Reza tidak langsung menunjukkan suratnya. Dia menunggu sampai order selesai dicatat, sampai Mas Heri dan yang lain pulang, sampai Cimol selesai makan dan menggulung di pangkuan Sasa. Dia menunggu, karena dia tahu, begitu surat itu keluar, malam akan berubah jadi sesuatu yang serius—dan dia ingin menunda keseriusan itu selama bisa.
Tapi Sasa, seperti biasa, membacanya lebih dulu. "Kamu dari tadi diem aneh," katanya, menyipitkan mata. "Tiga kerut lagi. Tapi kali ini bukan kerut duit. Ini kerut yang baru. Ada apa, Rez?"
Reza menghela napas, mengeluarkan surat dari tasnya, meletakkannya di meja dapur di antara mereka. "Aku dicalonin jadi kurir teladan. Sama Bang Topan."
Sasa membaca, dan wajahnya berseri. "Rez! Itu—astaga, ini bagus banget! Kenapa kamu nggak cerita dari—" Lalu matanya turun ke baris tentang kenaikan jabatan, gaji tetap, tunjangan, dan dia berhenti membaca. Senyumnya melambat. Dia mengangkat wajah, dan Reza tahu Sasa sudah menangkap keganjilan yang sama. "Oh."
"Iya," kata Reza pelan. "Oh."
Hening jatuh di antara mereka. Cimol mengangkat kepala, merasakan perubahan udara, lalu berpindah ke kursi kosong seakan memberi ruang.
"Koordinator lapangan," kata Sasa pelan, menatap surat. "Gaji tetap. Tunjangan. Aman." Dia menelan. "Tapi jamnya lebih panjang. Mungkin dipindah cabang. Dan—" suaranya nyaris berbisik, "—nggak ada waktu lagi buat usaha kita."
"Aku nggak bilang aku mau ambil," kata Reza cepat.
"Tapi kamu juga nggak bilang nggak mau." Sasa menatapnya, dan untuk sekali ini tidak ada galak di matanya, hanya kejujuran yang menusuk. "Dan kamu nggak salah, Rez. Ini kesempatan gede. Aman. Aku nggak mau jadi orang yang nahan kamu dari sesuatu yang bisa bikin hidupmu lebih gampang."
Reza menatap perempuan di seberang meja itu—yang tadi membela usaha mereka habis-habisan di forum warga, yang matanya berbinar tiap order memecahkan rekor, dan yang sekarang justru membuka pintu lebar-lebar untuk Reza meninggalkan semua itu kalau dia mau. Sesuatu di dadanya menghangat dan tercekat sekaligus.
"Sas," katanya. "Boleh kita ngomong jujur? Yang membumi. Bukan yang romantis, bukan yang nyenengin satu sama lain. Yang beneran."
Sasa mengangguk, mengambil bolpoin dan struk belanja—senjata lama mereka. "Ayo. Kita itung."
Dan mereka menghitung. Dua kolom di belakang struk. Kolom kiri: ambil jabatan. Pemasukan tetap, naik dua kali lipat, ada tunjangan, ada jaminan, ada masa depan yang bisa direncanakan, mungkin bahkan cukup untuk—Reza tidak menyelesaikan pikiran itu, tapi diam-diam membayangkan cincin, kontrakan berdua, hal-hal serius yang selama ini dia takut hitung. Tapi di kolom yang sama: kehilangan usaha, kehilangan waktu, tiga keluarga yang harus dia lepas, kemungkinan dipindah jauh dari Sasa.
Kolom kanan: pertahankan usaha. Tidak ada jaminan. Bisa goyang kapan saja, seperti sudah dibuktikan Bagas. Tapi miliknya sendiri. Tumbuh. Menghidupi orang lain. Dibangun berdua. Bebas.
Mereka menatap dua kolom itu lama. Tidak ada jawaban yang menyala terang. Itulah yang membuat keduanya diam.
"Aku nggak bisa mutusin ini buat kamu," kata Sasa akhirnya. "Ini hidup kamu, karier kamu. Tapi aku bisa janji satu hal." Dia meraih tangan Reza. "Jalan mana pun yang kamu ambil, aku ikut. Kamu ambil jabatan, aku jalanin usaha kita sebisaku, sambil nunggu kamu. Kamu pertahanin usaha, kita gede-gedein bareng. Aku nggak ke mana-mana, Rez. Inget? Nggak ada jarak antara kita. Aku udah di sini."
Reza menggenggam tangan itu, dan untuk sesaat, beban dua kolom itu terasa sedikit lebih ringan—bukan karena keputusannya jadi mudah, tapi karena dia tidak menanggungnya sendirian.
"Aku butuh waktu," katanya. "Seleksi pusatnya masih beberapa minggu lagi. Aku nggak mau gegabah. Dulu aku gegabah baca angka, hasilnya—" dia tersenyum tipis, "—hasilnya kamu. Jadi mungkin gegabah nggak selalu buruk. Tapi yang ini terlalu gede buat ditebak."
Sasa tersenyum kecil. "Kita itung pelan-pelan. Beberapa minggu cukup buat mikir bener-bener. Lagian," dia menyandar, lelah dan hangat, "kayaknya aku tahu kamu bakal milih jalan yang nggak ada di dua kolom ini. Kamu tipe yang nyari jalan ketiga."
"Jalan ketiga?"
"Kamu selalu gitu. Pas lemari nyangkut, kamu nggak dorong sampe rusak, kamu nggak nyerah, kamu miringin. Pas atap bocor, kamu nggak ngeluh, nggak diem, kamu lakban dulu sambil nyari solusi permanen." Sasa menatapnya penuh keyakinan yang membuat Reza merinding. "Kamu bakal nemu cara biar nggak harus milih salah satu. Aku yakin."
Reza menatap dua kolom di struk itu, lalu menatap Sasa, dan untuk pertama kalinya sejak surat itu datang, kening tiga kerutnya mengendur. Mungkin Sasa benar. Mungkin keputusannya bukan kiri atau kanan. Mungkin, seperti selalu, ada jalan yang belum dia lihat—jalan seorang kurir yang terbiasa mencari rute alternatif saat jalan utama macet.
"Kita liat nanti," katanya pelan, melipat surat dan menyelipkannya di balik toples uang—di antara masa depan yang aman dan usaha yang mereka cintai, tepat di tengah, tempat dia harus segera memutuskan. "Tapi malam ini, kita itung order besok dulu. Tujuh puluh delapan, katanya."
Sasa tertawa, dan mengeluarkan buku catatan, dan untuk malam itu mereka menunda keputusan besar demi keputusan-keputusan kecil yang membentuk hidup mereka—berapa nasi uduk, berapa lontong, rute siapa, dengan Cimol mengawasi dari kursi seperti hakim yang sabar menunggu vonis yang belum tiba.