukan aku di depan ibu-ibu sok peduli itu."
"Aku nggak mempermalukan kamu, Gas," kata Reza tenang. "Aku cuma buka catatan. Yang mempermalukan kamu itu fitnah kamu sendiri yang ketauan." Dia menghela napas. "Aku nggak ngerti. Kenapa sih kamu segini bencinya? Sasa udah pindah, udah move on, udah punya hidup sendiri. Kenapa nggak kamu lepasin aja?"
Sesuatu retak di wajah Bagas—bukan amarah, tapi sesuatu yang lebih getir. "Karena kamu," desisnya. "Karena kamu kurir. Karena kamu nggak punya apa-apa. Dan dia milih kamu. Dia milih orang yang gajinya seperlima gajiku, yang kosnya petak, yang motornya butut. Tahu nggak gimana rasanya, dikalahin sama orang kayak kamu?"
Reza terdiam sejenak. Dan, anehnya, di tengah semua amarah yang berhak dia rasakan, yang muncul justru sesuatu yang mirip kasihan.
"Kamu salah, Gas," kata Reza pelan. "Sasa nggak milih aku karena aku punya lebih sedikit dari kamu. Dia milih aku karena aku ngasih lebih banyak dari kamu. Bukan duit. Tapi hadir. Benerin atap waktu dia butuh. Bawain makan waktu dia laper. Nemenin di klinik waktu ibunya sakit." Dia menatap mata Bagas. "Kamu punya semua yang aku nggak punya, dan kamu masih kalah. Itu bukan karena aku hebat. Itu karena kamu, dengan semua yang kamu punya, nggak pernah repot ngasih satu pun ke dia."
Bagas membuka mulut, tapi tidak ada kata yang keluar. Untuk pertama kalinya, dia tampak benar-benar kehilangan kata.
"Berhenti, Gas," kata Reza, suaranya tanpa kemenangan, hanya lelah dan jujur. "Bukan demi aku. Demi kamu sendiri. Kamu ngabisin energi sebanyak ini buat ngancurin orang, energi yang bisa kamu pake buat benerin hidup kamu sendiri. Itu rugi banget. Bahkan buat orang sekaya kamu."
Bagas menatapnya lama. Sesuatu berkelebat di matanya—mungkin sadar, mungkin makin benci, Reza tidak bisa membacanya. Lalu Bagas tertawa pendek, tawa pahit, dan mengambil jas yang tersampir di kursi.
"Bagus banget pidatonya, kurir," katanya, berjalan ke pintu. Lalu dia berhenti, menoleh, dan untuk sekejap senyum dinginnya kembali. "Tapi jangan kira ini selesai. Kalian pikir menang malam ini karena beberapa nenek dan satpam bela kalian. Lihat aja nanti. Aku masih punya satu cara. Cara yang bikin kalian nggak akan ketawa lagi."
Dan dengan kalimat menggantung itu, Bagas melangkah keluar, parfumnya memudar pelan di lorong, meninggalkan Reza sendirian di aula yang berantakan dengan firasat tidak enak yang menempel seperti lakban.
Reza berdiri diam beberapa saat. Dia menang malam ini. Nama mereka bersih, kepercayaan ibu-ibu utuh, usaha mereka aman. Tapi ancaman terakhir Bagas itu—dingin, spesifik, penuh percaya diri—membuat kemenangan terasa seperti jeda, bukan akhir.
Saat dia naik lift menuju lantai sembilan, ponselnya bergetar. Sasa, tentu saja: "Udah lima menit lebih. Aku udah pegang Cimol. Cepetan naik atau aku turun beneran." Reza tersenyum lelah, mengetik balasan, dan memutuskan—untuk malam ini—menyimpan firasat buruk itu sendiri dulu. Sasa berhak menikmati satu malam kemenangan tanpa bayangan. Besok, mereka akan bersiap lagi. Selalu ada paket berikutnya.