Ancaman terakhir Bagas menggantung di kepala Reza selama berhari-hari seperti awan yang tak kunjung hujan. Tapi hidup, seperti biasa, tidak menunggu satu masalah selesai sebelum mengirim kejutan berikutnya—dan kejutan kali ini datang dari arah yang sama sekali tak Reza duga.
Pagi itu di pos Kilat Express, suasana tidak seperti biasa. Para kurir berkerumun di papan pengumuman, ada yang bersiul, ada yang bertepuk tangan. Bang Topan berdiri di tengah, kumisnya terangkat oleh senyum lebar yang langka.
"REZA!" teriaknya begitu melihat Reza masuk. "Sini, sini! Kamu nggak akan percaya."
Reza mendekat, bingung. Bang Topan menyodorkan selembar surat berkop resmi—kop kantor pusat, bukan cabang. Reza membacanya, dan butuh tiga kali baca sebelum otaknya menerima isinya.
Kantor pusat Kilat Express, dalam rangka ulang tahun perusahaan, menggelar program Kurir Teladan Nasional. Tiap cabang mengusulkan satu nama dengan kinerja, rating pelanggan, dan rekam jejak terbaik. Yang terpilih akan mendapat penghargaan, bonus, dan—Reza menahan napas di baris ini—tawaran kenaikan jabatan menjadi koordinator lapangan, dengan gaji tetap bulanan yang jauh di atas gaji kurir harian, plus tunjangan.
Dan nama yang diusulkan cabang ini, tertulis di bawah, dengan tinta tebal:
Reza.
"Aku yang ngajuin kamu," kata Bang Topan, menepuk punggung Reza sampai dia hampir tersedak. "Rating kamu tertinggi setahun terakhir. Pelanggan banyak yang nyebut nama kamu. Sejak kasus komplain palsu dulu kelar, rekam jejak kamu bersih. Kamu pantes, Rez. Pantes banget."
Reza menatap surat itu, dan untuk sesaat, dunia terasa berputar pelan. Koordinator lapangan. Gaji tetap. Tunjangan. Tidak perlu lagi menghitung receh tiap akhir bulan. Tidak perlu lagi panik kalau motor mogok atau ada kebutuhan mendadak. Sesuatu yang setahun lalu hanya berani dia impikan di lampu merah, sekarang tertulis hitam di atas putih dengan namanya.
"Bang," katanya, suaranya tercekat. "Ini... beneran?"
"Beneran, Rez! Tinggal kamu lolos seleksi pusat, tapi peluang kamu gede banget." Bang Topan menyeringai. "Bayangin, dari kurir yang dulu hampir aku pecat gara-gara salah baca angka, sekarang dicalonin jadi koordinator. Hidup emang lucu, ya."
Para kurir lain bertepuk tangan, Dian merangkul bahunya, ada yang bercanda minta traktir. Reza tersenyum, menerima selamat, tapi di balik senyumnya, otaknya yang terbiasa menghitung sudah mulai bekerja—dan menemukan sebuah keganjilan.
Koordinator lapangan. Gaji tetap. Tapi juga: jam kerja yang lebih panjang, tanggung jawab penuh, kemungkinan dipindah ke cabang lain, dan—ini yang menusuk—waktu yang nyaris habis untuk apa pun di luar pekerjaan.
Termasuk usaha kecil mereka. Termasuk pagi-pagi mengumpulkan sarapan. Termasuk Mas Heri, Yanti, Pras, yang dapurnya bergantung pada usaha yang dia dan Sasa bangun.
Senyum Reza memudar sedikit, dan Bang Topan, yang mata tuanya tajam meski kumisnya tebal, menangkapnya. "Kenapa? Harusnya kamu lompat-lompat, Rez. Ini kesempatan sekali seumur hidup."
"Iya, Bang. Saya seneng banget. Sumpah." Reza melipat surat itu hati-hati. "Cuma... saya butuh waktu mikir. Banyak yang harus saya timbang."
Bang Topan mengernyit, lalu, perlahan, ekspresinya melembut—seakan dia menebak apa yang dipikirkan Reza. "Usaha kecil kamu itu, ya?" Dia menghela napas. "Rez, dengerin om-om ini. Usaha kecil itu bagus. Tapi belum tentu langgeng. Yang ini—" dia mengetuk surat di tangan Reza, "—ini aman. Tetap. Gaji bulanan. Tunjangan. Buat orang kayak kita, yang nggak punya warisan, yang mulai dari nol, kesempatan kayak gini nggak datang dua kali."
Kata-kata Bang Topan masuk akal. Sangat masuk akal. Itu justru yang membuat Reza gelisah.
Sepanjang hari mengantar paket, surat itu seperti membakar di dalam tasnya. Setiap unit yang dia datangi, setiap tangga yang dia naiki, satu pertanyaan berputar: jalan mana yang harus dia ambil? Yang aman dan tetap, yang akan membuatnya pantas di mata dunia—dan mungkin, akhirnya, pantas di mata dirinya sendiri yang dulu merasa kurang? Atau yang berisiko tapi miliknya sendiri, yang menghidupi tiga keluarga, yang dia bangun bersama Sasa dari toples bekas selai?
Saat motornya berhenti di lampu merah—tempat dia biasa berpikir—Reza menyadari ironinya. Setahun lalu, dia tidak punya pilihan apa pun, hanya bertahan hidup. Sekarang dia punya dua jalan baik sekaligus, dan justru itu yang membuatnya pening.
Dia menatap ponselnya. Satu pesan dari Sasa: "Mas Heri lapor order besok rekor, tujuh puluh delapan. Kita beneran naik kelas, Rez. Bangga aku sama kita." Diikuti stiker Cimol yang mengacungkan jempol.
Reza menatap pesan itu lama, lalu menatap surat di tasnya. Dan dia tahu, malam ini, dia harus pulang dan membicarakan ini dengan Sasa—karena keputusan ini, seperti segala hal dalam hidupnya sejak salah baca angka itu, bukan lagi keputusannya sendirian.