Malam itu, meja makan kecil di unit 0905 berubah jadi ruang rapat darurat. Di atasnya tergeletak sebuah buku tulis bergaris yang sampulnya sudah keriting, satu kalkulator butut yang tombol angka tujuh-nya harus ditekan dua kali, dan toples bekas selai berisi recehan yang sudah jadi legenda di antara mereka berdua. Reza duduk bersila di lantai, Sasa di kursi, dan di tengah meja, Cimol berbaring tepat di atas buku tulis seolah dialah pemegang keputusan tertinggi.
"Cimol, geser," kata Sasa, mengangkat kucing gemuk itu dan memindahkannya ke pangkuan Reza. "Ini rapat penting. Soal masa depan kita."
Reza menelan ludah mendengar kata "masa depan kita," tapi dia berusaha terdengar profesional. "Oke. Jadi gini. Bang Topan kasih kabar resmi tadi pagi. Promosi koordinator pos itu beneran ada. Gaji pokok naik, ada tunjangan, jam kerja lebih teratur. Tapi—" dia menatap buku tulis, "—aku harus stop ngirim di lapangan. Full ngurusin tim dan jadwal."
"Berarti usaha jasa titip kita gimana?" Sasa langsung ke inti. Itu memang sifatnya; tidak suka berputar-putar.
"Nah, itu masalahnya." Reza menggaruk kepala. "Selama ini aku jalanin usaha sambil ngirim. Kalau aku jadi koordinator, waktu di lapangan hilang. Tapi gaji tetap naik. Sementara usaha kita lagi naik daun, sayang kalau ditinggal."
Sasa menarik buku tulis ke depannya, membuka halaman baru, menulis dua kolom besar dengan spidol. Di kiri: PROMOSI. Di kanan: USAHA. Dia mengetuk meja dengan ujung spidol seperti dosen yang serius. "Ayo kita itung jujur-jujuran. Jangan pakai mimpi, pakai angka."
Maka mulailah sesi paling tidak romantis sekaligus paling membuat hati Reza hangat sepanjang hidupnya. Mereka menghitung. Gaji koordinator dikurangi setoran kos, dikurangi makan, dikurangi cicilan motor yang tinggal empat bulan, dikurangi kirim untuk ibu Reza di kampung. Lalu pemasukan usaha jasa titip: berapa order rata-rata sehari, berapa untung bersih setelah dipotong bensin dan ongkos rekrut.
"Untung bersih usaha sebulan kemarin," Sasa mengetuk kalkulator, tombol tujuh ditekan dua kali, "segini. Lumayan, tapi nggak stabil. Bulan rame bisa dua kali lipat, bulan sepi bisa cuma separuh."
"Kalau promosi, gaji pasti tiap bulan. Aman." Reza mengangguk pelan. "Tapi nggak bisa gede. Mentok di situ."
"Sementara usaha bisa gede, tapi bisa juga ambruk." Sasa menyandarkan punggung, menatap dua kolom itu. "Klasik banget ya. Aman tapi kecil, atau besar tapi ngeri."
Cimol mengeong dari pangkuan Reza, lalu menjatuhkan kepalanya ke kalkulator, menekan tombol-tombol acak sampai layar menampilkan deretan angka tak berarti. Reza tertawa. "Cimol setuju semua skenario gagal."
"Serius, Rez." Sasa menatapnya, dan kali ini tidak ada galak, hanya cemas yang dia coba tutupi. "Aku nggak mau kamu ambil keputusan gara-gara aku. Kalau kamu pengen promosi karena itu impian kamu, ambil. Jangan korbanin demi usaha cuma karena aku yang ngajak mulai."
Reza meletakkan pena. Dia memandangi perempuan yang dulu, hampir setahun lalu, masih dia panggil "Mbak," yang dulu membanting pintu di depan mukanya, yang sekarang duduk di seberang meja menghitung masa depan mereka pakai kalkulator butut. Ada sesuatu yang menyesakkan dada, dalam arti yang baik.
"Sas," katanya pelan. "Dulu impian aku cuma satu: nggak kelaparan di akhir bulan. Itu doang. Anak kos nggak punya mimpi mewah, kita cuma pengen selamat sampai gajian berikutnya." Dia menarik napas. "Tapi sejak kenal kamu, mimpi aku jadi lebih panjang. Aku mulai mikir bukan cuma soal bulan ini, tapi tahun depan. Lima tahun lagi. Itu kamu yang ajarin."
Telinga Sasa memerah, tanda yang sudah Reza hafal artinya. Dia berdeham, pura-pura sibuk merapikan recehan di toples. "Jangan baper. Ini rapat keuangan."
"Iya, rapat keuangan." Reza tersenyum. "Yang dipimpin sama bos paling galak sedunia."
"Bos paling galak yang mau kamu," koreksi Sasa, lalu langsung menggigit bibir karena keceplosan.
Mereka berdua diam sebentar, dua kolom angka di antara mereka, recehan berdenting di toples saat Cimol menyenggolnya. Di luar jendela, lampu-lampu tower seberang menyala satu per satu, seperti deretan angka yang menunggu dijumlahkan.
"Aku belum bisa mutusin malam ini," kata Reza akhirnya. "Tapi besok aku harus jawab Bang Topan. Kasih aku waktu sampai pagi, ya. Aku mau mikir bener-bener. Bukan cuma pakai dompet, tapi pakai kepala."
"Dan pakai hati," tambah Sasa, menatapnya.
"Itu udah jelas hasilnya," kata Reza. "Hatinya di sini. Tinggal otaknya yang harus nyusul biar nggak nekat."
Sasa tertawa kecil, menutup buku tulis, lalu mendorong toples recehan ke tengah meja. "Buat penyemangat. Hitung dulu modal darurat kita berapa. Biar kamu tidur tenang."
Mereka menghabiskan satu jam berikutnya menghitung koin, dua kepala menunduk di bawah lampu kuning yang temaram, sesekali ribut soal koin lima ratus yang bentuknya mirip dua ribu lama. Dan meski belum ada keputusan yang diambil, Reza pulang malam itu dengan satu kepastian yang lebih berharga dari angka mana pun: apa pun yang dia pilih besok, dia tidak memilihnya sendirian.